
Sudah seharian kamu berada di puncak gunung dan bermalam disana. Keesokan harinya tim SMA jaya bangsa sampai ke puncak dengan jumlah dua tim, aku melihat kedua tim tersebut, ternyata di tim pertama ada Wahyu dan Neffa, sedangkan di tim kedua ada Rajif.
"Mampus kau Riska!, semua mantan ada disini, plus pacar juga gimana nih?" batinku.
Arian sebagai ketua OSIS menghampiri tim SMA jaya bangsa dengan ramahnya bersama Kiram wakil OSIS. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauh dari sana dan langsung menuju ketempat Azka dan Mauliza berada.
"Za, Azka!, plis bantu aku!," sontak langsung duduk diantara mereka dan Azka beserta Mauliza sangat kaget sekali.
"Bantuan apa?" Tanya Azka.
"Mantan!, semua mantanku ngumpul di puncak ini, gila deh pokoknya!," Seketika Azka dan Mauliza terkejut, Nanda yang mendengar itu pun ikut terkejut juga.
"Maksud Lo ..., Wahyu ada di sini?" tanya Nanda. "Iya!."
"Ha-ha-ha!," Mauliza ketawa lepas membuat aku merasa kesal padanya.
"Makanya kalau punya cowok tuh satu aja," Mauliza mulai mengejekku.
"Sepertinya kamu lupa deh, cowokku ngak setia seperti cowokmu.," ucapku, Mauliza hanya terdiam saja.
"Ah, iya-iya juga sih ...," Sambung Mauliza.
"Sorry nih ya ..., gue ngak tahu apa-apa," ucap Roma yang juga dari tadi menyimak pembicaraan kami.
"Masa lalu Riska, yank," ujar Azka.
"Permisi!, boleh duduk disini?, di sana udah penuh," ujar seorang siswa SMA jaya bangsa membuatku menoleh.
"Rajif ...!," ucap Azka.
"Boleh, kok duduk aja," sambung Azka. Lalu Rajif mengambil posisi duduk di sebelahku, aku terkejut Rajif duduknya sangat dekat denganku, aku hanya tersenyum saja.
"Yank..?, kok kamu tahu aku disini?" tanyaku dengan tatapan mata Rajif.
"Tahu dong ..., tadi aku ngak sempat kesini, mumpung ada waktu buru-buru aku kesini," ujar Rajif.
"Gitu ya!, Oh ya kenalin ini teman-temanku, ini Mauliza dan Nanda, dan yang ini Rama cowoknya Azka" Aku mengenali mereka pada Rajif. "Salken ," Balas Rajif.
Kami duduk sambil ngobrol-ngobrol ceria hingga aku memutuskan untuk mengambil cemilan di dalam tenda biar bertambah seru lagi, ngobrol sambil ngemil.
"Makin cantik aja Lo, ya!," Ucapan Wahyu membuat aku kaget yang tiba-tiba saja menghadang ku.
"Bukan urusanmu, sekarang kita bukan siapa-siapa lagi," Cetusku.
"Jangan gitu dong," Wahyu semakin usil. "Minggir, aku mau lewat teman-temanku udah nungguin dari tadi," ujarku.
"Temen?, Nanda, Mauliza?, sama Azka?" tanya Wahyu dengan ejekannya.
"Kamu, ngak perlu tau itu, sana sama pacarmu," Aku mulai kesal dengan tingkah Wahyu yang memaksa. "Wah lo---."
"Ris, kok lama?" Rajif Tiba-tiba datang. "Lho, Wahyu?, kok lho ada disini?," sambung Rajif.
"Udahlah, kita pergi aja yuk, malas berurusan sama orang ini," Cetusku."Memangnya kenapa Ris?" Tanya Rajif.
__ADS_1
"OOO ..., jadi Lo pacar dia sekarang, ya?, Jif ..., kalau gue mantannya," tegas Wahyu.
"Hem?" Rajif menyerngitkan keningnya lalu dia menatapku.
"Huff ..., Lo mantannya, kan?, gue pacarnya. udahlah gue mau ngemil dulu," Rajif mengajakku kembali ketempat Mauliza.
"Kamu ngak papa Ris?, Wahyu itu teman kelasku," Ujar Rajif.
"Hhhh, dia cuma masa lalu ..., ngak papa kok," Rajif pun lega.
...----------------...
Hari pun mulai gelap, itu artinya malam akan segera tiba, cangkir mulai bercengkrama dengan suara-suara bisingnya, seolah-olah memecahkan keheningan malam. Api unggun yang menyala-nyala tinggi menambah kemeriahan malam ini, apalagi diikuti nyanyian-nyanyian merdu suara siswa SMA kota Juang.
