
Perjalanan terasa sangat cepat karena Arian mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.begitu tiba Arian langsung menuju ke resepsionis untuk menanyakan dimana ruangan pasien atas nama Nina akarla, lalu segera ke ruangan yang di katakan petugas dan bertemu Papa di depan ruangan
“Pa"panggil Arian “tante Nina gimana?”
“Nina belum sadar,mama ada di dalam ,lagi urus nina”
Arian langsung bergegas masuk dan kami mengikutinya dari belakang.
“ma,Tante gimana?” tanya Arian “nina belum sadar kan diri” ujar mama, Arian duduk di kursi dekat Azka yang terletak tak jauh dari tempat Nina berbaring dan mengacak rambut frustasi
Mama mendekati Arian dan duduk di sebelahnya lalu mengelus punggung Arian, “Nina pasti cepat sadar,kok.. dokter bilang lukanya ga terlalu parah,kamu tenang aja
Aku dan Aprili mengelilingi rumah sakit citrakasih mulai luar hingga dalam, aura mistis mulai muncul karena hari sudah hampir gelap.kami melewati satu ruangan yang di ruangan itu terdapat satu kursi roda, terlihat jelas di mataku orang yang duduk di sana, orang itu mengenakan pakaian pasien dan di kedua kelopak matanya berwarna hitam ditambah kulit yang pucat.
“Kenapa ,Ris?” tanya Aprili melihatku menatap ke ruang kosong “Ah, ngak papa kok,yuk jalan lagi”
Kami kemudian melihat-lihat ruang pasien yang kosong, betapa banyak roh yang ada di rumah sakit ini, hingga perhatianku teralih ke satu ruangan dimana ada seorang roh wanita tengah menggendong bayinya sambil menangis.kurasa ada ia meninggal karena melahirkan bayinya dan juga bayinya ikut tak terselamat. Aku memutuskan kembali ke ruang Nina di lantai satu,di perjalanan kami melewati sebuah ruang yang bertulis “ruang jenazah"
“Deg!” tiba-tiba pintu pintu ruang jenazah terbuka sendiri menampakkan beberapa roh yang wajah nya sangat menyeramkan membuat ku segera menjauh dari ruang itu,belum sempat kami menjauh dengan pakaian suster di lengkapi darah di sekujur tubuhnya menghadang di depan. Kali ini Aprili bisa melihatnya, sepertinya suster itu adalah roh teror yang meneror pengunjung rumah sakit.
“R-riska, gimana ini..” Aprili mulai takut memegang erat tangan ku.
“Kak,jangan takut dulu..mending kita lari aja" bisikku
“satu..dua..tiga..!” kami langsung lari menjauh,nyatanya suster itu mengejar kami dari belakang dengan tertatih-tatih
“Riska! dia mengejar kita..!”
“Lari ke ruang Tante Nina,kak!”
Kami segera turun ke lantai satu, suster itu juga ikut turun hingga kami sampai ke ruang cempaka,ruang yang di dalamnya ada Nina yang terbaring namun sudah sadar juga Arian,mama,dan papa
Kami langsung mendekati mereka dengan keadaan sedikit panik,suster itu tak bisa masuk,ia hanya menggedor-gedor pintu ruangan.
“Ri,tolongin kita!” ujar Aprili “lho?,kalian kenapa!" Arian bingung
“Bang ada setan suster di depan pintu,dari tadi ngejar kami dari lantai dua sampe lantai satu”
__ADS_1
Arian terkejut lalu menatap dari jendela di dekat pintu,entah apa yang dilakukannya di sana hingga suster itu menghilang membuat kami bingung termasuk papa,mama dan Nina,lalu Arian menghampiri kami, “dia dulu suster disini,saat itu.. terjadi penculikan mayat di sini dia liat dan pengen menggagalkan penculikan itu tapi dia malah kena imbas,suster itu lari pengen masuk ke salah satu kamar pasien buat berlindung tapi kerena itu tengah malam,semua kamar pasien di kunci, karena itu dia ga bisa masuk ke ruang ini tadi" jelas Arian
“Oh gitu ya.." gumamku.
