
"Nah, sekarang masalahnya udah kelar, lanjut aja sana nonton tv nya."
" Belum selesai!" ucap Mama yang membuat aku dan Papa menoleh Mama.
" Dari tadi Mama tanya kenapa?, kok nggak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Mama, kenapa kalian begitu pada Mama?" Mama mulai kesal karena tidak ada yang menghiraukan Mama.
" Em... gimana ya.." seperti nya papa tidak ingin menceritakan yang sebenarnya.
" Apanya yang gimana?, coba jelasin dulu ke mama, apa yang terjadi?"
" Tadi....." perkataan ku terpotong.
" Biar Papa yang jelasin, kamu lanjut nonton aja " ujar Papa.
" Iya pa" balas ku.
Aku langsung duduk dan mulai menonton TV lagi, sedangkan papa menjelaskan apa yang barusan terjadi pada Mama.
Papa tidak mengatakan kepada mama kalau tamu itu makhluk halus, aku pun masih bingung apakah tamu yang tadi itu makhluk halus.
" Oh.., gitu! ya sudah, Mama mau lanjutin nonton dulu pa" ujar mama kepada papa.
...----------------...
Keesokan harinya...
" Selamat pagi semuanya" sapa buk Laila.
" Pagi Buk!!"
" Hari ini kita adakan ujian tengah semester, mari kumpulan semua buku catatan kalian, ibu harap kalian tidak menyontek ya" ucap ibu guru.
" Mampus aku!, mana semalam nggak belajar lagi" batin ku.
" Riska, muka mu pucat banget lho, pasti nggak belajar tadi malam ya kan Ris?" ujar Mauliza
" Lho, Riska..., nampak banget lho nggak belajar" sambung Azka lagi.
" Gimana nih, aku sama sekali nggak belajar...!"
" Baik lah, anak-anak langsung saja di kerjakan, ibu mau mengabsen kalian."
" Duh...! soalnya...bagus banget, ya...bagus sampai-sampai bikin kepala oleng..." ngoceh ku.
Di saat aku sedang berpikir keras, ada sebuah kertas yang terlempar ke atas ku yang tergulung-gulung.
" Aduh!!!, siapa sih yang main kertas ?" gumam ku sambil meraih kertas tersebut.
Kemudian aku membuka gulungan kertas tersebut dan menemukan beberapa jawaban dari soal ujian tengah semester itu, aku sempat terkejut lalu aku melihat di sekeliling ku, pandangan ku tertuju ke arah Wahyu.
Terlihat Wahyu tersebut ke arahku dan melanjutkan kembali mengerjakan soalnya.
" Ya ampun Wahyu.., baik banget sih kamu.." batin ku berkata.
__ADS_1
Pada saat jam istirahat.....
" Gimana?, bisa jawab soal ujiannya?" tanya Mauliza yang menghampiri ku pada jam istirahat tiba.
" Bisa dong" jawab ku singkat.
" Ah, masa sih...!" ujar Azka.
" Bohong kan?" ujar Mauliza nggak yakin.
" Memang nya muka ku ada mirip bohong gitu?."
" Ya... nggak sih."
" Yank.." tiba-tiba Nanda nyamperin kami.
" Kenapa?" tanya Mauliza.
" Kamu lupa, ya? kita kan ada janji."
" Ah, iya..guys, aku pamit dulu ya.., ada kerjaan nih!" ujar Mauliza.
" Gitulah orang pacaran" balas ku.
" Hooh, ya udah nggak papa pergi aja" ujar Azka sedikit kesal.
" Makasih, bye..., sampai ketemu habis istirahat ya."
Mauliza langsung pergi bersama Nanda ke tempat nongkrong biasa mereka meninggalkan kami berdua.
"Ris, ke kantin yuk!" pinta Azka.
" Ya udah, ayuk aku juga laper nih."
Suasana di kantin..
" Hahaha..., lucu banget ya, kamu tuh selalu nggak hati-hati" canda kami berdua.
Aku dan Azka lagi asyik berbincang di kantin, secara kebetulan sekali Wahyu duduk di meja bersebelahan dengan kami. Aku menatap Wahyu, dan beranjak bangun untuk menghampiri Wahyu. Melihat aku mendekati dirinya Wahyu tersenyum manis pada ku.
" Em.. Wahyu, makasih ya, kamu tadi udah bantu aku pas waktu ujian" ujar ku malu-malu pada Wahyu.
