
"Ris, haus nih! ke dapur yuk," Ajak Azka. "Iya ...,aku juga," tambah Mauliza.
Aku keluar dari kamar tengah malam di ikuti Mauliza dan Azka dari belakang. Lampu di ruang tengah sudah di matikan, suasana ruangan remang-remang cahaya lampu dari teras luar, ternyata roh tadi kembali lagi muncul menakut-nakuti kami. Kemudian aku menghidupkan lampu dan ia pun menghilang, setelah minum kami kembali ke kamar lalu bergadang sampai subuh tiba. Pagi-pagi sekali kami lari pagi di sepanjang jalan rumahku. Tidak sengaja pagi itu, kami pun bertemu dengan Riski yang ternyata dia lari pagi juga.
"Bang Riski!!, Sapaku.
"Eh, kalian lari pagi juga ya?"
"Iya," jawab kami.
"Gue duluan ya, soalnya buru-buru nih!." Kami pun melanjutkan larinya, sampai jam delapan pagi setelah itu kami kembali dan setibanya di rumah Mama sudah menyiapkan sarapan buat kami semua.
"Bang, tadi malam kenapa ada setan itu si rumah kita?," tanyaku pada Arian di sela-sela waktu makan.
"Teman Aldi, tuh," jawab Arian singkat.
"Oh, semalaman setan itu berkeliaran di dalam rumah."
"Setan apa?"tanya Mauliza.
"Setan penasaran ngikutin kamu!" Sambung ku menakuti Mauliza.
...----------------...
"Udah selesai ngantuk nya?," tanya Arian ketika ketika Aku dan Arian mau berangkat sekolah. "Males ...."
"Males-Males, cepetan masuk ke mobil atau gue tinggal nih!" ujar Arian. "Iya deh, iya ..." Cetus Ku. "Makanya jangan bergadang lagi!" tegas Arian.
Pagi ini aku terlalu cepat di bangunin oleh Mama, membuat mataku masih terasa ngantuk, ini juga ada kaitannya tidak bisa tidur semalaman karena setan itu menggangguku.
"Riska!" Sapa Kak Aprili lalu masuk ke dalam mobil bersama kami dan berangkat ke SMA kota Juang.
Setibanya di sana aku langsung masuk ke kelas, baru mau masuk aja aku sudah di hadang oleh makhluk tak kasat mata.
"Bisa ngak sih ..., aku hidup tenang" Gumamku lalu menerobos masuk.
"Ris, pergi sana siapa?" tanya Azka ketika aku baru duduk di bangkuku.
"Bang Ari, kenapa," tanyaku lagi.
"Enak ya, cowoknya di SMA sebelah tapi yang ngantar Abang sendiri, jadi pingin punya Abang nih!" ujar Azka.
"Apa hubungannya coba?, ha-ha, lebih enak Mauliza dong ..., di antar cowok dilindungi sama anak buah cowoknya, di jadikan ratu ..., Wow gitu!," cetus ku.
__ADS_1
"Iya, iya sih!."
Kamu asyik ngobrol-ngobrol sambil sesekali ketawa menghilangkan kebosanan hingga aku sadari Sultan mendekati kami.
"Apa maksudnya cowok di SMA sebelah?," Tanya Sultan membuat kami berhenti ketawa.
"Kenapa emangnya?," tanyaku menyerngitkan dahi.
"Tadi dia bilang Lo punya cowok di SMA sebelah, artinya Lo duain gue?" tanya Sultan serius.
"Yang duain itu kamu, bukan aku, Emang sih!, aku punya cowok di SMA sebelah ..., tapi tenang aja, kami pacaran habis kita putus kok, fine aja kita putus itu seminggu yang lalu, tiga hari kemudian dapat yang baru," Sinisku.
"Tan, emangnya ngapain sih main buaya dan kamu lepasin satu cewek yang di incar cowok banyak, dijamin pasti nyesel, deh!, udahlah mending kamu jangan lagi dekati best friend ku lagi," Ujar Azka.
"Ris, kelapangan aja yuk, bentar lagi upacara," Ajak Azka yang lalu menarik tanganku keluar kelas.
Sebelum upacara dimulai, semua siswa diperiksa kelengkapan atribut sekolah, semua OSIS mulai memeriksa setiap siswa dan pada saat itu aku kelupaan memakai pin nama, kebetulan Arian yang memeriksa.
