Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
23. Bayangan Hitam


__ADS_3

Hari-Hari pun berlalu, sore itu aku melihat ada yang menggantung di bahu dan kaki mama, terlihat mama begitu berat mengayunkan langkahnya. Aku yang melihat ingin sekali memberitahukan mama tapi bagaimana caranya?, aku memutar otak mencari alasan hingga akhirnya menawarkan diri. " Ma, mau nggak Riska pijitin?" tawarku dan Mama pun langsung mengangguk.


" Nggak tahu kenapa, dari tadi siang bahu dan kaki Mama begitu berat rasanya," Mama pun duduk di sofa dan merelakan bahu dan kaki aku pijitin.


Aku terus memijit Mama serta mulutku membaca sesuatu hingga akhirnya yang aku lihat tadi sirna seketika itu juga. Walau pun aku tahu ini beresiko tinggi buatku, tapi ini tidak ada jalan lagi. Syukurlah ternyata apa yang aku takutkan tidaklah terjadi.


...----------------...


Pagi pun tiba, aku seperti biasa bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Pada ketika aku sampai di sekolah entah kenapa tiba-tiba aku merasa tidak enak badan, aku memasuki ruang kelas dan langsung duduk di tempatku dengan lesu.


"Ris, kamu kenapa? kok mukanya pucat gitu," tanya Azka yang datang langsung duduk di dekatku.


" Nggak tahu nih, sepertinya aku sakit deh," ujarku.


" Lah, kalau sakit kenapa harus sekolah? mendingan istirahat di rumah.


" Tadinya baik-baik saja, pas masuk gerbang sekolah tubuhku mulai ngak enak."


Bel masuk sekolah pun berbunyi dan pak Anwar guru mata pelajaran pertama pun masuk, aku masih sanggup mengikuti pelajaran sampai habis jam pelajaran pak Anwar. Pada saat masuk jam pelajaran olahraga aku tak sanggup lagi untuk berjalan ke ruang pergantian seragam, hingga aku memilih untuk tinggal di dalam kelas.

__ADS_1


Di kelas masih tersisa empat orang lagi yang belum keluar, Azka, Sultan, Putri serta diriku. Pada saat aku ingin bangun tiba-tiba tubuhku kehilangan keseimbangan dan akhirnya " Brukk" Jatuh kelantai.


"Riska ... ," Semua yang melihatku langsung berlari ke tempatku.


"Ris, kamu kenapa?" tanya Azka yang sangat panik.


" Tolongin aku, Azka kepalaku sakit banget kakiku lemas dan tidak bisa di tegakkan," Azka melihat Sultan dan Putri.


" Kalian bisa bantu nggak? angkatin Riska ke ruang uks," Dengan bantuan mereka aku diangkat menuju ruang uks. Tubuhku sangat berat sekali mereka hampir saja menjatuhkan tubuhku untung saja ada kakak kelas yang melihat dan segera membantu.


" Makasih banyak Bang Riski, kalau tidak ada Abang kita pasti sudah jatuhin Riska tadi," ujar Azka.


" Sepertinya dia parah sakitnya, kalian harus segera menghubungi orang tuanya," ungkap Riski lalu segera keluar dari ruang uks.


" Azka, tanganku keram banget nih," Azka langsung memegang tanganku.


" Ris, sebenarnya Kamu ini sakit apa sih?" ujar Azka.


Tak lama kemudian, Arian yang kebetulan masuk keruang uks mencari obat ia seperti kanget melihat kami di dalam ruang uks. Pada ketika Arian melihat Azka lagi memegang tanganku dia pun berkata. " Jangan Lo pegang tangan dia lepaskan, nanti kamu sakit seperti temanmu," Azka menarik tangannya dan menjauhkan dari tanganku. Aku sangat kaget dengan ucapan Arian, aku berfikir Arian ini pasti tahu sesuatu atau mungkin saja dia mempunyai mata batin yang bisa melihat hal-hal gaib juga.

