
Aku masih terbaring lemas di atas tempat tidurku, mama yang menemaniku pun tidak pernah jauh dariku. Mama khawatir kalau nanti aku butuh sesuatu tidak ada yang menurutinya. Seusai pulang sekolah Azka, Mauliza dan juga Nanda mereka menjengukku. Mereka menatapku yang terkapar di atas kasur dalam keadaan sangat lemas.
" Sebenarnya setan apa sih yang membuat Riska kayak gini?, ucap Mauliza.
" Kenapa Azka dari tadi saya diam saja, ya?" tanya Nanda pada Mauliza. Sebenarnya Azka sudah menceritakan pada Nanda dan Mauliza tentang kejadian kemarin di sekolah.
" Hhh, kalian santai aja ..., aku sudah biasa seperti ini walau pun badanku lemas sih jadinya ...," ujarku pada mereka supaya mereka tidak terlalu khawatir dengan kondisiku saat ini.
" Ya ... bikin syok juga Ris, untung saja diantara kita ada yang satu kelas dengan kamu jadi kalau seandainya terjadi apa-apa cepat kami tahu," ucap Nanda.
Memang hanya mereka dan orang tuaku yang tahu tentang hidupku, mungkin kedepannya akan lebih banyak rintangan lagi. Mungkinkah nanti aku akan sanggup untuk melanjutkan rintangan itu atau tidak.
...----------------...
Seminggu kemudian ....
Hari ini aku kembali ke sekolah, sudah seminggu aku sakit terbaring di rumah sudah kangen rasanya ketemu sama kawan-kawan. Sesampainya aku di sekolah, aku langsung menuju ruangan kelas. Begitu masuk aku sudah di sambut dengan tatapan tajam dari Vino ternyata dia sudah selesai dari masa hukumannya.
Aaaa ... baru sembuh dari masalah malah ketemu masalah lagi, batinku.
Aku langsung menghindar dari Vino karena aku tidak ingin mencari masalah lagi dan bergegas duduk di bangku.
" Hufff ...." Hela nafasku.
" Kenapa?, kok hela nafasnya berat gitu?" tanya Azka.
" Aku barusan di pintu ketemu dengan Vino, baru masuk udah di sambut aja sama tuh anak," ujarku seraya meletakan tas di atas meja kemudian memperbaiki dudukku.Tiba-Tiba Sultan menghampiriku dan berdiri tepat di depan meja tempat aku duduk.
" Wah-Wah ..., ada yang udah sembuh nih!" ujar Sultan.
" Memangnya Kamu pingin aku mati, ya?."
" Eh, gak-gak ... Kamu jangan salah faham dulu dong ...," cetus Sultan.
" Sorry, ya ... Tan, aku mau kerjaan tugas matematika dulu Kamu kesana dulu boleh? jangan gangguin aku," ujarku sangat jengkel.
__ADS_1
" Kamu manggil aku setan?" Membuat Azka tertawa lepas mendengarnya.
" Eh, nama Kamu kan Sultan jadi bisa dog di panggil 'Tan',"sambung Azka.
Pada jam istirahat tiba aku , Azka dan juga Mauliza melewati koridor sekolah menuju ke kantin sekolah. Nanda sudah duluan ke sana karena ada temannya yang baru pindah ke SMA ini membuatnya harus menemani temannya duluan.
" Siswa baru itu cewek atau cowok," tanya Azka pada Mauliza.
" Dengar-Dengar dari Nanda, sih cowok. Rame lho ..."
" Waktunya nyari gebetan, nih ...," ujar Azka. Aku mencubit pipi Azka di ikuti tangan Mauliza ikut serta juga membuat Azka begitu geram.
" Aww ..., sakit tahu!"
" Cowok Mulu pikiranmu," ucapku di sambung Mauliza.
Kami tertawa karena melihat pipi Azka yang merah gara-gara cubitan dari kami. Akhirnya kami pun sampai di depan kantin. Kami melihat Nanda sedang duduk bersama sekumpulan cowok di meja kantin.
" Yank ...!" panggil Mauliza membuat mereka semua menoleh ke arah Mauliza.
