
Dennis mendekati Dera yang sedang bersiap mencuci piring. Kemudian tiba-tiba Dennis memeluknya dari belakang. Spontan Dera kaget dan melihat ke belakang.
"Dennis apa-apaan siih. Ntar bapak lihat loh." Kata Dera berusaha melepas tangan Dennis.
"Sebentar saja. Aku kangen banget. Aku sudah mau balik kampus dan nggak tahu kapan bisa ketemu lagi." Rengek Dennis.
"Manja banget siih." Dera kemudian berbalik menghadap Dennis. Sekarang mereka saling berhadapan. "Tahan dikit kenapa siih. Kan tinggal beberapa bulan lagi wisuda. Kalau sudah selesai wisuda kan jadi banyak waktu buat saling ketemu" Jelas Dera berusaha meredam rengekan Dennis. Kemudian Dennis memeluk Dera. Sebentar saja yaa. Aku butuh Vitamin P "Peluk" dari kamu" Ujarnya. Dera tertawa geli. Dibelainya rambut hitam sang pacar. Akhir-akhir ini memang sangat sulit untuk bertemu. Wajar saja Dennis begitu melankolis. Dera juga rindu, tapi dia tidak mungkin mengganggu kuliah Dennis hanya karena keegoisannya untuk bertemu.
Dennis melepas pelukannya. Ditatapnya lekat-lekat wajah manis kekasihnya yang sempat dia sangka seorang karyawan bakery itu.
"Aku pergi dulu ya. 30 menit lagi waktu istirahat selesai. Terima kasih atas vitaminnya. Rasanya aku semangat lagi" Kata Dennis menggoda.
__ADS_1
"Iya. Hati-hati yaa. Kabari aku kalau sudah tiba di kampus. Aku bakal selalu merindukanmu"
"Oh ya ada yang lupa"
"Apa?" Tanya Dera heran.
"Aku perlu vitamin C nih"
"Ada di tas aku, bentar yaa aku ambil" Dera segera berjalan tapi kemudian langkahnya terhenti karena tangannya di pegang oleh Dennis.
"Terus yang bagaimana?" Tanya Dera.
__ADS_1
Dennis memegang bibirnya dengan menggunakan jari telunjuk.
"Vitamin C "cium" maksudnya" Kata Dennis menggoda. Sontak wajah Dera memerah mendengarnya. Dipukulnya perut sang pacar dengan manja.
"Iih usil banget siih" Katanya pura-pura merajuk. Dennis pun pura-pura memegang perutnya. Kemudian Dera meencim8 pipi sang pacar. Dennis tampak masih penasaran. menunggu Dera memenuhi permintaannya.
"Yang itu nanti kalau sudah wisuda yaa" Kata Dera. Dennis menghela nafas panjang. Bukan Dera yang dia kenal kalau mudah terbujuk oleh rayuannya.
"Aku pergi yaa. Semoga sukses untuk lamaran pekerjaannya." Kata Dennis.
"Iya hati-hati di jalan. Semoga sukses juga untuk persiapan proposalnya" Kata Dera sambil menatap penuh cinta pacarnya yang tampan itu.
__ADS_1
Segera Dennis berpamitan dengan bapak yang duduk di teras, kemudian segera menuju ke mobil. Dera menatap punggung sang pacar yang bidang. Wajah tampan, tubuh atletis, keuangan yang menunjang, terkadang membuat Dera was-was dan ragu. Was-was karena takut Dennis akan terpikat oleh wanita lain yang sepadan dengannya. Ragu akan ketulusan cinta Dennis kepada dirinya. Tapi seiring berjalannya waktu pikiran kotor itu segera di tepisnya, mengingat akan perjuangan Dennis demi mendapatkan cinta gadis yang dilihatnya di angkot. Dan juga beberapa bulan yang telah mereka lewati bersama semakin memantapkan hati Dera untuk tidak lagi menaruh pikiran-pikiran aneh terhadap Dennis. Toh selama ini Dennis tidak pernah bersikap sesuatu yang mencurigakan dirinya. Begitu juga perkataan dari teman-temannya yang mengatakan kalau Dennis sangat menyayanginya semakin menghilangkan keraguan dalam hatinya.
Dennis segera naik ke mobil kemudian melambaikan tangan ke Dera dan Bapaknya. Setelah itu segera dia mengemudikan mobilnya keluar dari area perumahan menuju kampus.