Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
09. Gadis Belanda 2


__ADS_3

Begitu jam istirahat Azka dan Mauliza mengajakku ke perpustakaan sekalian membuat rencana jalan-jalan akhir pekan.


" Jarang banget kita nggak ngumpul kayak gini ya!, sekarang kita sudah sering berduaan dari pada bertiga, kadang Riska sama Mauliza, aku sama Riska, atau aku sama Mauliza ata...." oleh Azka terpotong gara-gara Mauliza.


" Udah-udah , mau sampai kapan ngocehnya?" ujar Mauliza.


Azka cuma terkekeh karena ucapan maulida dan langsung mengalihkan pembicaraan.


" Ngomong-ngomong...kita nggak jalan nih?" tanya Azka


" Nanda beliin punya kita" ujar Mauliza. " Lah?, kok bisa?, emangnya dia mau?" tanya Azka lagi.


"Kamu tahu kan, nggak ada satu pun permintaan Mauliza yang nggak di turuti" sambung ku.


" Tadi Wahyu pergi ke ruang guru, ngapain?" tanya Mauliza.


" Aku nggak tahu sih..., dianya nggak bilang tadi, em..ke intinya aja yuk!"


Ketika mereka akan membuat rencana, Nanda datang membawa jajanan kami yang di titipkan oleh Mauliza. Akhir pekan tidak lama lagi, mereka berencana untuk camping di alam bebas, mulai dari dua hari kedepan karena libur sekolah.


Tiba-tiba aku teringat tentang Cathrin yang akan bertemu dengan ku tiga hari sebelum ia berangkat. Dan itu waktu yang di katakan Azka dan Mauliza untuk camping.


" Duh gimana nih, aku kan ada janji...,jadi nggak enak hati sama mereka" batinku.


" Gimana Ris?, kita camping kan?" tanya Azka yang melihat aku agak kebingungan.


" Duh, gimana nih, ya.. maaf banget deh!, kayaknya aku nggak bisa ikut, soalnya ada janji nih..!" ujar ku dengan tidak enak hati pada mereka.


" Pliss, jangan marah ya!"


" Nggak seru dong..!, kita maunya ada kamu Ris!" ujar Azka.


" Iya nih, ikut dong, Ris..." sambung Mauliza.


" Aku juga nggak nyangka nih!, tapi ini benar-benar mendadak banget, plisss... biarin aku ya, sekali ini aja" pinta ku kepada mereka.


" Ya udah, kalau gitu.. selesai janji kamu dulu, habis itu baru kita camping, gimana?"


Mendengar itu, aku jadi punya harapan untuk camping bareng mereka, akupun mengangguk setuju.


...----------------...


Sore hari, aku duduk di kamar tanpa tahu harus melakukan apa, sejenak terpikir di benakku bagaimana caranya untuk membantu Dylla. Berurusan dengan orang dewasa bukanlah suatu perkara yang mudah.

__ADS_1


Beberapa lama aku berpikir, aku merasa sangat kantuk sekali hingga aku tertidur. Dylla masuk ke mimpiku, ia mengatakan bagaimana cara untuk membantunya, yang ku ingat ia mengatakan;


" Temui adikku di hari yang telah ditentukan, panggil Mama ku untuk rencana ini, Mama ku juga akan setuju karena ia begitu terpukul dengan perlakuan papa ku, Mama ku akan memanggil pamanku yang seorang polisi pribumi, kita akan mengungkapkannya saat aku dihari pertunangan adikku, Cathrin". Sontak aku terbangun dari mimpiku dan melihat jam menunjukkan pukul 18:20.


Aku kemudian mandi dan keluar kamar, lalu mendapati papa yang duduk sendirian di ruang tamu.


" Papa!" panggil ku membuat Papa menoleh ke arah ku.


" Eh, Riska..ayo kemari" ujar Papa, lalu aku mengangguk mengiyakan. " Mama di mana pa?" tanyaku dari tadi aku tidak melihat Mama dimana.


" Mama arisan" jawab Papa.


Aku duduk menonton TV bersama Papa, tiba-tiba ada sesuatu yang lewat membuat ku beranjak dari sofa.


" Siapa tau tadi?" gumamku.


" Riska?, kenapa?"tanya papa melihat aku yang bersikap aneh.


