Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
26. Diary Arian


__ADS_3

Sesampainya dirumah aku langsung masuk kamar untuk menggantikan seragam sekolah, kemudian ke dapur untuk makan siang bersama papa dan mama yang sudah menunggu dari tadi.


" Ma, Mama tahu nggak si Riska nanya apa tadi?" Papa membuka pembicaraan dengan memberitahu Mama tentang pertanyaanku tadi.


" Memangnya Riska tanya apa, Pa?" ujar Mama penasaran.


" Riska tanya, apa dia punya Abang?" jelas Papa.


Seketika Mama tertawa membuatku mengerutkan keningku, lalu aku masuk kedalam kamar dan mengambil foto yang aku ambil dari gudang dan menunjukkan kepada Papa dan Mama. Jelas terlihat muka Papa dan Mama terlihat pucat seperti menyembunyikan sesuatu.


" Nemu dimana foto itu?" tanya Papa serius. " Di gudang Pa," jawabku.


" Apa Ayu sudah memberi tahu tentang anak laki-laki itu?" tanya Papa membuatku mengangguk.


" Sepertinya, sekarang kamu harus tahu ... Riska," ujar Papa. " Namanya Ari," sambung Papa.


Papa menjelaskan bahwa Ari bangku sudah meninggal setelah kecelakaan itu, dan aku lupa ingatan. Aku bingung kenapa ini kebalikan, dan berbeda dengan diary yang aku temukan di gudang?. Jelas-Jelas di sana tertulis hanya dia yang selamat tapi kenapa papa bilang hanya kak Ari yang tidak selamat.


Sepertinya aku harus ketemu Aldi deh!, batinku.


...----------------...


" Oke ..., sekarang kalian mau bahas apa?" tanya Aldi yang baru saja muncul.


Kami bertiga ngobrol di dalam kamarku, sengaja aku minta bantuan Ayu untuk hadir bersama kami. Sekarang dia sudah di depanku.


" Aku mau nanya, apa betul Arian itu Abang kandungku ...?, dia kan, yang kamu jaga selama ini?" Tanpa menjawab ia hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Papa menceritakan semua kejadian itu, tapi sangat jauh berbeda dengan apa yang aku tahu dari buku diary Arian. Tapi papa bilang Arian yang meninggal waktu kecelakaan itu," jelasku. " Itu semua ulahnya Tante Ayu," sambung Ayu.


Sudah aku duga dari awal, ini semua ulah Tante Mira. Aldi juga menambahkan kalau Tante Mira itu sebenarnya dendam atas kematian suaminya. Sekarang aku baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya besok aku harus menemui Arian dan menceritakan semuanya yang terjadi pada keluarga kami.


...----------------...


Aku berusaha untuk mencari Arian di sekolah, tapi ternyata dia sedang ada rapat OSIS di kantor, hanya Aprili saja yang diluar sedang menunggu Arian. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada Aprili.


" Kak, boleh tanya sesuatu nggak," ujarku pada Aprili.


" Boleh, mau nanya apa?" balas Aprili.


" Keluarga Kak Arian masih lengkap nggak?" Pertanyaanku membuat Aprili kaget.


" Ini soal pribadi Arian, aku tidak boleh asal bicara," tegas Aprili.


" Huff, oke ... Arian yatim piatu, dia punya adik perempuan tapi sudah meninggal karena kecelakaan bersama ayah dan ibunya," Aku lega akhirnya Aprili mau menjelaskan.


" Memangnya kamu kenapa nanya begitu?" tegas Aprili. " Kakak tahu tentang mata batin, kan?."


" Iya, emang kenapa."


" Bang Arian pasti punya mata batin juga" ujarku membuat Aprili terkejut. " Tahu apa kamu tentang hal itu?" Aprili balik bertanya padaku.


" Aku juga punya kak, ya ... bisa dibilang keluarga kami jebakan dukun," ujarku. Aku yakin Aprili ini tidak akan membocorkan pada orang lain. " Maksud kamu?" Ternyata dia belum faham juga.


