
" Ah, iya ..., beneran juga ya," Gumam Azka. "Huff ...! Gak papa kok, lagian aku terlalu serius Ama Sultan, dia mungkin bakalan jadi mantan ke tigaku," Ujarku dengan santai. " Serius?, Wah-Wah ... Riska biaya," Perkataan Azka bikin kami bertiga ketawa.
" Eh, gimana kalau ku tawarin satu cowok nih," Azka tiba-tiba menyela. " Cowok?," ujarku. " Iya," Azka mengangguk. " Buat simpenan, ya kan," Canda Azka bikin kami terkejut.
" Namanya Rajif, dia teman lamaku di jamin bakal setia deh, mau coba ngak?," Canda Azka jadi serius. " Ku coba ngak, ya ...?, gara-gara Wahyu, aku jadi gak pernah bisa tetap sama satu cowok. "Coba aja Ris," Ujar Mauliza. " Ya, udah kita balik yuk, entar mereka curiga lagi," Akhirnya kami bertiga masuk kelas.
...----------------...
Bell pulang pun berbunyi, Ayu datang pada ketika aku sudah berada di luar gedung sekolah, tapi tiba-tiba Sultan menghampiriku.
" Yank, kayaknya aku bakalan libur selama seminggu, deh," Ujar Sultan. " Kenapa?," Tanyaku. " Mau selingkuh, tuh," Ayu berbisik di telingaku. " Ish, diam napa?, nanti Sultan curiga," Aku berbicara dengan Ayu tampa terlihat oleh Sultan.
" Mau ke luar kota," Ujar Sultan.
" Oh, ngak papa deh, hati-hati aja di jalan," Ujarku.
Seusai berbicara panjang lebar, aku pun menuju parkiran mobil. Ayu terus saja memanas-manasi aku, entah dari mana ia tahu kalau aku sedang kacau. " Dek, kita mau mampir di cafe nih, mau ikut?," Tanya Arian memecahkan suasana hatiku. " Ikut Bang," ujarku. Di perjalanan Aku melihat banyak sekali roh penasaran korban dari kecelakaan, bahkan aku melihat ada dua roh yang sepertinya orang pacaran yang terduduk di pinggir jalan sambil menangis dengan tubuhnya yang berdarah-darah. Ceweknya bersandar sedangkan yang cowok mengelus-elus cewek tersebut, aku kasihan melihat kondisi mereka itu.
Tiba-Tiba aku di kejutkan dengan suara notifikasi dari ponselku, aku memeriksa hp ternyata chat dari Mauliza yang mengirimkan sebuah foto yang isinya Sultan dan cewek-cewek lain. Anehnya aku tidak merasa sedih melihat foto itu, santai dan enjoy aja mungkin dia itu bukan cowok yang tepat bagiku. " Udah sampai, yuk turun," Ujar Aprili.
Aku melihat Cafe yang di penuhi siswa SMA kota Juang yang begitu sangat ramai sekali, aku sedikit grogi untuk masuk ke dalam, untung aku ada bawa masker.
Lebih baik aku pakek masker saja, dan pakai topi biar tidak ada yang mengenali,batinku.
__ADS_1
Arian dan Aprili yang melihat aku, mereka asyik menertawakan aku. "Untung yang kamu pakai topi sekolah, coba kalau topi mirip tukang parkir pastinya kamu itu dikira tukang parkir, apalagi kamu pakai masker lagi," ujar Arian sambil mengejekku. " Udahlah, Bang laper nih!," ujarku yang kemudian turun dari mobil. Mata tertuju pada kami, berasa sangat di perhatikan orang.
" Gimana bro?, jalan bareng pacar nih, ye ...," ujar teman Arian jahil. " Ha-ha, iya sesekali pulang sekolah ke cafe ya, kan?," ujar Arian dan yang lain ikut ketawa juga. " Aprili dan Arian, kalian serasi deh!, duduk-duduk masih banyak kursi yang kosong," ujar teman Arian. Arian dan Aprili pun duduk di meja yang kosong alias belum terisi, sedangkan aku memilih duduk di samping Arian.
"Arian, siap tuh yang pakek maskeran?, kayaknya imut deh, nampak dari matanya aja sudah cantik." Mereka masih saja menjahili kami.
