Antara kau dan aku

Antara kau dan aku
Buah Kesabaran


__ADS_3

Dera segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk kemudian mengambil baju bapaknya dan pergi menuju ke kamar mandi sambil membawa handuk untuk Dennis. Baru saja Dera memasuki ruang belakang, Dera terkejut dengan apa yang di lihatnya.


"Dennis apa-apaan sih." Kata Dera sambil menutup matanya. Yang dilihat Dera adalah Dennis yang telanjang dada sambil mengibas-kibaskan bajunya yang basah.


"Loh memangnya kenapa? Apa yang salah?" Tanya Dennis.


"Buruan nih tutup badan kamu" Dera menyerahkan handuk dan baju, namun tetap menutup matanya dengan tangan. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang melihat dada bidang milik Dennis.


"Ooh ini, Kamu harus mulai terbiasa dari sekarang. Kan sebentar lagi kita akan menikah, tiap hari kamu juga akan lihat. Anggap saja sekarang kamu lagi di uji coba" Kata Dennis santai sambil mengelap tubuhnya dengan handuk dan memakai baju.


"Kalau nanti ya beda urusannya dengan yang sekarang. Sudah buruan pake bajunya. Aku nggak bisa jalan dengan mata tertutup begini nih" Kata Dera.


"Iya udah selesai ganti baju nih. Kamu ternyata cerewet juga ya"


"Emang. Sebentar lagi, tiap hari aku bakal ngomelin kamu. Anggap saja kamu lagi di uji coba." Kata Dera menirukan ucapan Dennis sambil beranjak menuju ke ruang tengah.


Dengan sigap Dennis memeluk Dera dari belakang. Hal spontan itu membuat Dera kaget.


"Dennis jangan gini dong." Kata Dera sambil berusaha melepas pelukan Dennis.

__ADS_1


"Salah kamu sendiri bikin aku gemes. Sepertinya aku nggak bisa deh lama-lama menunggu hari pernikahan. Pengennya sekarang juga kita nikah." Kata Dennis.


Karena Dennis tak juga melepas pelukannya, Dera pun berbalik menghadap Dennis dan meletakkan tangannya di tengkuk Dennis.


"Kita jalani saja prosesnya ya. Bukan hanya kamu saja yang nggak sabar. Aku juga pengen cepet-cepet jadi istri kamu." Kata Dera sambil menatap mata Dennis.


Mereka saling bertatapan mata untuk beberapa detik. Kemudian Dennis mendekatkan bibirnya ke bibir Dera. Dera pun tak menghindar dan akhirnya bibir mereka saling bertemu. Terasa hangat dan mampu menghangatkan tubuh mereka yang dingin karena hujan. Keduanya kemudian memejamkan mata


Tubuh Dera seperti terkena aliran listrik 1.000 watt. Seketika keringat dingin mengaliri tubuhnya padahal cuaca sedang dingin.


Lidah mereka bertemu. Ciuman itu semakin dalam. Dennis merasakan jantungnya yang semakin berdetak kencang. Dia pun memeluk Dera semakin erat, begitupun Dera. Keduanya saling berpelukan erat.


"Maaf ya Der" kata Dennis.


"Nggak papa. Aku juga tidak bisa menghindar. Tadi itu ciuman pertamaku loh. Kalau kamu?" Tanya Dera.


"Itu ciuman ketiga aku" Kata Dennis. Wajah Dera seketika berubah. "Yang pertama mama aku, kedua kakak aku, ketiga kamu" Lanjut Dennis. Dera pun langsung tersenyum.


"Aku ke ruang makan dulu ya ngatur makan." Kata Dera.

__ADS_1


"Jangan terburu-buru. Papa aku tuh paling ngerti situasi. Paling papa lagi ngajak mereka ngobrol. Sambil ngasih waktu buat kita berdua." Kata Dennis sambil mengecup bibir Dera lagi. Kali ini kecupannya hanya singkat. Kemudian mereka kembali berpelukan


"Ekhheeemm"


Dennis dan Dera segera melepas pelukan mereka. Ternyata itu adalah papa Dennis.


"Dera, toilet di mana ya."


"Di sebelah sini pak" kata Dera Dengan tersipu malu. Dia pun segera pergi menuju ke ruang makan sambil mengatakan permisi kepada papa Dennis.


Sementara Dennis terlihat salah tingkah. Papa Dennis berjalan menuju ke arahnya dan berbisik ke telinga Dennis.


"Sabaar. Bentar lagi juga sah kok" Kemudian dengan santainya papa Dennis menuju ke toilet sambil bersiul. Mungkin merasa menang karena berhasil memergoki Dennis hingga membuatnya salah tingkah.


Dennis pun tersenyum sendiri dan menyusul Dera ke ruang makan. Dia melihat Dera, wanita yang sebentar lagi jadi istrinya sedang mengatur makanan. Dennis menatapnya dengan penuh cinta.


Yaa benar, dia harus bersabar untuk dapat memiliki Dera. Jika dia tidak sabar pasti hubungan mereka telah kandas di tengah jalan. Kesabaran memang selalu berbuah manis.


Kini Dennis dan Dera tinggal menikmati buah dari kesabaran mereka.

__ADS_1



__ADS_2