" Eh, udah sampai ya? sini duduk. Ris, Azka, Ayok duduk sini," ucap Nanda.
" Bos, cewek lo oke juga, ya? apalagi teman-temannya," ujar salah satu dari mereka di sambut dengan tawa lepas.
" Jangan buat mereka risih deh!, kalian juga jangan buat mereka marah," tegas Nanda.
" Iya-Iya ... tenang aja bos."
" Azka, kamu pesan apa? biar aku yang pesanin, ya?" ujarku.
" Beneran?" Azka kegirangan aku mengangguk meyakinkannya.
" Aku copy aja deh," ucap Azka. " Kamu pesan batagor sama es teh, kan?."
" Iya." Aku langsung pergi memesan beberapa makanan, namun pada waktu aku mau balik lagi, tiba-tiba tidak sengaja aku bertabrakan dengan Arian.
__ADS_1
" Eh, maaf bang, a- aku ngak sengaja."
" Nggak papa," ujar Arian lalu pergi begitu saja.
Aku merasa ada yang aneh pada Arian, terlihat wajahnya sedikit lesu kurang bersemangat. Aku kembali ke meja di susul datangnya pesanan dari ibu kantin.
" Neng, ini pesanannya."
" Iya, Buk makasih ya."
" Punya kita ngak di pesan nih?" tanya teman Nanda.
" Ngak, pesan aja sendiri," acuhku dengan senyuman dan tawa kecil.
...----------------...
Hari begitu cepat satu semester sudah berlalu, teman-teman Nanda mulai akrab dengan kami semua khususnya Rama yang mulai suka dengan Azka hingga akhirnya mereka berpacaran, begitu juga dengan aku yang jatuh hati kepada seorang siswa yang bernama Ihsan.
Awalnya hubunganku dengan Ihsan berjalan dengan lancar tanpa di ganggu dengan mata batinku. Tapi beberapa bulan lamanya hadir orang ketiga yang membuat hubungan kami berantakan hingga akhirnya aku sakit hati yang kedua kalinya, apalagi kiriman guna-guna yang aku alami bertambah parah jadinya. Papa selalu mencari cara bagaimana melepaskan aku dari guna-guna tersebut tapi usaha papa belum berhasil juga.
Tante Mira selalu saja berulah di keluargaku, ia bahkan mengirim genderuwo ke rumahku pada malam Rabu dan kuntilanak pada malam Jum'at. Sekarang rumahku bagaikan rumahnya hantu yang setiap malam tertentu ayu harus turut andil membantuku.
" Yu, kenapa tuh Nenek sihir, selalu aja bikin ulah di rumahku," ujarku.
" Dia itu punya dendam lho Ris ...!" ucap Ayu seraya duduk di dekatku.
" Oh, ya gimana caranya kita bebas?" ucapku sambil tanganku meraih bantal dan memeluknya.
Ayu duduk terdiam, sepertinya dia memikirkan sesuatu tidak lama kemudian dia mengatakan kalau ada cowok remaja di SMA kota Juang yang kondisinya sama sepertiku mempunyai mata batin bisa melihat makhluk tidak kasat mata. Cowok itu memiliki penjaga yang bernama Aldi, dia temannya Ayu di dunia lain mungkin dialah yang bisa membantuku.
" Dan ... cowok itu sudah punya pacar, aku cemburu tau!" ucap Ayu.
" Jadi kamu itu suka sama Aldi?" Ayu mengangguk mantap.
Aku sempat berpikir siapa cowok itu, kemudian Ayu mengatakan nama cowok itu adalah Arian Nafis Ramanda," Seketika aku terkejut mendengarnya, dia itu pacarnya April. Lalu Ayu menyuruhku pergi ke gudang tanpa memberikan alasannya, bersamaan dengan itu dia pun menghilang entah kemana perginya.
__ADS_1
Aku masuk ke gudang dan melihat barang-barang yang sedikit berantakan, mataku tertuju pada satu kotak besar yang di dalamnya berisi mainan anak laki-laki dan tertulis sesuatu di kotak tersebut. ' Barang kesayangan Ari'
Apa maksud dari ini semua? kenapa kotak ini ada disini? siapa Ari?, batinku .