" Nggak kok Pa, nggak papa.., Riska cuma mau berdiri- berdiri aja"


Papa mulai curiga dengan sikap ku, sesuatu itu lewat lagi di hadapan ku, aku sempat berpikir mungkin Papa bohong dan yang tadi itu Mama.


" Udah, ah.., mungkin saja itu mama.. nonton TV aja lah" batinku berkata. " Riska, rupanya kamu juga bisa.." gumam Papa.


" Nggak kok!" ngeles Papa.


Beberapa menit kemudian..


Tok...tok..tok..! suara ketukan pintu dari luar. Aku yang mendengar ketukan pintu membuat ku beranjak dan membukakan pintu untuk tamu tersebut. " Riska?, siapa yang datang?" tanya Papa. Aku tidak mengenal siapa yang datang, ia masuk ke dalam, sepertinya papa sangat mengenalnya karena begitu wanita itu masuk, ia langsung menyebut nama Papa. " Mira?, kenapa kamu kesini?" tanya Papa.


" Memangnya kenapa aku tidak boleh bertamu ke rumah sepupu mendiang suamiku" tanya wanita yang diduga namanya Mira. Papa sepertinya merasa kurang senang dengan kedatangan wanita itu, aku hanya duduk di sofa karena sepertinya dialog ku tidak di butuhkan. "Ram, apakah kau tidak ingin menyuguhkan air buat ku?, tidak baik memperlakukan tamu begitu..., istri mu mana?"


Papa hanya diam saja, lalu mengisyaratkan padaku untuk membuatkan minuman, melihat isyarat Papa aku langsung pergi ke dapur. " Wah, itu putri mu?, sudah besar ya, siapa namanya?"


Papa juga diam sampai aku datang ke ruang tamu lagi membawa minuman.


" Ini Tante minumannya!"


" Siapa namamu?, panggil tante-tante Mira."


" Riska, Tante Mira " jawabku yang menyebutkan namaku.


" Riska, ya nama yang bagus, ah iya, Ram...aku pulang dulu ya, tadi cuma mampir sebentar, istri mu nggak ada, jadi ya..gitulah."

__ADS_1


Tante Mira pulang membuat Papa menghela nafas lega, aku menatap Papa dengan tatapan penasaran. " Riska" panggil Papa. " Iya pa?"


" Kalau ketemu Tante itu, mending kamu jauh-jauh aja ya, jangan kamu tanya kenapa, pokoknya kamu jauhi aja."


Aku tidak berkata apa-apa lagi, kemudian lanjut menonton TV lagi bersama Papa.


...****************...


Hari perjanjian pun tiba, hari ini adalah sudah tiba waktunya aku bertemu dengan Cathrin. Kami bertemu di taman yang saat pertama kalinya kami bicara. Cathrin kemudian mengajak ku kerumahnya, karena papanya sedang tidak ada di rumah.


Cathrin memperkenalkan mama nya pada ku, Madam Greta.


Rupanya laki-laki calon tunangan Cathrin akan datang bertamu nanti malam, membuat ku terpaksa mengirimkan chat untuk mama.


📱" Ma"


📱"Kenapa?"


📱"Riska pulang nanti malam ya"


📱" Nggak boleh"


📱" Pliss..., boleh dong..., nanti malam ada acara kecil dirumah teman"


📱"Teman yang mana?"


📱" Teman sekolah Ma"


📱" Riska, kamu itu perempuan, nggak baik anak perempuan pulang malam-malam"


📱" Nanti di jemput sama Azka dan Mauliza "


📱" Ya udah, lagian kamu kenapa harus camping malam-malam sih!"


📱 Nggak papa Ma..!"


" Ye, dikasih..!" batin ku girang.


Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


Kemudian kami memanggil paman Dylla dan segera aku ceritakan semuanya pada mereka, kali ini aku sangat bersyukur karena Pamannya Cathrin percaya kepadaku, lagi pula ada saksi saat kejadian itu yaitu Madam Greta dan Chatrin sendiri.


Bersambung.....

__ADS_1


Terima kasih banyak kepada teman-teman yang sudah mendukung karya ku, jangan pernah bosan-bosan ikuti terus ke lanjut nya ya, tinggal kan jejak kalian dengan cara vote, like dan komen.


__ADS_2