Antara kau dan aku

Antara kau dan aku
Curhat


__ADS_3

Dennis tidur-tiduran di sofa ruang keluarga. Mama dan Papanya baru saja keluar untuk sekedar mencari cemilan. Dennis tidak ikut karena dia merasa lelah dan harus segera cepat tidur. Pikirannya melayang. Tanpa sadar Dennis tersenyum sendiri.. ☺️☺️


"Mas Dennis kok senyum-senyum sendiri. Lagi mikirin apa?" sapa bi Inda membuyarkan lamunan Dennis.


"Bibi ngagetin aja. Cuma lagi inget sesuatu yang lucu aja kok." jawab Dennis


"Niih bibi buatin coklat anget biar mas Dennis seger lagi. Katanya capek makanya gak mau ikut ibu sama bapak" kata bi Inda sambil meletakkan secangkir coklat hangat di meja..


"Makasih yaa bi. Iya nih bi capek banget. Kuliah hari ini full banget. Bentar lagi juga mau tidur kok ini"


"Mau bibi pijitin"


"Boleh bi. Nih punggung rasanya mau remuk karena kelamaan duduk" Dennis segera bangun dan bi Inda segera memijat punggung Dennis.


"Mas kan emang dari kecil kalo capek bermain bibi yang pijitin. Soalnya takut kalau di pijit sama tukang urut. Untung bibi punya keahlian." Kata bi Inda sembari memijat bagian belakang Dennis dari bahu hingga ke pinggang. "Mas tadi kok senyum-senyum sendiri sih, mikirin kejadian lucu apa? Cerita dong biar bibi bisa ikutan ketawa." Sambung bi Inda.


"Bibi kepo deh".


"Yaa gak papa. Biar bibi ikut seneng gitu loh mas."


Tampak Dennis menghela nafas.

__ADS_1


"Jadi gini loh bi, aku baru saja jadian sama seorang gadis"


"Oh yaa?? Siapa mas si gadis yang telah menaklukkan hati mas Dennis. Pasti dia cantik kan??" tanya bi Inda bertubi-tubi.


"Bibi satu-satu dong nanyanya. Pokoknya bi, dia gadis yang telah mencuri perhatian aku selama sebulan ini". Dennis berhenti sejenak dan menyeruput coklat hangat buatan bi Inda.


"Dia baru saja wisuda keperawatan. Dia nggak begitu cantik. Tapi dia maniiiiisss sekali." Sambung Dennis sambil senyum-senyum.


"Bibi ikut seneng mas Dennis. Dari yang bibi simak, sepertinya dia kriteria mas Dennis banget ya?"


"Nggak tahu juga sih bi. Aku sih nggak mempunyai kriteria khusus untuk mencari pasangan. Tapi pas aku melihat dia, aku tuh nggak bisa untuk nggak mikirin dia. Dan hari ini dia menerima pernyataan cinta aku. Rasanya tuh seneeeng banget bi" Cerita Dennis.


"Namanya Dera"


"Nama yang cantik. Bibi sudah bisa membayangkan kecantikan wajahnya. Nanti kapan-kapan ajak dia kesini yaa, bibi ingin kenal lebih dekat dengan orang yang telah meluluhkan hati mas Dennis"


"Iya bi nanti aku ajak kesini. Dia sangat sederhana bi. Bayangin saja, dia mempunyai dompet warna pink tapi warnanya sudah hampir putih. Berarti itu dompet sudah lama banget kan."


"Memangnya pekerjaan orang tuanya apa?"


"Cuma seorang buruh bi." Sontak bi Inda menghentikan gerakan tangannya yang memijat punggung Dennis.

__ADS_1


"Tapi hebat loh bi, mereka sudah punya rumah sendiri. Yaa meskipun cuma di perumahan sih. Bibi tau kan gaji buruh berapa, belum lagi harus menghidupi anak yang kuliah"


Bi Inda kembali melanjutkan memijat badan Dennis. Tampaknya Dennis tidak menyadari kegundahan di hati bi Inda.


"Mas tampak sangat senang. Bibi juga ikut senang" Katanya.


"Senaaang banget Bi"


"Kalau mas Dennis butuh apa-apa seperti masakan untuk pacar mas..." Bi Inda berhenti sejenak sambil berpikir.


"Dera bi. Deera"


"Iya, kalau mas butuh masakan untuk mbak Dera, mas bisa langsung minta bibi untuk buatin. Bibi akan selalu mendukung mas."


"Makasih ya bi. Bibi orang pertama yang tahu loh. Bahkan temen-temen aku belum ada yang tahu loh"


"Oh ya?? Waah bibi merasa terharu. Eh mas Dennis, ngomong-ngomong apa mbak dera secantik mbak Meta dan Mbak Sindi?" tanya Bi Inda lagi.


"Jelas cantikan Dera lah Bi" Sahut Dennis. Bi Inda hanya bisa senyum.


"Bi makasih yaa susu sama pijitannya. Aku mau tidur dulu." Dennis segera bangkit dan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2