
Masih terbayang di pikiran Dennis gadis yang dilihatnya di angkot depan minimarket kemarin. Entah apa yang begitu menarik dari gadis itu sehingga Dennis tak bisa menganggapnya hanya sekedar angin lalu seperti kata Fery. Hari ini Dennis memutuskan untuk menunggu di depan minimarket tempat dimana dia melihat angkot yang di tumpangi si gadis lewat. Berhubung dosen ijin terlambat masuk kelas, jadi Dennis bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan investigasi (ceileh kata-katanya). Kemarin tepat jam 12.30 gadis itu lewat menaiki angkot. jam 12.20 Dennis sudah sampai dan duduk sambil memakan sosis bakar.
Dengan gelisah Dennis menanti angkot lewat. Tak biasanya Dennis seperti ini. Biasanya dia gelisah menanti kurir mengantar pesanannya. Tapi situasi kali ini sungguh berbeda. setiap angkot yang lewat diamatinya tanpa kedip untuk memastikan bahwa yang di tunggu ada di dalamnya. satu dua tiga angkot lewat tapi Dennis belum melihat sosok gadis di dalamnya. Dennis semakin Gelisah.
Di kejauhan tampak angkot perlahan-lahan berjalan menuju ke arah Dennis. Dada Dennis tiba-tiba berdegup begitu kencang. Dilihatnya di dalam angkot dan tampaklah sosok yang sangat di tunggu-tunggu. Gadis berbaju putih. