Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
49. Papa khianati Mama


__ADS_3

Aku dan yang lainnya segera masuk ke kelas saat terdengar suara bel berbunyi, sekarang adalah jam pelajaran olahraga, kami mengganti baju seragam putih abu-abu menjadi seragam olahraga lalu berkumpul di lapangan.


“Kali ini kita akan melakukan olahraga lari cepat, setelah ini kalian bebas ingin ke mana karena bapak ada urusan sebentar" ujar pak tio guru olahraga, “iya pak!" Serempak semuanya, seusai olahraga lari, sesuai perkataan pak Tio kami diizinkan melakukan apa saja dan pak Tio pergi dari lapangan


“Ris,kantin aja yuk!" Ajak Azka , “Iya, gue juga laper nih" dan kami kini duduk di kantin.


“Pesan apa?" Tanya Azka..“batagor aja, sama lemon tea" Azka mengangguk kemudian pergi memesan, tiba-tiba saja Arian ke kantin bersama Aprili menemui ku


“Riska" aku menoleh pada Arian, “Kenapa bang?" Tanyaku bingung


“kok tau aku ada disini?" Tambahku lagi, “Tadi Abang tanya ke temen mu, Abang mau ngomong sesuatu" wajah Arian berubah serius “Apa?" Arian kemudian menoleh ke Aprili, Aprili mengambil memperlihatkan sebuah ponsel dan itu ponsel milik Aryan, ia menunjukkan room chat dengan Mama, aku terbelalak begitu melihat room chat itu. “Kebetulan kamu kena olahraga, jadi kamu kesini", “N-gak, gak mungkin, ini boong kan?, gak mungkin papa khianatin mama, ini prank kan bang?" Aku tak percaya pada apa yang ku lihat, disana Mama mengetik bahwa papa sudah pulang, tapi membawa seorang wanita ke rumah yang diduga istri barunya papa. Mama langsung mengechat juga menelpon Arian yang hari ini full jam kosong karena saat itu OSIS akan mengurus rencana festival karnaval, Mama mengambil kesempatan itu untuk menghubungi Arian, karena mungkin menghubungiku yang full pelajaran.


“Ini kenyataannya, Riska.." ucap Arian.


Aku dan Arian duduk di sebelah Mama yang sedari tadi menangis, kami menenangkan Mama dengan hati yang sama kacaunya, Arian sedari tadi rahangnya mengeras dan tangannya mengebal kuat,


“Kemana laki-laki itu, Ma?" Ujar Arian ,ia tak ingin menyebut papa untuk sekarang, “Ia sedang pergi bersama wanita itu,ia bilang kalau wanita itu memiliki anak seumuran Riska.." ujar mama dengan suara parau, memang sedari tadi dari kami pulang sekolah papa sudah tak ada di rumah dan kini kami duduk di ruang tv.


Tak lama kemudian terdengar suara knock pintu ditarik papa bersama dua orang perempuan masuk melalui pintu tersebut


“Kalian udah pulang, ya? mau peluk Papa?" Ucap Papa seraya tersenyum.

__ADS_1


“Ogah gue meluk Lo!" Ucap Arian membuat kami semua terkejut.


“Arian!, Papa ini orang tua kamu!, begitu ucapanmu pada papa?!" Papa menatap Arian tak suka. “harusnya Papa mikir sendiri kenapa aku kayak gini, Papa pikir Mama itu apa?mainan?, mainan yang habis di pakai lalu di buang, gitu?, Papa udah keterlaluan!, apa spesialnya wanita itu hingga papa rela dua-in mama, hah?!" Bantah Arian tegas.


“Arian! jaga ucapan mu!, Vivi ini udah bantu perusahaan papa, ia lebih banyak bantu papa dari pada mama kamu yang duduk santai di rumah."


“Bantu kata papa?, mama udah nemenin papa dari bisnis papa masih nol!, mama juga ngurus rumah, masak dan ngurus Riska sama Abang juga, Pa!" Kesabaran ku habis,langsung angkat bicara dengan mata yang sembab.


