
Aku mencoba memejamkan mata berkonsentrasi mengikuti perkataan bang Arian, pertama kali aku melihat ada sebuah danau biru dibawah pancaran sinar rembulan malam. Benar saja kata Arian, bayangan itu terlihat kembali. Kali ini aku mencoba untuk berkomunikasi dengannya agar aku bisa tahu apa maksud dan tujuannya mengikuti aku.
" Siapa kamu?" tanyaku. "Hem ..., kau pasti mau menolongku, kan? " Ia berbicara.
" Menolong ...? apa maksudmu?" tanyaku bingung dengan perkataannya.
" Menolongku untuk keluar dari gedung sekolah ini, cuma kau yang bisa melakukan ini. Aku mohon ....!" Dia berlutut di hadapanku.
Akhirnya hatiku luluh juga, aku memutuskan untuk menolongnya. Ternyata dia itu adalah Amanda, temanku waktu SMP. Dia menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Amanda masuk ke sekolah ini pada mulanya dia sendiri yang mendaftarnya, Karena begitu banyaknya ruangan di sekolah ini, sampai-sampai dia pun tersesat di dalam gudang bawah tanah sekolah, untung dia bisa keluar dari gedung sekolah tapi sayangnya pintu gerbang pada saat itu sudah terkunci dan tidak bisa untuk di panjat karena ada terpasang kawat listrik di atasnya terpaksa Amanda menunggu hari besoknya lagi.
Pada ketika Amanda ingin keluar ia sangat terkejut, pintu gerbang sekolah masih terkunci ternyata sekolah sudah libur panjang. Malamnya Amanda sangat lapar, lalu ia mencari makan di kantin, namun tidak ada apapun makanan di kantin.
Amanda menahan lapar sampai beberapa minggu kemudian. Orang tua Amanda sudah lama meninggal saat ia masih kecil, Ia hidup sebatang kara dan diasuh di panti asuhan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia membuat kue-kue kering dan di titipkan ke warung-warung terdekat. Jadi sangat wajar, jika Amanda tidak ada yang mencarinya, apalagi Amanda seorang anak yatim-piatu yang lemah sehingga dia meninggal karena kelaparan. Mayatnya di temukan oleh pencuri yang kebetulan saat itu ingin mencuri laptop sekolah. Amanda yang tidak bernyawa itu di kuburkan oleh mereka di salah satu pemakaman umum. meskipun tubuhnya sudah di keluarkan dari sekolah, tetap saja rohnya masih belum tenang. Roh Amanda memintaku untuk datang pada malam hari ke sekolah dan mengeluarkan rohnya dari kurungan SMA itu.
__ADS_1
Pulang sekolah aku menceritakan semua pada Arian, dan Arian pun setuju dengan rencanaku. Tampa memberitahu siapa sebenarnya Arian pada teman-temanku, mereka semua setuju mau membantu. Mereka Azka, Mauliza, dan tidak lupa Nanda juga ingin bertemu Amanda yang katanya teman sekelas mereka juga.
Setelah tiba di sekolah, kami meminta izin kepada penjaga sekolah dengan alasan mengambil barang yang tertinggal di dalam kelas. Begitu kami masuk, sudah banyak roh terlihat di sana, tapi aku cuma fokus ke satu tujuan yaitu membantu roh Amanda keluar dari sekolah ini. Pada saat itu aku dan Arian mengenakan masker dan tidak lupa Arian memakai topi berwarna hitam sehingga mereka tidak mengira kalau itu Arian.
" Bang, roh Amanda kok nggak kelihatan, ya?," Ujarku pada Arian. " Kamu fokus aja dulu. Oh, ya bagi kalian yang ikut kita usahakan jangan sampai pikiran kalian kosong," jelas Arian pada Azka, Mauliza dan Nanda. " Bang, gini nih ya ..., nama Abang siapa?, biar enak gitu manggilnya," tanya Azka. " Nafis," ucap Arian membuatku menyerngitkan kening.
