
" Kamu nggak apa-apa kan?" tanya kakek tua yang membuat mataku terbelalak tak percaya bahwa aku ini masih hidup
" Kakek siapa?" tanyaku penasaran, kakek itu membalas dengan senyuman.
" Asal kamu tahu, roh itu dendam pada ayah mu, karena kakek dulu membunuh ayahnya untuk menyelamatkan ayahmu" alih kakek itu.
" Apa?!!"
" Ia selama ini terus mengambil tumbal manusia agar menjadi kuat untuk menjadi kuat untuk mengalahkan ku juga penjaga mu, semua orang yang selamat akan lupa tentang kejadian ini, juga lupa pada temannya yang sudah mati, itu karena asap bau miliknya, semua orang tidak mengingat apa yang dialami semasa di gunung ini, namun sekarang gunung ini tidak begitu berbahaya lagi, hanya karena dia ingin membalaskan dendam ayahnya padamu sehingga dia membuat semua orang menjadi sengsara" jelas kakek tua itu panjang lebar
" P.. penjaga?, maksud kakek apa?, lalu..ia menungguku datang ke gunung ini?"
" Kau akan segera tahu, jangan ungkit masalah ini begitu temanmu sadar, karena mereka akan lupa semua kejadian yang telah terjadi tadi" tegas kakek itu. " Kek, apa mereka bakalan lupa sama aku?"
" Kamu tenang saja, puncak tak jauh lagi, pergi ke arah selatan kalian akan segera sampai puncak lusa.
Setelah selesai mengatakan itu, maka kakek itu pun langsung hilang dari pandangan dan yang duluan sadar adalah Wahyu.
" Ris, kamu sudah bangun?, duh...kenapa kita tidur disini?, kamu bangun duluan?* tanya Wahyu. " Panjang ceritanya, udahlah yuk bangunin mereka." ajak ku. " Untung aja Wahyu masih ingat deh!" batin ku.
Kami membangunkan mereka satu persatu, pertanyaan yang sama juga dari mulut mereka, dan kami langsung kembali ke tenda dan melanjutkan tidur di tenda karena kamu masih kurang tidur.
Keesokan harinya aku mengarahkan teman-teman ke arah selatan sesuai dengan pesan kakek itu, kaki ini perjalanan kami aman walaupun ada sedikit rintangan.
Begitu malam tiba lagi kami pun memasang tenda kembali untuk beristirahat, lalu pagi harinya melanjutkan perjalan kembali.
Puncak sudah di depan mata, dengan senyuman kami menuju puncak, begitu sampai pemandangan luar biasa indahnya terlihat di depan mata, awan yang berkumpul bagai lautan, matahari terbenam bulan terlihat sangat dekat dari sana.
...----------------...
" Kalian tau nggak, pulang dari camping kemarin aku langsung di ajak jalan-jalan sama ayah dan Bundaku, padahal kan aku capek banget habis dari sana" curhat Mauliza di taman dekat rumahku.
" Hhh, memangnya mau belanja apa Za?" tanya ku.
__ADS_1
" Ini, nih...!, sepupuku dari Bandung ke sini, jadi ayah sama bunda mau beliin cemilan buat dia" ujar Mauliza memasang muka cemberut.
" Sepupumu itu..Dira ya? tanya Azka. " Iya, bener tuh" jawab Mauliza.
" Kalo aku nih ya...!, pulang langsung ke kasur, hidupkan musik langsung go sleep" ujar ku." kalau kamu gimana Ka?" sambung ku. " Aku main hp aja kok."
Di tengah-tengah cerita, Wahyu pun datang membawa sesuatu bersama Nanda.
" Lagi pada ngapain nih" ucap Wahyu.
" Lagi cerita tentang pulang dari camping."
" Ooh, em..Riska!, kesana bentar yuk" ajak Wahyu seraya menarik tangan ku.
" Eeh, mau kemana?"
" Udah ikut aja."
Wahyu membawa ku ke ayunan, ia memberiku sesuatu yang terbungkus. Aku membuka dan mendapati beberapa coklat di dalamnya.
Dari jauh terlihat Azka dan Mauliza memperhatikan kami dengan senyum-senyum.
" Romantis ya..!" gumam Azka.
" Pengen deh dikasih coklat.." ujar Mauliza menyindir supaya di dengar oleh Nanda.
" Pengen ya.., ya udah nanti kita beli" Mauliza terbelalak mendengar ucapan Nanda.
" Eh, beneran?" tanya Mauliza, Nanda mengangguk kepala.
" Aaaah...maacih..."
Azka hanya diam merenungi nasib jomblonya yang tak punya pacar. Aku menatap Azka dari jauh yang termenung, anak anak kecil di belakang Azka, lalu tiba-tiba anak kecil itu mendorongnya membuat Azka terjatuh.
" Aduh!, ih ..kok bisa jatuh sih!" ucap Azka kesal.
__ADS_1
" Kenapa Ka?, ada masalah hidup?, kok pakek jatuhin diri?" ujar Mauliza.
" Enak aja, aku tuh jatuh bukan sengaja, ya!" Azka beranjak dari jatuh dan bangun.
Aku heran melihat itu, Wahyu mendorong ayunan membuatku terkejut secara tiba-tiba. Saat melihat Wahyu yang mendorong rasa takutku hilang karena aku pikir anak kecil yang mendorong Azka itu mendorong ku pula. Wahyu tersenyum menatapku di ayunan membuat seketika pipiku merona lalu memalingkan muka membuat Wahyu terkekeh-kekeh, melihat tukang eskrim di depan mata, aku meloncat lari ke tukang eskrim. " Pak..., eskrim nya sa.."
" Dua pak" sambung Wahyu.
Wahyu datang lebih cepat menghampiriku juga memotong kata-kata ku ketika ingin membayar, Wahyu sudah duluan membayar eskrim milikku juga miliknya membuatku menatap matanya.
" Nggak papa, biar aku bayar aja, kira ke tempat Nanda yuk" ujar Wahyu. Kami ke tempat Nanda duduk dimana ada Mauliza dan Azka juga lalu kami ngobrol-ngobrol.
" Azka, cari cowok sana, kasian aku lihat kamu sampai kayak tadi" sindir Mauliza.
" Kan sudah ku bilang, aku tuh jatuh kayak ada yang dorong..."
" Jelas-jelas nggak ada orang" sambung Mauliza lagi.
" Tunggu-tunggu, tadi kamu bilang di dorong kan?, kalian nggak liat tadi siapa yang dorong?" ujar ku.
" Ya nggak lah, jelas-jelas si Azka cari alasan" ujar Mauliza.
" Tapi tadi aku lihat loh, yang dorong Azka itu anak kecil, masak kalian nggak lihat, padahal kan dia di dekat kalian " ujar ku.
" Serius loe Ris?, loe bohong ya?" ujar Nanda tak percaya.
" Aku nggak bercanda lho, kamu lihat nggak?"
"Nggak tuh, aku lihat Azka jatuh sendiri."
" Jadi, ceritanya nih! cuma Riska yang kuat?" sambung Azka.
" Aneh lho, masak sih cuma aku yang lihat.."
Aku mulai bingung kenapa mereka nggak melihat sedikit pun gerak-gerik anak kecil itu.
__ADS_1
Kami memutuskan untuk pulang ke rumah dan tak ingin memikirkan kejadian itu.