
Dennis terdiam. Dalam Diamnya dia berpikir, Beta sulit hari-hari yang di lalui Dera yang harus hidup dalam kebohongan.
Betapa besar perjuangan Dera demi bisa merawat dirinya yang sedang sakit. Bahkan sampai membuat berat badannya menurun.
Dennis memeluk Dera. Tak tega rasanya membiarkan Dera melewati semua ini sendirian. Hatinya sedih mendengar cerita Dera yang harus berjuang merawat dirinya dari kejauhan.
"Harusnya aku yang meminta maaf. Harusnya aku nggak berbuat hal yang bisa membuat kamu khawatir." Kata Dennis sambil membelai rambut gadis yang sangat dirindukannya itu.
Dalam pelukan Dennis yang hangat, mampu membuat Dera tenang kembali. Tangisnya pun mulai mereda. Dennis melepas dekapannya dan menghapus air mata Dera.
"Aku janji, ini terakhir kalinya kamu menangis. Aku nggak akan membiarkan kesedihan menghampirimu lagi" Kata Dennis.
"Tapi Den, aku sudah janji sama mama kamu"
"Kamu nggak usah khawatir soal itu. Aku akan pastikan semua akan baik-baik saja." Kata Dennis menenangkan Dera. Dera pun kembali tersenyum.
Mereka berdua pun meninggalkan cafe. Dennis mengantar Dera pulang ke rumahnya. Selama perjalanan pulang tak henti-hentinya mereka bercerita saling berbagi kisah selama kurang lebih 5 bulan berpisah.
__ADS_1
Mereka tiba di depan rumah Dera, suasana perumahan sangat sunyi. Mungkin karena akhir pekan sehingga banyak tetangga Dera yang pergi untuk sekedar jalan-jalan.
Dera baru saja mau membuka pintu mobil tapi kemudian tangannya di tarik oleh Dennis dan membuatnya jatuh ke pelukan Dennis.
"Sebentar saja ya" Kata Dennis. "Aku takut kalau-kalau kamu akan pergi dan menjauhiku lagi" Lanjutnya.
Dera pun membalas pelukan Dennis.
"Selama semuanya akan baik-baik saja seperti kata kamu tadi, aku nggak akan pergi kemana-mana" Kata Dera. Dennis melepas pelukannya.
"Janji ya" Kata Dennis sambil menyodorkan kelingkingnya tanda membuat janji seperti yang sering di lakukan pada saat masih kanak-kanak. Dera pun tersenyum.
"Jangan dulu turun ya. Aku pengen bareng sama kamu. 5 meniiit saja" Rengek Dennis manja. Wajah tampannya menjadi semakin tampan saat dia merengek seperti itu. Membuat Dera semakin gemes di buatnya, dan dia pun mencubit pipi Dennis.
"Ya udah 5 menit aja ya." Kata Dera. Dan Dennis tampak sangat bahagia karena keinginannya di turuti.
"Dera, kamu siap nggak untuk menikah?" Tanya Dennis tiba-tiba.
__ADS_1
"Haah menikah?" Kata Dera setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Iya menikah. Aku dan kamu jadi suami istri" Jelas Dennis.
"Kamu apa-apaan sih. Ngaco deh. Emangnya nikah gampang"
"Emangnya apa yang susah? kan sudah jelas kita saling mencintai" Dennis semakin membuat Dera gemas dengan tingkahnya itu.
"Menikah itu bukan hanya menyatukan kedua orang manusia saja Den, tapi menyatukan kedua keluarga" Jas Dera.
"Ooh itu." Dennis terdiam. "Tapi kamu mau kan?"
"Kamu ngelamar aku" Tanya Dera. Dennis pun mengangguk.
"Iih nggak mau ah. Nggak berkesan. Masa ngelamar di dalam mobil? Nggak mau jawab ah" Dera pura-pura merajuk.
"Kamu mau yang berkesan?" Ledek Dennis, Sementara Dera hanya diam sambil manyun.
__ADS_1
Tangan Dennis kembali meraih tubuh Dera. Dera yang tak sempat mengelak pun kembali jatuh di pelukan Dennis.
"Tunggu saja ya. Aku akan mulai menciptakan kenangan indah kita berdua."