"Mampus aku!, ngak pakek pin nama lagi, gimana nih ..., mana yang periksa Abangku lagi"Batinku. Aku melihat Arian mendekatiku.
"Mana pun nama?" Tanya Arian.
"Hehe..., ketinggalan di kelas kayaknya Bang!," Alasanku.
"Plis Bang...! kali ini aja" Aku memohon keringanan.
"Gak," Jawab Arian.
"Plis ...,"Sekali lagi memohon.
"Gak."
"Plis ...,plis ...,Bang!."
"Ngak bisa, huuf ..., Riska jajan mu sama Abang, kalau kamu ngak nurut peraturan sekolah, nih jajan buat Abang semua," Ujar Arian berbisik di telingaku.
"Iya, iya deh, aku kesana!, Za ..., kamu juga ngak pakek topi kan?, yuk kita keluar barisan ini," Ujarku pada Mauliza.
"Eh, eh ...," Akhirnya Mauliza pasrah juga. Alhasil kami berdiri hingga sampai jam istirahat tiba, Azka sempat melihat kami namun di tertawakan.
"Huh!, Azka keterlaluan deh!," Geram Mauliza.
"Udahlah, Za habisin dulu makanannya baru ngumpatin orang," Ujarku. Tiba-tiba aku melihat ada bayangan hitam di dekat pintu gudang yang terlihat dari kantin. Waktu aku lihat lagi ternyata di sana tidak ada siapa-siapa, namun aku menduga itu pasti roh yang membuat kepalaku sakit jika lama-lama memikirkannya.
__ADS_1
...----------------...
Dua bulan berlalu dengan cepat, Rajif rencana pindah ke luar negeri. Mungkin lagi-lagi aku akan kehilangan orang yang baru saja aku sayangi.
Di bangku taman kami duduk dan bertemu untuk yang terakhir kalinya di kota ini.
"Riska!,"
"Hem?" Aku memandangi sosok laki-laki yang memanggil namaku itu.
"Aku ..., mau pindah ke luar negeri, karena Papaku pindah kerja ke London, jadi hubungan kita sampai di sini aja ya!," Ujar Rajif dengan berat hati.
"P- pindah?, tapi kenapa harus udahan?," Tegasku.
Rajif hanya diam dan menundukkan kepalanya, tiba-tiba dia memelukku sangat erat seperti tidak mau meninggalkanku.
"Aku juga tidak mau begini!, aku tidak bisa berbuat apa-apa, Ris ..., plis!."
"Jif, kenapa setiap orang yang baru datang harus pergi?, padahal aku udah terlanjur sayang!," Air mataku tiba-tiba membasahi pipiku.
"Ris, jangan nangis ya, aku janji tidak akan melupakan kamu yang sudah hadir buatku. Aku yakin kamu pasti bisa dapat cowok yang lebih baik dariku, rencananya nanti sore aku berangkat, kamu bisa nganterin aku ke bandara kan?,"
"Kenapa baru sekarang kamu kasih tahu aku?, kalau sore berangkat kenapa baru kasih tahu, semestinya dari kemarin-kemarin kamu bilang padaku," Aku semakin sedih.
"Maafkan aku Ris, ini terlalu mendadak," Ujar Rajif.
Tiba-Tiba ponselnya Rajif berbunyi, satu Panggilan masuk dan langsung dia angkat.
"Speaker!," Ucapku. Rajif menuruti permintaanku.
"Tapi ini Papa," Jawabnya. " Ngak papa, aku mau dengar."
"Halo Pa." Rajif memulai pembicaraan dengan Papanya.
"Rajif, kamu di mana?, pulang cepat ya!, Papa sudah beli tiket nih!, kamu cepetan pulang kita mau berangkat entar lagi."
"Secepat itu, Pa?" Tanya Rajif pada papanya.
"Penerbangan di percepat, kita harus buru-buru nih, udah dulu ya, Papa cuma mau kasih tahu itu aja," ujar Papa Rajif.
"Tapi Pa--" Belum selesai Rajif ngomong, telepon pun langsung di matikan oleh Papanya Rajif.
Aku memandangi wajah Rajif dan kami berdua saling memandanginya, sampai-sampai aku tidak bisa ngomong lagi, dadaku sesak, pipiku penuh linangan air mata, sesekali Rajif mengusap air mataku dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kamu jangan nangis lagi Ris, I Love you buat kamu," Ucapan Rajif yang membuat aku tidak bisa melupakannya.