
Namun pagi ini aku tidak bisa pergi gara-gara berangkat dengan papa.
“Ada halangan dikit, ko..", “Gara-gara dia?" Tanya Azka melirik ke arah putri yang sedang berjalan memasuki gedung sekolah.
“Hem" jawabku. Aku memang sudah cerita semuanya kepada Azka lewat komunikasi ponsel kemarin sehingga mereka tahu semuanya.
“Ris, aku punya kabar penting!" Ucap Azka bersemangat
“Apa?", “Mauliza, Mauliza udah sadar dari koma, Ris!"
Aku membelalak sempurna, “Serius ka?,ga boong?" Tanyaku tak percaya, “Serius, Ris.."
“Gue jadi ga sabar buat kesana, ka.." ucapku seraya menyeruput jus jeruk di lapangan basket, “Sepulang sekolah kita ke sana, ya?", “iya, tapi gue pulang sama papa, pasti... ujung-ujungnya Lo yang jemput gue.." ujarku merasa tidak enak.
“Gak papa, Ris..,aku bakal jemput kamu, tenang aja"
“Boleh ikut nggak?"tanya Aprili yang kebetulan lewat.
“Boleh kak" jawab kamu serempak, “kalau gitu kalian naik mobil aja, biar Abang yang bawa" sambut Arian.
“Bukannya mobil Abang di bengkel?" Tanyaku, “Udah, tadi pagi di telfon, dan sekalian buat beli baju buat acara tunangan kamu berdua" ujar Arian, “jadi acara,ya?" Tanyaku ragu, “Masalah keluarga bukan alasan buat hentikan acara penting kami, nga bisa di rumah kalian bisa di rumah ku, kok.." ujar Aprili, “kalian pilih yang bagus, ya" tambahnya.
“Siap!, kami bakal bantu kok!" Jawab Azka.
“Eh, gue ke toilet bentar, ya" aku mendadak ingin buang air kecil
“Iya deh, sana nanti bocor lagi" ucap Azka cengengesan lalu aku pun pergi dan ternyata Aprili menyusulku tidak lama setelah ku pergi. Putri mencari cara untuk membuat Arian benci padaku, ia sengaja berpura-pura terluka dan pergi menemui Arian yang sibuk memainkan ponselnya di sebelah Azka yang sibuk bercermin.
“Bang Ari..." Ucap putri lirih membuat Arian dan Alka menghentikan kesibukannya, “Riska bully aku bang..., Dia gak terima kalau papa nikah sama mama aku.." ujar putri menunjukkan luka buatannya, “S-seriusan?, Riska gak gitu orang nya.." ucap Azka tak percaya, “Ini beneran..tadi Riska bukan ke toilet.. tapi melabrak aku, bang.." tidak ada respon dari Arian. Tepat saat itu juga aku dan Aprili kembali kesana dan mendengar itu semua, “Kapan?, Kapan gue labrak Lo?, pas ke toilet tadi? Perasaan gue perginya sama kak rili" ucap mu seringai.
“Bang, Riska beneran lukain aku..!"
__ADS_1
“Diam Lo bangsat!, Lo pikir gue peduli?, mau Lo di pukul, di bunuh gue gak peduli!" Ucap Arian membuat putri bungkam
“Luka mu palsu dek, ngak usah bohongin kita yang udah kakak kelas kamu, kamu udah sering make up horror darah, jadi..kamu kayaknya harus belajar lagi deh.." ujar Aprili
Walaupun luka itu kelihatan nyata, bagi Aprili si make up profesional itu sangat jelas kalau luka nya buatan
“Mau nipu ya, hahaha!" Azka mulai tertawa. Putri segera pergi dengan marah bercampur malu, ia benar-benar gagal.
Pada saat pulang sekolah kami menunggu Arian di pekarangan sekolah, Arian hendak mengambil mobilnya sebentar lalu kembali ke sekolah nanti.
Terlihat sebuah mobil berhenti di depan sekolah dan papa keluar dari sana “Ayo pulang" papa menoleh padaku.
