
Arga segera masuk ke mini market mendapatkan Arletta yang sedang melihat -lihat snak. " Letta?," Panggil Arga. "Ah, iya!, Kenapa ya?," Respon Arletta pura-pura kaget dengan panggilan Arga. "Lo ngapain di sini?," Tanya Arga seraya mendekati Arletta.
"Tanam padi," jawab Arletta singkat. Arga mendadak kebingungan. "Kok tanam padi?, Lo lagi di minimarket Letta ...," Jawab Arga dengan nada polos. " Jelas-jelas gue mau beli snak, pake nanya lagi!."
"Slow mbak, slow mbak!, jangan main ngegas."
" Jadi Lo kesini mau apa?," Tanya Arletta. " Tadi gue sih lihat mobil Lo, jadi gue pastiin aja apa itu apa itu Arletta atau bukan," ucap Arga sambil tersenyum. Arletta menyengir melihat senyuman Arga.
" Gabut banget sih Lo, sana ah, gue mau belanja dengan tenang aman dan damai," ucap Arletta berharap Arga segera pergi.
melanjutkan niatnya ke rumah Rafael. Arletta langsung menekan tombol bell pintu rumah tersebut. Tiba-tiba pintu terbuka lebar, dari dalam muncul sosok Rafael dan Arletta pun di persilahkan masuk, Arletta masuk ke dalam dan pintu rumah di tutup dengan segera oleh Rafael, sedangkan Arletta duduk di sofa.
Lo udah dapat cara buat gue hidup kembali?" Tanya Rafael. " Belum, El... Gue sendiri juga bingung karena belum pernah lihat yang seperti ini," ujar Arletta menghela nafas panjang. " Gue harus cuma harus cari tubuh gue, terus balik ke sana."
__ADS_1
" Jadi kamu tidak tahu tubuh kamu di mana?," Arletta balik bertanya.
" Geu belum tahu pasti, tapi bayangan pikiran gue sih, gue itu lagi berada di suatu ruangan, dan ruangan itu cukup luas dan bagus," jelas Rafael.
Arletta terdiam sejenak sambil memikirkan solusi. "El, ini bukan hal yang mudah, tapi gue saranin Lo itu tetap berusaha, jangan gegabah. Gue yakin Lo pasti bakal ada jalan keluarnya, dan gue juga bakal berusaha juga sampai Lo bisa balik lagi ke tubuh Lo, gue sudah janjikan?," Ujar Arletta dengan tenang.
Arletta terdiam sejenak, ia menatap mata indah Arletta yang bersifat serius sekarang lalu ia pun menghela nafas pasrah.
" Iya, Lo benar juga Let, Lo mau ngak jadi teman gue."
"Akhirnya!!, Geu mau letusin balon!!," Teriak Arga. Malam itu semua tamu yang hadir tampak bahagia, Nadia mengadakan pesta ulang tahun yang cukup meriah, Riska dan Kiram turut hadir dalam pesta tersebut.
"Riska!!," Panggil Azka, mama dari Nadia. "Eh, Azka gimana kabarnya?" Tanya Riska yang merupakan sahabat sejati dari dulu, dan sekarang anak-anak mereka pun bersahabat layaknya mereka masih remaja dulu.
__ADS_1
"Baik, baik banget malahan, Mauliza belum datang ya?, kirain kalian barengan," ujar Azka.
" Mungkin mereka bentar lagi nyampek, Arga aja udah di sana tuh sama anak-anak." Riska menunjuk Arga yang tengah asyik memecahkan balon.
Bak!, Bam!!, Suara balon meletus satu persatu.
Tidak lama kemudian, Mauliza pun datang. Dia merupakan mama dari Arga, lalu Mauliza pun menghampiri kedua sahabatnya. "Sorry, telat ya!," Ucap Mauliza. "Ngak kok, aman itu!," Jawab Azka.
Arletta yang kini berdiri di dekat Nadia ikut merasakan betapa senangnya pada malam itu apalagi semua tamu undangan ikutan tersenyum gembira. Arletta menatap Nadia seolah-olah memberikan isyarat dan Nadia pun mengangguk menerima isyarah dari Arletta.
"Perhatian semuanya!!!," Ucap Arletta dengan mix di tangannya membuat semua tamu undangan memperhatikannya.
"Baiklah, sekarang tiba saatnya acara puncak yang di tunggu-tunggu dari tadi, yaitu..... tiup lilin!!, dalam hitungan mundur kita semua bisa lihat lilinnya di tiup Nadia. Oke !, sekarang kita mulai dari sepuluh ..., Sembilan," ujar Arletta sampai habis dengan bersemangat.
__ADS_1
Nadia yang berdiri di hadapan lilin yang tertanjab di atas kue tart segera meniupkan lilinnya pada hitungan terakhir.