Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
34. Kejadian Camping


__ADS_3

Ketika pengumuman berakhir, semua siswa kembali ke kelas masing-masing. Tiga hari kemudian Camping pun dimulai, semua siswa sudah dinyatakan siap dan berada dalam bus yang akan menuju ke gunung.


"Wah ..., kayaknya bakalan seru deh!," Aprili kegirangan saat duduk dalam bus yang segera berangkat. Setelah beberapa jam perjalanan bus, akhirnya sampailah pada tempat pendakian.


"Rili, jangan terlalu girang lho, kita mau ke hutan," ujar Arian.


"Bang, gue boleh minta tolong ngak?" Ujar Nanda yang tiba-tiba menghampiri kami.


"Boleh, ada apa?," tanya Arian.


"Tolong jagain cewek gue, ya Bang," pinta Nanda yang membuat Arian mengangguk.


"Pasti, kamu jangan khawatir aku yang memimpin di sini," tegas Arian.


Perjalanan pun di mulai, aku asyik mendengarkan musik dari ponselku melalui handset yang aku pasang di telingaku, sehingga tidak terdengar suara riuh siswa yang berjalan di belakang dan depan. Arian yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hei ..., kita bukan mau tamasya lho," Ujar Arian seraya menarik handset yang berada di telingaku, aku kesel di buat oleh Arian yang memecahkan kesenanganku.


"Udahlah, Ris ..., lagian ngapain kamu pakek dengerin musik segala coba?" ujar Arian.


Di sepanjang jalan hanya terdengar tawa dari Arian dan Aprili, sedangkan yang lain hanya terdiam canggung hingga pada akhirnya tidak sengaja aku tersandung, namun dengan cepat di pegang oleh Kiram.


"M-Makasih Bang," Mataku menatap matanya hingga saling beradu. "Makanya, liat jalan Ris ...!" ujar Mauliza menahan tawa. "Iya-Iya," jawabku malu-malu. Arian hanya menoleh ke belakang, lalu melanjutkan perjalanan kembali. Sore pun tiba, kami harus mengumpulkan kayu bakar dan membangun tenda, Arian pun membagi tugas bagi kami.


"Riska, ambil palu di dalam tas," perintah Arian yang sedang membangun tenda. "Jangan lupa ambil tali pengikat juga," ucap Arian. "Iya," aku nurut aja perintah dari pemimpin. "Ah, iya ambil besinya, tenda jangan lupa," Arian terus saja memerintahkan aku mengambil ini itu hingga membuatku sedikit geram pada Arian.


"Nah, di babuin lho kan?, haha,"ucap Vino dengan santai namun aku tidak peduli dengan ocehan Vino.


"Kayu bakar sudah siap?" tanya Aprili pada Kiram.

__ADS_1


"Udah nih, tapi gue tidak tahu Riska, Mauliza dan juga Vino sudah apa belum," ujar Kiram.


"Gue udah siap," ucap Vino singkat.


"Kita udah siap, kak!," Ucap Mauliza. "Bagus kalau begitu, sekarang mari kita atur."


Hari mulai gelap, kami duduk mengelilingi api unggun seraya makan bersama. Saat itu kami tidak sadar kalau anggota kami bertambah kecuali Kiram juga Arian.


"Kita absen aja yuk," Ajak Kiram. "Absen?, Buat apa?" Tanya Mauliza.


"Ah, ngak usah deh, gini aja masing-masing dari kita bawain satu lagi, Kitakan bertujuh nih, jadi satu lagu perorang per absen," ujar Kiram. "Gue setuju, mulai dari gue dulu, ya," ujar Arian. Aku tiba-tiba merasa ada yang janggal akan perkataan Kiram, ia mengatakan kalau kami berjumlah tujuh orang, aku perhatikan memang benar ada yang lebih.


"Tunggu-Tunggu, tujuh orang?, kita kan semua enam orang, Bang Arian, Vino, Kiram, Kak Aprili, Riska, dan Aku, siapa lagi?" Mendadak wajah Mauliza dan Aprili pucat pasti, Arian langsung menenangkan Aprili dengan menggenggam tangannya, sementara Vino dan Kiram hanya santai saja.


Orang itu duduk di dekat Kiran dengan wajah pucat pasi dan tersenyum kecil tengah menatapku, Ia tak pergi dari sana meskipun sudah sejam berlalu membuat keadaan semakin canggung.