Di tengah kemeriahan itu semua terlihat ada seorang wanita dengan gaun putih sedang duduk di dekat tenda Arian, wanita itu berkulit pucat dan tidak bergerak dari duduknya, dengan pelan-pelan aku menghampiri sosok wanita itu.
"Hai," Sapaku, wanita itu mendongakkan kepalanya.
"Kenapa kau kemari?" tanya dia dengan nada pelan, aku duduk di dekatnya lalu menatapnya dari dekat.
"Harusnya aku yang tanya itu,"Ujarku pada dia. Ia menghela nafas dingin lalu menatap ke arah api unggun.
"Baru kali ini ada manusia yang dapat melihatku," Aku terus menatapnya dengan rasa penasaran.
"Aku hanya seorang pengantin yang kabur dari pernikahan. Dulu pernikahanku diadakan di kaki gunung ini, jadi ...,aku punya kesempatan untuk melarikan diri sampai kepuncak. apa dayaku yang tak membawa apapun, aku mati dalam keadaan kelaparan yang mengenaskan," Ujarnya dengan menceritakan semua kejadian yang dialaminya.
"Apa karena perjodohan kamu melarikan diri?" Tanyaku dan dia membalas dengan anggukan kepala.
"Aku harap aku bisa kembali, disini sangat dingin dan aku juga berharap takkan ada wanita lagi yang mengalami nasib buruk sepertiku, sangat menyakitkan," Aku beranjak dari duduk lalu menatapnya dengan sedikit tersenyum.
"Benarkah itu,"
Aku kemudian memanggil si kembar dan menyuruh mereka untuk membawa turun wanita itu, dengan mudahnya si kembar membawa wanita itu turun dari puncak gunung, akhirnya aku pun lega.
"Beres deh ...!" Gumamku.
"Ekhem!," Arian tiba-tiba datang membuat aku terkejut.
"Eh, copot!, Ih!!, Abang!, kok malah ngagetin sih," Jantungku hampir saja cepat gara-gara Arian.
Arian terkekeh lalu mengelus rambutku. "Gini baru adik gue, baik sama siapa pun," pancing Arian. "Namanya juga calon adik iparku, ya pasti baik lah," Aprili tiba-tiba muncul juga.
"Riska!!, sinyal di puncak ternyata penuh lho!," Teriak Azka dari jauh.
"Hah?, sia-sia aku gak pegang hp!," Aku langsung saja membuka ponsel kemudian memainkan jari hingga layar sampai ke sebuah aplikasi.
"Ma,"
"Udah sampai ke puncak?"
"Udah, Ma"
"Memangnya ada sinyal di puncak?,"
__ADS_1
"Kalau ngak ada, ngak mungkin Riska chat Mama,"
"Iya-Iya, Abangmu mana?"
"Nih di depan, bareng Kak Aprili,"
"Oh, bekalnya cukup kan?"
"Cukup Ma,"
"Baguslah."
"Ma ..., mau Riska kirim foto disini ngak?."
"Boleh, kirimin aja."
"Foto aku dan Abang,"
"Ganteng dan Cantik, ya anak Mama."
"Siapa dulu dong?."
"Ya udah, Mama mau tidur dulu ya, ngantuk,"
"Iya Ma, mimpi indah."
"Siapa, dek ?," tanya Arian padaku.
"Mama, Bang," Ucapku.
Sultan menghampiriku di belakang tenda, saat itu Rajif sedang mencari ikan di sungai.
"Ris," Panggilan Sultan.
"Iya, kenapa?" tanyaku seraya menatapnya. Aku memilih menghindar darinya walaupun Sultan menahan ku untuk pergi tapi aku lebih memilih menuju ketempat teman-teman ku berada.
"Dua hari lagi kita bakal turun, yeye!," Azka kegirangan.
"Gue udah dapat banyak foto disini, gue bakal tempel nih foto di album gue," Ujar Rama.
"Yang penting tuh, kita sudah bisa menikmati panorama alam pada waktu pendakian, pengalaman saat pendakian," Ujar Azka.
"Udah dua kali lho, kita camping," Sambung Mauliza memberi tahu Rama.
"Eh, kalian pada tahu ngak?, kalau nanti malam kita bakal nyanyi-nyanyi gitu, bentar lagi bakalan di pilih siapa saja yang main gitarnya,"Tambah Kiram.
"Beneran?" Tanyaku dan Kiram mengangguk kepala.
"Gue pingin ikutan,"Ujar Rajif.
"Liat aja nanti," Sambung Rama.
"Pilihannya tergantung kan ..., pasti yang jago," Ucap Nanda yang dari tadi sibuk dengan ponselnya. "Iya."
__ADS_1
Bersambung ...!