
Dennis telah selesai makan malam ditemani mama, papa dan Mbak Della. Rasa sakitnya sedikit terobati dengan berkumpulnya semua keluarga. Segala yang terjadi ada hikmahnya. Mungkin ini cara Tuhan agar mereka dapat bersama meskipun di rumah sakit.
"Minum air yang banyak ya. Setelah itu kamu harus mulai puasa untuk persiapan operasi besok." Kata mama sambil membereskan peralatan makan.
"Mama besok nemenin aku kan? Mama nggak ke kantor kan?" Rengek Dennis sambil meneguk air.
"Nggak sayang. Mama bakalan selalu nemenin kamu disini. Biar papa yang pergi ke kantor." Jelas mamanya.
"Papa juga kalau nggak mendesak juga nggak bakalan ke kantor. Papa juga akan meluangkan waktu untuk kamu nak" Kata papa.
"Iya, kami semua akan menjaga kamu. Pokoknya kamu fokus di kesehatan kamu aja ya" Kata mbak Della. "Kamu udah boleh tidur ya sekarang. Nggak boleh tidur telat"
"Bentar lagi mbak. Baru juga selesai makan. Aku mau nonton TV bentar ya. Boleh kan?"
__ADS_1
"Baiklah sebentar saja ya. Setelah itu langsung tidur" Kata mbak Della sambil menyalakan TV. Kalau urusan disiplin mah serahkan ke mbak Della. 😁
Suasana rumah sakit ramai seperti biasanya. Dennis telah selesai berganti baju operasi. Kedua orang tuanya hadir menemani, begitu juga dengan kakaknya. Sementara teman-teman kuliahnya akan hadir setelah selesai perkuliahan.
Para perawat segera mendorong tempat tidur Dennis menuju ke ruang operasi. Sementara semua keluarganya menunggu di ruang tunggu. CairanbInfus telah di pasang di kedua lengannya. Dokter spesialis bersiap-siap mengenakan perlengkapan operasi. Perawat anestesi (Perawat spesialis yang bertugas memberi suntikan obat bius). Para pendamping Dokter juga telah memasuki ruangan. Mereka mengenakan seragam berwarna hijau tua, seragam khusus di ruangan operasi serta memakai masker.
Perlahan cairan bius telah di masukkan ke tubuh Dennis. Setelah beberapa saat,
"Coba angkat kaki kanan" Kata petugas anestesi. Dennis mencoba mengangkat kaki kanannya.
"Coba angkat lagi kaki kanannya"
Dennis mengangkat kaki kanannya tapi kakinya tak bisa di gerakkan. Dia mencoba lagi tapi tetap tak bisa.
__ADS_1
"Kaki saya nggak bisa di gerakkan brur ( Panggilan untuk perawat laki-laki)" Kata Dennis.
"Nggak papa. Berarti obat biusnya sudah bekerja." Kata petugas.
"Ooh baguslah. Saya kira kaki saya kenapa-kenapa" Kata Dennis.
Kemudian Dennis di pindahkan ke meja operasi. Lampu di atasnya segera di nyalakan. Kemudian masuklah seorang perawat wanita mengenakan baju khusus ruang operasi dan masker. Begitu sang perawat masuk, tercium aroma parfum yang persis dengan aroma parfum milik Dera.
Dennis mengamati perawat itu dengan seksama untuk memastikan itu adalah Dera. Tapi anggapan itu segera di tepisnya. Bukankah Dera sedang berada di kampung halamannya? Dan kalaupun Dera sudah kembali, bukankah Dera mengajukan lamaran di Rumah sakit dekat perumahan? Jadi tidak mungkin dia berada di sini.
"Pasien Dennis, kami akan segera memulai operasinya ya. Jika ada keluhan seperti sesak nafas atau jika area yang di operasi mulai terasa sakit harap segera memberitahu kami ya." Kata Perawat petugas anestesi.
"Mari kita berdo'a semoga operasinya berjalan lancar." Kata seorang perawat memimpin do'a.
__ADS_1
Setelah selesai berdo'a operasi pun segera di mulai. Aroma parfum yang mirip dengan milik Dera terus menerus tercium oleh Dennis. Meskipun Dennis tahu itu bukan Dera, tapi aromanya mampu menenangkan Dennis menghadapi operasi pertama dalam hidupnya ini. Aromanya membuat Dennis merasa bahwa Dera ada disini menemaninya menjalani operasi.