" Nafis?" batinku. Tidak lama kemudian akhirnya akhirnya kami menemukan roh Amanda. Aku mencoba menariknya di bantu oleh Bang Arian untuk keluar dari sekolah. Alasan kenapa tidak siang saja roh Amanda keluar dari gerbang terbuka karena Ia selalu ingin keluar ketika malam karena pada malam hari gerbang sekolah selalu ada penjaga, tapi tidak bisa karena para penjaga tidak bisa melihatnya. Singkat cerita, Amanda sudah keluar sepenuhnya dari sekolah SMA walaupun banyak roh yang mencoba mengganggu kami.
" Makasih Riska, dan juga kalian yang ikut bantuin, kalau nggak ada kalian mungkin aku nggak bakalan keluar dari gedung sekolah ini," ujar roh Amanda pada ketika bebas dan kembali ke alamnya. " Manda, kita janji bakalan ingat kamu terus, deh suerr ...!" ucap Mauliza dengan menaikkan dua telunjuknya dan jari tengah, membuat roh Amanda tersenyum lepas lalu dia pun menghilang. Kali ini mereka semua bisa melihat roh Amanda di karenakan Amanda sendiri yang ingin menampakkan dirinya pada siapa pun akan terlihat.
...****************...
Pak Anwar akhir-akhir ini semakin aneh saja, Pak Anwar seperti sudah tahu kalau aku memiliki kemampuan melihat dunia lain. Pak Anwar selalu saja menyuruhku untuk melakukan hal-hal yang dapat mengancam keselamatanku, seperti membersihkan gudang yang penuh dengan roh penasaran, mendekatkan ku pada roh yang berbahaya, dan pada suatu ketika guru ada rapat mendadak semua murid diminta untuk pulang sekolah, aku tidak diizinkan untuk pulang dengan alasan memiliki tugas tambahan padahal aku bukanlah anggota OSIS.
__ADS_1
Akhirnya aku dan pak Anwar bertemu di atap sekolah, Arian yang mengetahui itu pun menyuruh Aldi untuk mengawasiku dari jauh. Pak Anwar menarik paksa sehelai rambutku membuat aku meringis kesakitan, lalu pak Anwar membakar sehelai rambutku seraya mulutnya komat-kamit membaca sesuatu yang aku duga itu sebuah mantra, lalu mendadak jantungku terasa nyeri dan sangat sakit.
" Blok !." Aku memuntahkan darah, baju seragam putihku yang tadi bersih kini sudah berlumuran darah segar yang tak berhenti keluar. Tanpa aku menyadari ternyata ada orang yang menyaksikan semua itu dari kejauhan, tapi itu bukanlah Arian dan bukan pula Sultan.
" Kau pantas mendapatkan itu, asal kamu tahu itu belum seberapa dibandingkan rasa sakit hatiku di tinggal oleh orang yang paling kucintai." Suara Pak Anwar mendadak berubah menjadi suara Mira membuatku sangat terkejut.
" K-kau!, M-Mira ...!" ujarku menahan rasa sakit dan mulai menangis.
" Blok!." Aku terus saja memuntahkan darah. Arian dan Aprili akhirnya pun muncul dan langsung berlarian padaku yang semakin lemas. " Riska." Serentak mereka memanggil namaku. " Riska, kamu kenapa bisa begini?" tanya Aprili panik. Arian menoleh ke arah Pak Anwar, lalu mendekati pak Anwar dengan wajah geram dan sangat marah.
" Apa yang telah bapak lakukan pada Riska?," Tegas Arian pada pak Anwar dengan nada datar.
" Saya tidak melakukan apa-apa," ujar pak Anwar dan kali ini suaranya menjadi suara laki-laki seperti semula. "Jangan boong deh, Pak!, saya tahu kalau bapak yang sudah bikin Riska kayak gini!," bentak Arian dengan nada tinggi.
__ADS_1
" Berani-Beraninya kamu bentak saya, apa perlu saya keluarkan kamu dari OSIS?." Ancaman Pak Anwar membuatku dan Aprili tercengang. " Silahkan!, silahkan saja, saya rela dikeluarkan dari OSIS sampai bapak mengaku." Arian tidak mau kalah.