Tanpa aku sadari Wahyu tertawa kecil kepada ku yang membuat aku bertambah-tambah malu.
" Loe tahu dari mana, kalau gue yang sudah bantuin loe?" ujar Wahyu yang berniat untuk memancing ku membuat aku mengernyitkan kening ku.
" Maksud mu?, tadi kamu yang lempar kertas jawaban ujian kan?" tanyaku dengan penasaran. Wahyu tidak merespon, ia hanya tersenyum kecil melihat tingkah dan kelakuan, ia berniat ingin mempermainkan ku dengan cara terus memancingku memberi penjelasan.
" Maksud gue, kenapa lo tahu kalau gue ini yang lempar kertas jawaban itu?"
" Jelas-jelas lah, cuma kamu yang selalu bantu aku di kala aku lagi mengikuti ujian tengah semester ataupun ujian semester, gimana aku nggak tahu kalau kamu yang bantu aku, udah lah, makasih banyak ya tentang jawaban nya, aku mau balik dulu ke meja ya, kasihan si Azka sendirian." jelas ku.
Wahyu menatap ku yang sudah membelakanginya menuju meja di mana aku dan Azka duduk semula, samar-samar aku mendengar kalau Wahyu berkata ' sama-sama Riska" keluar langsung dari mulut nya.
__ADS_1
Azka menatap ku dengan penuh kebingungan, lalu ia menyeruput es teh manis yang tadi di pesannya, lalu memutuskan untuk bertanya pada ku.
" Kenapa Ris?, ngapain tadi ke meja si Wahyu?" pertanyaan yang penuh tanda tanya.
" nggak kok, cuma ada masalah kecil aja, kita ke kelas aja yuk, bentar lagi masuk nih!" ajakan ku untuk mengalihkan pertanyaan nya.
Azka mengangguk setuju dengan ajakan ku, lalu kami pergi masuk ke kelas.
Bel masuk pun berbunyi pertanda jam istirahat sudah berakhir dan akan segera masuk jam pelajaran lagi.
Terlihat Mauliza dan Nanda masuk kelas dan langsung di bangku masing-masing, tidak lama kemudian guru pun masuk dan siap untuk belajar.
" anak-anak, ibu mau ngasih tahu pada kalian tentang ujian yang akan di adakan pada bulan depan nanti, pastikan kalian siap untuk belajar agar semua nya bisa naik ke kelas tiga" ujar Buk Laila memberikan semangat yang full buat kami semua.
" Baik Buk!!" serentak kami menjawabnya.
Sekarang buka halaman 109, kerjaan soal itu dari no 1-10."
Semua siswa mengerjakan tugas yang di berikan oleh Buk Laila, hingga sampai bel pulang pun berbunyi.
" Eh Ris, berarti kita tidak lama lagi ujian akhir semester dong!" ujar Azka.
" Iya dong, kita harus ekstra belajar nih, jangan sampai nanti tidak naik kelas, bisa berabe papa ku" jelas ku pada Azka.
" Alah..., sok-sokan lagi belajar, kamu kan ada Wahyu nanti yang bantuin!" ngoceh Azka.
" Kok kamu tahu?" tanyaku penasaran.
" Ya tahu lah, siapa aku?, Azka..... gitu loh!, bisa tahu gerak-gerik sahabatnya."
"Aku tidak begitu yakin dengan Azka, pasti dia cuma menerka aja" gumam ku dalam hati.
Beberapa minggu kemudian, ujian akhir semester pun tiba, aku sudah mempersiapkan semua nya dengan cara giat belajar.
Pas satu minggu ujian semester pun berlalu, buk guru mengumumkan hari pengambilan raport.
" Pa, besok hari pengambilan raport, papa bisa datang nggak?" tanyaku.
" Insyaallah, papa bisa datang."
" Mama ikut ya?" pinta Mama yang mendengar pembicaraan ku dan papa.
" Mama mau ikut?, biasanya papa doang yang datang, mama malas katanya."
" Nggak, kali ini Mama ikut ya!, nanti kalau nilai Riska bagus, pulang nya kita shopping, gimana?" tanya Mama.
" Ide yang bangus ma!"
" Papa setuju aja."
Beneran kali ini nilai ku rata-rata bagus, dan aku di tetapkan naik kelas, seperti janji mama aku mampir dulu di mol untuk shopping.
Hai .... teman-teman terimakasih atas dukungannya, jangan lupa like dan komen terus ya, ditunggu!!!!
__ADS_1