__ADS_1


Setelah berkata Arian pergi keluar dari ruang UKS. Aku menceritakan semua kejadian kemarin pada Azka, termasuk apa yang terjadi padaku termasuk resiko kemarin. Di ruang UKS saat itu hanya kami berdua saja yang membuatku lebih leluasa menjelaskan pada Azka, aku juga turut menceritakan bahwa tanganku ini sempat menyentuh sesuatu yang ada di bahu Mama. Kepalaku mendadak sakit sekali bahkan tanganku juga ikut sakit aku tidak tahan lagi sampai aku menangis.


" Azka, sakit banget ...," isakku. " Aduh gimana, nih ...?" Terlihat Azka panik sendiri karna aku mengerang kesakitan.


" Aaaah!, sakit ...," teriakku membuat Azka terkejut, ia langsung mencegahku agar tidak berteriak kencang takut didengar oleh orang lain. Namun tidak disangka-sangka aku kerasukan.


" Ha-ha-ha," Azka bingung mengapa aku ketawa-ketawa sendiri dan tidak begitu lama baru sadar bahwa aku kemasukan. Tanganku bergerak sendiri ke leher seperti mau mencekik, namun Azka mencegah dengan memegang tanganku sekuat tenaga.


" Dia harus mati!, siapa suruh dia bantu musuhku?" ujarku di luar kendali. " Keluar kamu, jangan ganggu Riska," tegas Azka membuat mataku melotot. " Siapa kamu menyuruhku keluar?."


Tiba-Tiba Azka teringat akan Ayu. Setiap aku kerasukan pasti Ayu yang membantuku, lalu Azka meneriaki memanggil nama Ayu.


" Ayu ..., plis tolong Riska!!, aku nggak sanggup lagi dan tidak tahu kamu itu dimana karena aku ngak bisa lihat kamu. Plis Ayu, bantu Riska," Azka terus saja memohon pada Ayu yang tidak kasat mata.


Ayu sudah berada di sampingku , dia langsung mencoba mengusir roh jahat yang merasuki tubuhku. " Pergi kamu!, kamu tidak berhak atas dia," tegasku pada ruangan yang kosong. Azka menduga kalau Ayu sudah datang dan dia sedikit tenang, sekarang Ayu berhasil merasuki tubuhku.


" Azka, hubungi orang tua Riska, di depan uks anak-anak tadi dengar teriakan dan mereka penasaran, lebih baik kamu cepat hubungi sebelum guru masuk dan menyita ponselmu," Mendengar perkataan itu Azka langsung menelpon orang tuaku. Sementara itu di luar uks sudah banyak dengan kerumunan siswa yang penasaran dengan teriakan aku. Untung saja Arian datang tepat waktu, mereka pun di suruh bubar dan kembali ke lokal. Tidak lama kemudian terlihat dari jendela sebuah mobil kijang Innova hitam berdiri di dekat gerbang dan seorang pria paruh baya keluar dari sana.


" Azka, gimana Riska?" tanya Papa begitu tiba di uks. " Riska udah mendingan, Om," ujar Azka. " Om sudah minta izin sama guru buat bawa pulang Riska, kamu bantuin ya bawa barang-barangnya Riska," ucap Papa. " Iya, Om."

__ADS_1


Azka langsung saja lari ke dalam kelas mengambil semua barang-barang aku, lalu kembali lagi ke uks membawa tas milikku. Papa memanggulku dan segera keluar dari uks, dan tidak lupa papa memasangi ke wajahku masker, agar mereka tak ada yang memperhatikan nya. Begitu keluar semua mata menatap ke arah kami, termasuk Arian yang lebih-lebih menatap pada papa, entah apa maksudnya?. Aku di masukkan ke dalam mobil yang di dalamnya terdapat mama yang sedang menungguku dari tadi. Setelah semua selesai, mobil papa pun berjalan dengan laju dan Azka pun yang dari tadi cuma bisa mengantar sampai mobil kembali lagi ke gedung sekolah, dia pun menjadi sorotan mata siswa yang masih penasaran termasuk Mauliza dan Nanda.


Bersambung ...!


__ADS_2