"Can, call you baby


Can you bee my friend


Can you be my lover up until


The very end". Keadaan kini menjadi lebih baik tanpa peduli pada orang tersebut, seusai Arian, Kiram membawakan sebuah lagu yang bagus membuat kami terpana. "Baru tau Bang Kiram pande nyanyi," gumamku. Kini giliran Vino kemudian Aprili, Aku, juga Mauliza, ketika malam sudah larut membuat kami masuk ke dalam tenda, orang itu tetap di sana tidak bergerak sedikit pun. Di dalam tenda, aku tidak bisa tidur karen ada kaki yang menimpaku berkali-kali menggerakkan lututku agar kaki itu berpindah. Namun, kaki tersebut terus saja menimpaku membuatku merasa jengkel.


"Za.., bangun za!!, pindahin


kaki-mu lho. Aku berpikir kalau kaki itu milik Mauliza "Za!, bangun!"


"Aa..Riska, ribut banget sih..." gumam Mauliza sambil memejamkan mata

__ADS_1


"Kaki lho!, jangan di atasku!"


"Enak aja..., orang kakinya ga di atas kamu kok!,kaki kak Aprili kadang," ujar Mauliza. "Masa,sih? " aku melihat ke kak Aprili dengan menghidupkan senter, rupanya kaki yang menimpaku bukanlah kaki Mauliza maupun Aprili, melainkan kaki yang tak memiliki tubuh, hanya kaki saja.


"Aaa!!"teriakku membuat Aprili dan Mauliza duduk seketika


"Kenapa teriak sih, Ris.." ujar Mauliza rada-rada mengantuk


"Itu...., kaki siapa?...." ucapku."lho?,mana?" Aprili menatapku serius lalu ia menoleh ke arah senter menyala. "K-kaki siapa itu?,kenapa cuma kakinya doang?...." Aprili mulai takut dan segera memegang tanganku diikuti Mauliza yang dari tadi syok melihat penampakan itu.


Tiba-tiba suara kiran terdengar dari luar tenda membuat kami lega dan kaki itu juga menghilang."kalian gpp?"tanya kiran dari luar tenda membuatku langsung membuka tenda dan kami segera keluar.


"Tadi gw denger teriakan dari tenda kalian, jadi gw pikir kalian kenapa-napa" ujar kiran. "Gak kok bang...,cuma ada....kaki" ucap Mauliza.


"Kaki?,kaki siapa?" Kiran bingung mendengar ucapan Mauliza. Aku menyalakan api unggun dan segera duduk di dekat api,orang yang duduk di sana semalaman sudah menghilang tak meninggalkan jejak satupun. "Tadi ada kaki tak di kenal di dalam tenda, karena itu kami menjerit" jelasku. "Oh sekarang masih ada?" Aku menggeleng-geleng kepala menandakan tidak "Arian masih tidur?" Tanya April "Masih,"


Aprili langsung menuju tenda dan segera membukanya, Arian tertidur nyenyak, Aprili melempar bantal kecil ke wajah Arian sehingga Arian terkejut lalu bangun dari tidurnya.


"Bangun, RI!" Ceweknya lagi ada masalah, malah kamu enak-enakan tidurnya," Aprili mulai kesal pada Arian.


Arian segera beranjak bangun dan keluar dari tenda bersama Aprili, mereka menuju ke tempat kami didepan api unggun.


"Kenapa, sih?" Orang lagi enak tidur juga," ujar Arian membuat Aprili mencubitnya. "Aw ...!," Pekik Arian.


Kiram menjelaskan semua pada Arian dan ia langsung memeriksa sekitar, namun tidak tidak mendapati apa-apa. "Basi, Bang!," ucap Mauliza membuat aku terkekeh. "Udah, ah sekarang gimana caranya kita tidur?, takut kejadian itu lagi," Ujar Aprili. "Kak, mendingan kita lanjut tidur bentar lagi, si kembar udah datang tuh ..., ujarku pada Aprili. "Ris, mereka---" Mauliza mencoba mengingatkanku untuk untuk tidak mengatakan itu. "Gak papa, kok Mauliza mereka udah pada tau ," Ucapku.


Makhluk tak kasat mata itu Renza dan Rinza mereka menjaga kami sampai pagi hari, akhirnya kami pun bisa tidur nyenyak.


Bersambung ...!

__ADS_1


__ADS_2