Kami tiba-tiba menyadari sesuatu yang terlewatkan tadi membuat ku menoleh ke ranjang. “tante Nina?!" Serempak ku dan Aprili di balas tawa oleh mereka, “makanya keluyuran lagi..” tambah Arian.
“iih!kesel deh...” gumamku.
“Aaa!!,Nanda Gans banget!!"
“ihsan juga ga kalah keren!"
“tipe gw sih..Rafi!, pokoknya Rama juga keren! Terdengar suara ribut di sepanjang area sekolah,suara motor yang menggema membuat pagi yang cerah seakan suram. Nanda bersama anggotanya memasuki area sekolah,dengan motor yang berjajar rapi.
Ketika motor mereka sampai di parkiran,muncul dua motor dari arah masuk ke area sekolah,lagi-lagi para cewek di hebohkan dengan kedatangannya,salah seorang cowok turun dari salah satu motor dan aku serta Aprili duduk di boncengan mereka
Laki-laki pemilik dua motor itu adalah Arian Nafis Ramanda juga Aprili di belakangnya dan Kiram anggota Saputra juga aku di belakangnya mengenakan masker.
“Bang,aku duluan,ya..” ujarku pada kiram “iya” aku segera pergi dari sana dengan terburu-buru sepertinya mereka belum sadar kalau yang mengenakan masker itu aku. Sesampainya di koridor,Mauliza tiba-tiba muncul di depanku
“Ekhem!” kecohnya
“Ih,apaan,sih..la,ga kok.. biasalah bang Ari yang nyuruh"
“Hih,siapa tau abangmu pengen jodohin kamu sama bang Kiram,gimana?” rayu Mauliza
“ya..gpp, sih.." “tuhkan!” di sambung tawa kami berdua
Aku duduk di salah satu kursi yang ada di koridor bersama Mauliza dan memulai percakapan pagi seperti biasanya, Azka yang baru tiba di koridor langsung menghampiri kamu dan ikut bergabung
“lepas tuh maskermu, Ris...”
“oh iya.., lupa...hehe"
“Eh, Ris kenapa ga jujur aja sama bang Kiram? mumpung kalian udah Deket sekarang...,apalagi satu semester lho kamu nahan tuh rasa..” ujar Mauliza
“iya tuh..,satu semester ga singkat lho" tambah Alka
__ADS_1
“Ga berani lho..,ga mungkin bang Kiram punya rasa tiba-tiba di tolak kan bisa malu..”
“coba aja dulu Ris..,udah banyak cowok yang mau sama kamu,pasti berhasil deh.."
“Ga yakin..,tapi kalau dibilang Suka,aku suka bang Kiram"
“Lo serius?" Tiba-tiba terdengar suara Kiram yang mulai mendekat membuatku terkejut, sedangkan Azka dan Mauliza melarikan diri seraya tertawa puas
“Pasti rencana kalian.." batinku.
“B-bang Kiram?, kok ada disini?”
“Lo suka sama gw?"
“eng..gak kok bang..,salah denger kali.."
“Hh,kamu lucu deh,Ris..orang dari tadi di belakangmu..dari kalian mulai bicara"
“Deg!”
“Duh.. gimana,nih.." batinku berkeringat dingin
“jujur aja..."
“iya deh,iya! Kalau emang suka memangnya kenapa?!" Ucapku seraya menutup mata
“Jadi pacar gue”
“Deg!"
Lagi-lagi jantung ku berdebar kencang serasa ingin meledak sekarang juga.
“Cepat di jawab,mau atau enggak? Gw juga udah lama suka sama lo"
“Ciee...!ciee..!,jadian! Jadian!" Sorak Alka dan Mauliza dari persembunyian mereka
“Iya-iya mau deh.." ujarku malu-malu
__ADS_1
“Oke..mau sekarang lu pacar gue, panggil nama gue, jangan bang" ujar Kiram seraya tersenyum
“Tapi...jangan kasi tau bang Ari kita pacaran...bisa-bisa kena tonjok dari dia."