“sekarang kalian udah berani, ya!, siapa yang ngehasut kalian jadi kayak gini? Mama kalian?.


“Udah mas,mereka belum mengerti, nanti juga mereka ngerti sendiri dan terima aku sebagai mama mereka juga putriku sebagai saudari mereka..lagi pula istri pertamamu tak di ceraikan, kan?",“iya"


“Bangsat!-" Arian mendekati dan meninju papa tapi di tahan.


Papa tersenyum menatap kami, ia kemudian merangkul Vivi perempuan di dekatnya, “Kenalin ini Vivi, Mama baru kalian dan ini putri, saudari baru kalian,putri satu sekolah sama kalian, kan?."


Aku terkejut bukan main melihat Putri, Putri yang adalah teman sekelas ku, yang merebut Sultan dariku.


“Hai,bRiska" putri menyengir , “Kalian saling kenal?" Tanya papa.


“Iya pa,bdia satu kelas sama putri" jawab putri seraya mengembangkan senyum di bibirnya menatap papa

__ADS_1


“lo udah banyak rebut sesuatu milik, gue put.." lirihku yang hanya di dengar Arian dan mama.


Arian mengajak kami berdua untuk ke kamarku dan ia juga menyuruhku untuk mengambil minuman di dapur untuk mama, aku sempat melihat papa dan keluarga barunya tertawa bersama.


“Riska" panggil papa, “hem" ketus ku.


“Kamu tidur di kamar tamu aja ya.. Putri minta kamar tingkat dua sedangkan kamar tamu di bawah"


“Hahahaha, papa yakin?, kalau ayu bunuh dia gak apa-apa kan? Perkataan ku membuat mereka terkejut lalu aku langsung membawa minuman ke kamar.


Kami siap pergi ke sekolah, sekarang mama tidur di kamarku bersama-sama denganku. Aku tidak tega membiarkan mama di kamar tamu lainnya, sedangkan putri terpaksa tidur di kamar bawah karena tidak mungkin ia untuk ke kamarku. Papa takut ia akan di sakiti oleh temen-temenku, papa sama sekali tidak memberitahukan pada putri kalau aku punya kemampuan lain mampu melihat makhluk tak kasat mata.


“Riska, mau kemana?" Tanya Papa yang melihat aku mengikuti Arian dari belakang.


“Sekolah lah" ketus ku kesal. “Kamu berangkat bareng putri aja sama papa, lagi pula Arian bawa motor, kan? karena mobilnya arian sedang diperbaiki di bengkel.." ujar Papa menjelaskan.


“Riska sama Ari aja" ucap bang Arian. “Gak, pokoknya Riska harus pergi sekalian dengan putri!" balasan Papa lagi. “Bang..,aku sama papa aja ya..lagi pula kak Aprili Pasti nanya Abang jemput atau nggak, kan?.." bujukku karena aku tidak ingin ada keributan antara papa dan bang Ari. Arian hanya pasrah lalu segera pergi. Sambil menunggu putri dan papa selesai sarapan, aku memilih duduk di bangku teras ditemani ayu.


“Papa mu jahat banget ya..?" Ucah ayu, “Banget" Jawabku jutek.


“Kalau aja tuh anak jadi pindah ke kamarmu...dia pasti bakal gak tahan tinggal disini..hahah" ujar ayu terkekeh kecil. Papa keluar bersama putri membuatku beranjak memasuki mobil, rupanya Vivi juga akan ikut bersama papa seharian ini untuk belanja, jadi ia duduk paling depan di samping papa dan putri di sampingku di kursi belakang.

__ADS_1


Begitu sampai di gerbang,aku segera turun dan memasuki area sekolah, “Riska!" Azka lari tergesa-gesa hingga nafasnya terengah-engah, “Kenapa?, kok kayak di kejar setan aja.."


“Kok ga ke rumah sakit?" Tanya Azka, padahal kami hampir tiap pagi datang menjenguk Mauliza dan Kiram.


__ADS_2