
"Den ini brownis buatan Dera sendiri? enak loh. Mama cobain deh" Kata papa Dennis sambil memberi suapan kecil ke mamanya.
"Iya beneran enak. Lembut, Adonannya pas, nggak bantet, nggak pait. Sempurna deh. Pasti bakatnya nurun dari orang tuanya yang Chef kan?" Tanya mama. Sontak Dennis terdiam mendengar pertanyaan mamanya itu.
"Orang tuanya bukan chef ma" Kata Dennis.
"Atau dia yang chef"
"Dia seorang perawat ma, baru saja selesai wisuda. Sekarang lagi menunggu panggilan di RS."
"Waah bagus dong sudah selesai wisuda. Perawat lagi, jadi nanti kalau mama sakit ada Dera yang merawat . Ngomong-ngomong Orang tuanya punya bisnis apa?" Tanya mama lagi, sementara papa Dennis menyimak pembicaraan mereka sambil membaca koran.
"Orang tuanya tidak punya bisnis apa-apa. Orang tuanya bekerja sebagai buruh." Jelas Dennis.
__ADS_1
"Buruh? Maksud kamu buruh yang krja di pabrik-pabrik gitu?" Tanya mama Dennis setengah tidak percaya.
"Iya ma. Tapi sudah menjadi karyawan tetap, bukan kontrak."
"Iya tapi kan tetap saja buruh." Mama Dennis menghela nafas dan Papanya melipat koran yang sedari tadi di pegangnya.
"Dennis, mama sama papa tidak pernah melarang kamu untuk bergaul dengan siapapun. Tapi kalau untuk memilih pasangan hidup, kami harap kamu pikirkan baik-baik." Kata mama.
"Dia sudah selesai kuliah ma. dia anak yang pintar, kuliah dengan beasiswa, dan berhasil lulus dengan predikat cumlaude." Dennis menjelaskan.
"Kan aku bisa ngajarin dia ma. Sama seperti mama sama papa mengajari aku dunia bisnis" Dennis memberikan penawaran.
"Beda mengajari setelah dewasa dengan yang memang sudah paham sejak kecil" Kata papa Dennis memberi penjelasan setelah dari tadi hanya mendengarkan saja.
__ADS_1
"Iya sayang, kamu pikirkan baik-baik ya. Ini semua demi kamu dan masa depan keturunan kamu nanti." Dennis hanya bisa terdiam.
"Inilah kenapa sebabnya sejak awal papa pengen kamu kuliah di luar negeri, biar kamu bergaul dengan orang-orang yang memang mempunya jiwa bisnis." Kata papa.
"Naah mumpung hubungan kalian belum jauh, mama sama papa minta kamu pikirkan dan renungkan apa yang kami katakan barusan. Kami sangat menyayangi kamu, dan ini semua kami lakukan demi kebaikan kamu kedepannya nanti." Jelas mama sambil meminum teh hangat.
Mama dan Papa Dennis sudah berangkat ke kantor. Dennis masih duduk di meja makan menatap kue brownies buatan Dera yang sudah tidak utuh lagi bentuknya, seolah-olah melambangkan suasana hati Dennis yang sekarang sedang remuk. Dennis sama sekali tidak menyangka hubungan yang telah di jalani dengan Dera harus terhalang restu oleh kedua orang tuanya. Besar keinginannya untuk melanjutkan hubungan dengan Dera, tapi dia tak mungkin membantah orang tuanya.
"Mas Dennis nggak kuliah?" Kata-kata bi Inda menyadarkan Dennis dari lamunannya.
"Bentar lagi bi." Jawab Dennis singkat.
"Maaf mas, Bibi tadi sempat mendengar percakapan mas sama bapak dan ibu, sebaiknya mas Dennis pikirkan baik-baik perkataan kedua orang tua mas Dennis." Saran bi Inda.
__ADS_1
"Itulah bi, aku bingung dengan keadaan ini" Wajah Dennis tampak memerah menahan tangis. "Aku belum pernah merasa jatuh cinta, dia adalah cinta pertamaku, dia yang bisa membuat hatiku berdebar-debar bi. Tapi apa yang harus aku lakukan jika kedua orang tuaku menolak bi." Kata Dennis. Dan air mata pun mengalir perlahan dari pipinya.