" Adik gue, kebetulan dia laper juga," Ucap Arian.
" Beneran bro?, kok gue baru tahu kalau Lo itu punya adik?," Teman Arian pada kaget dengan pengakuan Arian.
" Dia, adik kandung gue," Jelas Arian lagi. Mereka masih saja menatapku tapi aku tidak terlalu menghiraukannya karna mereka itu banyak dari OSIS, termasuk Kiram yang dari tadi dia duduk di sana, mataku tertuju hanya pada Kiram saja.
" Mau pesan apa?," Tanya Kak Aprili. " Lemon tea, sama cupcake aja," Ujarku.
...----------------...
" Ris, titip mereka ya," Ujar Ayu yang langsung menghilang.
" Hah, Aku bingung, mengapa Ayu menitipkan makhluk ini padaku sedangkan aku ini seorang manusia, batinku.
" Kamu kan bisa melihat mereka, kalau aku titipkan ke orang lain ribet nanti, mereka nakal banget, yang ini Renza dan ini Renza," ucap Ayu yang tiba-tiba muncul lagi karena bisa membaca mendengar batinku. " Cara membedakan mereka itu dari rambutnya ya, Renza rambut pirang dan Rinza rambut hitam kecoklatan," jelas Ayu yang setelah itu dia hilang entah kemana.
Aku tidak tahu harus berbuat apa pada mereka, karena aku tidak pernah bermain dengan anak kecil sebelumnya.
__ADS_1
" Oke, sekarang gimana kalau kita intro dulu," ujarku. " Intro?, apa itu?," tanya mereka.
" Em ..., intro itu seperti perkenalan, alamat, umur dan lainnya," ujarku.
" Namaku Renza dan ini Renza Adikku, umur kami enam tahun, kamu campuran Belanda dan Indonesia, hemm ....,apalagi ya?," ujar Renza. " Hei Renza, biarkan dia memperkenalkan diri dulu," ujar Rinza.
" Baik lah, sekarang giliranku. Namaku Riska Ariani, bisa kalian panggil Riska, usiaku enam belas tahun , mungkin itu cukup buat kalian ya," Ucapku.
Keesokan harinya, Renza dan Rinza mengikutiku sampai ke sekolah dengan cara teleportasi, mereka sangat meresahkan berlarian kesana-kemari. Bahkan disekolah mereka terus saja menggangguku, aku mencoba tidak menghiraukan mereka dengan bersifat tenang-tenang saja. Hari ini sekolah cepat pulang karena diadakan pertandingan bola basket di lapangan sekolah, peserta yang ikutan bertanding ada Nanda yang memimpin gengnya, Kiram, Vino, bahkan Abangku Arian dan kepala sekolah sebagai juri.
Pertandingan ronde pertama di mulai, Arian melawan tim Nanda. Pertandingan benar-benar sengit karena kehebohan dari dua pihak. Arian yang memimpin timnya terus mengincar Nanda juga sebaliknya.
" Arian !!, semangat!!!," teriak sebagian penonton. " Kiram !!!, semangat." " Nanda!!, semangat," Begitu semangatnya penonton dalam menyemangati idolanya.
Hingga ketika Nanda melempar bola melewati area dan menuju ke arahku, hingga kepalaku terbentuk dengan bola.
" Aduh!!," Meringisku memegangi kepalaku yang nampak memar. Azka dan Mauliza langsung mendekat padaku. " Ris, kamu ngak papa?." " Aku nggak papa kok, cuma memar doang," Tanganku masih memegang kepalaku.
Bang Arian menatapku, nampak dia khawatir tapi aku tersenyum menandakan aku tidak apa-apa, kemudian Azka mengambil bola di kakiku dan melempar lagi ke area pertandingan, dan kebetulan lempar Azka begitu keras dan bola pun mengenai kepala Ihsan.
" Ups!!," ucap Azka yang tidak sengaja mengenai Ihsan. Kali ini Arian bermain dengan panasnya, tim Nanda berkali-kali kalah dibuatnya. Tiba-tiba Renza mengatakan padaku kalau Arian marah pada Nanda tentang tadi. Akhirnya ronde pertama Arian menang.
Bersambung ...!
__ADS_1