Antara kau dan aku

Antara kau dan aku
Pulang


__ADS_3

"Sin kita pamit ya" kata Feri sambil mengelus rambut pacarnya.


"Iya hati-hati yaa kalian semua" kata Sindi sambil melambaikan tangan ke teman-temannya .


Dan mereka berlima segera masuk ke mobil milik Dennis. Seperti biasa, Ari dapat bagian menyetir. Sementara Meta duduk di samping Ari berhubung rumahnya hanya berjarak sekitar 15 menit dari rumah Sindi.


Satu persatu mereka turun di rumah masing-masing. Mulai dari Meta, Feri dan Ari. Setelah Ari turun, Dennis segera pindah ke bangku depan untuk menyetir.


"Dera, pindah duduk di depan donk" Kata Dennis


"Nggak usah, aku di belakang aja. Nggak papa kok" jawab Dera.


"Jangan gitu donk. Ntar aku jadi kayak supir taksi online donk dan kamu jadi penumpangnya"


"Ya udah deh kalo gitu" Kata Dera sambil berpindah menuju kursi depan.


"Kamu udah lama yaa tinggal di kota sini??" Dennis memulai pembicaraan. Masih sekitar 15 menit perjalanan, dan akan terasa lama jika hanya duduk diam saja tanpa bercerita.


"Lumayan sih. sejak aku SMA"

__ADS_1


"Oh ya? sama kedua orang tua kamu??"


"Iya, tapi ibuku sudah meninggal tepat 2 tahun setelah kami pindah di sini." Kata Dera sambil melihat keluar jendela menikmati angin sore.


"Aku turut berduka cita" Kata Dennis. Dera mengangguk. "Jadi sekarang tinggal berdua saja dengan bapak kamu?" sambungnya.


"Iya. Kebetulan bapakku juga masih ada kerjaan jadi belum bisa pulang. Yaa kata bapak sih sekalian sambil temenin aku menyelesaikan pendidikan."


"Ooh gitu yaa. Kamu nggak punya saudara?".


"Punya. 1 adik perempuan. Tapi sudah meninggal saat usianya baru saja menginjak 5 tahun. Sejak saat itulah bapak dan ibuku menjagaku dengan sangat hati-hati karena tinghal akulah putri mereka. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke kota. Katanya semua demi aku" Jelas Dera.


"Bapak kerja di sebuah perusahaan Roti. Gajinya lumayan untuk seusia bapak yang hanya mengenyam pendidikan sampai setingkat SMP. Syukurlah aku selalu dapat beasiswa jadi bapak bisa menabung untuk kehidupannkami sehari-hari juga untuk melunasi tempat tinggal kami ini"


"Waaah hebat yaa bapak kamu. Bapaknya hebat sih makanya anaknya juga hebat".


"Ah kamu bisa saja" Dera tersipu malu


"Kamu juga hebat loh. Biasanya kan anak orang kaya kuliahnya hanya sekedar saja yang penting kuliah. Tapi kamu malah semangat banget kuliah. Bahkan IPK gak pernah kurang dari 3.00" Sambung Dera.

__ADS_1


"Yaa itu sih harus. Karena kalau sampai IPK turun, uang bulanan turun, fasilitas juga turun. Makanya aku harus berjuang agar tidak kehilangan semua itu." kata Dennis.


"Besok kita bareng yaa ke kampus. Kalau kamu gak enak aku jemput karena harus masuk area perumahan, gimana kalau kamu tunggu aja di pinggir jalan. Yaa anggap saja kamu lagi nunggu angkot seperti biasa. hehe" goda Dennis.


"Boleh juga sih. Tapi aku besok mau ke Rumah sakit, mau tanda tangan lembar persetujuan"


"Lembar persetujuan apa?" tanya Dennis.


"Lembar persetujuan Karya Tulis Ilmiah, bentar lagi aku wisuda loh?"


"Benarkah?" Tanya Dennis seolah tak percaya.


"Benar donk. Kan aku ngambil Diploma 3, makanya cepet kelar"


"Kenapa gak ambil S1 aja?"


"D3 aja dulu setelah itu kerja, baru kuliah lagi ngambil S1. Itupun kalau ada program beasiswa juga sih. hehe". Duuh ketawanya Dera bikin Dennis makin gemes.


Tak terasa telah tiba di depan rumah Dera. Dera pun segera turun dan melambai tangan ke Dennis sambil mengucapkan terima kasih karena telah mengantarnya pulang.

__ADS_1


__ADS_2