“Riska ngak pulang, kami semua mau ke rumah sakit, jenguk Mauliza sama kiram" ujarku lalu papa segera mengangguk dan begitu putri masuk ke mobil, papa segera menyetir mobil itu hingga hilang dari pandangan. Tidak lama Arian pun sampai, kami segara menuju ke rumah sakit namun sebelum itu menyempatkan membeli buah.
Di rumah sakit, kamu menulusuri koridor dan masuk ke salah satu ruang di sana. terlihat seorang gadis tengah duduk berbincang dengan orang tuanya.
"Mauliza!!" Aku segera memeluk erat gadis itu. “udah sehat?",“udah, dong...!, gimana kabarmu?" Tanya Mauliza girang.
“Kayak yang Lo liat.."mendengar ucapan “lo" itu Mauliza tak lagi terkejut karena tadi pagi ia sudah dengar dari Azka
“Belum sih...,tapi cuma perlu istirahat kok" ucap Mauliza
Mendadak mataku berkaca-kaca, lalu memeluk Mauliza kembali “Za..,gue kangen banget main sama lo lagi..,gue benci sama orang yg udah buat Lo kayak gini.." ujarku lirih. Mauliza tersenyum, ia kemudian mencubit pipi ku,“ seorang Riska masa mau nangis?, gak boleh dong...aku tau Nanda udah bikin Masalah hingga terjadi kayak gini..,gak baik lho benci sama orang, lama-lama lagi!",“gue gak bisa maafin dia Za.."
“Terserah kamu Riska, aku gak berhak larang."
Mauliza melirik ke arah Arian yg berdiri sejajar dengan Aprili. “Bang Arian ikut, toh..." Ucap mauliza, “Iya..sekalian jenguk calon adek ipar.." mendengar itu aku menatap Arian serius membuatnya terkekeh
“Za, kita bawa buah, nih.." ujar Azka yang dari tadi sibuk menelpon Rama kini telah selesai.
“Repot-repot kalian kayak gitu..tapi makasih..."
__ADS_1
“permisi" ucap Arian ketika kami masuk ke ruangan kiram, Shifa segara beranjak mendekati kami, “wah..ayo masuk" ujar shifa lalu menyuruh kami duduk di sofa
“tante,maaf ya..,Riska tdi pagi ga ke sini.."
“gak apa-apa,kok..,kamu sehatkan?"
“Iya, sehat kok,Tan.."
Aku melirik kiram yang tak kunjung bangun “ram, andai kamu bangun..pasti aku bakalan lupain kehidupan pahitku walaupun sementara.." batinku.
“Tante, ini pacar Arian, namanya Aprili" ujar Arian mengenalkan Aprili. “Wah, cantik juga..,kamu temen sekelas sama kiram, ya?"
“Iya Tante.."
“Ris, kamu mau minum?, dari tadi kamu gak minum lho.." ujar Azka
“Makasih"
“Tadi Tante sempat dengar dari Azka, kalian ada masalah keluarga, ya?, kalau mau cerita jangan sungkan sama Tante.." Shifa memandangi ku dan Arian. “Tante, Riska pengen cerita Tante mau dengerin? Tante Shifa mengangguk pelan
Aku menceritakan semuanya. Tante shifa kemudian mengelus pucuk kepalaku, “Kalian pasti bisa hadepin ini" ucapnya
Seusai dari rumah sakit, kami segera pulang di perjalan seperti biasa aku selalu melihat sosok-sosok aneh hingga sampai rumah setelah mengantar Azka dan Aprili
“Kalian udah pulang, ya..ganti baju sana lalu makan,mama udah siapin makan siang buat kalian" ujar mama ketika melihat kami sudah pulang “Iya, Ma." Baru saja menulusuri ruang tv. Papa memanggil kami berdua, “Arian!, Riska!"
“kenapa, Pa" tanyaku
“kalian bully putri, kan?" Perkataan papa membuat Arian nyengir, “Kapan ya?,oh iya..yang dia make up darah itu kan, dek? Ujar Arian memutar mata malas
“Jangan bohong Kalian!, jelas-jelas putri sampe nangis tadi!" Papa masih dalam keadaan marah.
__ADS_1
“Huff..Pa..,kalau ga percaya, papa bisa tanya siswa SMA itu besok," Ujarku. Lalu menarik Arian menaiki tangga.
"Riska, Arian! Papa belum selesai bicara!."