Aku kemudian memperlihatkan foto kemarin, lalu aku memberitahukan kalau anak perempuan di foto itu masih hidup termasuk orang tuanya. Sekarang anak perempuan itu sudah tumbuh remaja dia adalah aku sendiri. Untung saja kami berdua berada di tempat yang sepi jauh dari kebisingan siswa, jadi kami lebih leluasa untuk mengobrol.

__ADS_1


" Jadi ..., Kamu adiknya Arian?, dan orang tua Arian juga masih hidup?. Sepertinya nggak mungkin deh, masa sih ulah dukun," Sepertinya Aprili masih kurang percaya dengan pernyataanku.


" Sudah aku duga, Kak Aprili pasti ngak bakalan percaya kalau aku ini adiknya bang Arian. Tapi aku berani sumpah!, bahkan penjagaku sudah ngasih tahu siapa aku dan bang Arian, sedangkan penjaga bang Arian belum memberi tahu tentang hal ini. Tujuan kami sama, Tante Mira dan dukunnya yang sudah buat kami kayak gini."


Setelah aku meyakinkan Aprili dengan waktu sedikit lama, akhirnya Aprili percaya juga. Ia ingin ke rumahku untuk memastikan apakah orang tua Arian masih hidup. Setelah jam pulang sekolah aku dan Aprili janjian mau ke rumahku. Setelah Aprili melihat sendiri orang tua kami di rumahku baru dia yakin, bahkan aku menunjukkan buku diary abang Arian yang aku temukan di gudang.


Seminggu sudah berlalu, aku dan Aprili sudah mulai akrab. Kami sengaja tidak memberikan tahu Arian terlebih dulu karena menunggu hari yang tepat. Pada saat papa tidak bisa menjemputku terpaksa aku harus pulang kaki, tidak sengaja aku bertemu Arian dan Aprili yang sepertinya mereka sedang berbicara sesuatu, aku mencoba mendekati mereka ternyata benar Arian lagi menceritakan tempat terjadinya kecelakaan keluarganya dulu.


" Nasibmu sama kayak aku, keluarga ku kecelakaan disini juga kami selamat tapi Abang aku meninggalkan dan aku tidak mengingat lagi kalau aku pernah punya Abang kandung," jelasku.


" Apa mungkin ini kebetulan aja ya?, karena foto kemarin aku perlihatkan ke orang tuaku, dan ternyata nama kalian memang persis sama ' Arian Nafis Ramanda'." Arian terkejut mendengar itu, lalu aku menyebutkan semua anggota keluargaku dan namaku juga. Aprili yang melihat kami dia mengerti maksud dari pembicaraanku.


" Ah, iya kalian punya kesamaan sama-sama mempunyai mata batin kan?," ujar Aprili memancing Arian.


" Oh, ya kamu beneran bisa melihat makhluk tak kasat mata?, coba sebutkan apa yang kamu lihat disana" ujar Arian mengetesku sambil menunjukkan ke sebuah tempat disana terdapat makhluk aneh.


" Orang tua dengan tongkat kayu, anak kecil penuh dengan darah, benarkan?" Arian mengakuinya semua yang aku sebutkan benar adanya, walaupun Aprili tidak melihat apa-apa di sana.


" Aku mempunyai mata batin ini semua dari turun temurun kakekku, termasuk papaku tapi semenjak Tante Mira mengguna-gunai aku mata batinku sulit dikontrol.


" Kamu barusan bilang apa?, Tante Mira? aku ngak salah dengar kan?" aku mengangguk kepala. " Tante Mira punya dendam pada keluargaku, dulu Abangku pernah diselamatkan oleh suami oleh om Doni suami Tante Mira dari kecelakaan, om Doni meninggalkan dari itu Tante membenci keluarga kami," Aku mengungkapkan semua itu.


" Jangan bilang kalau kamu ini beneran adikku."


" Kalau semua ini benar bagaimana?, Aldi pun sudah menceritakan semuanya padaku, apa Abang tidak percaya juga?" Tiba-Tiba Aldi dan Ayu pun muncul.


" Al, dia itu ... beneran Adik gue?, dia pasti bercanda kan?" ucap Arian pada Aldi. " Maaf, ya gue telat kasih tahu Lo, sebenarnya keluarga Lo masih hidup hanya saja Lo dianggap sudah tiada gara-gara Tante Mira," ungkap Aldi.

__ADS_1


__ADS_2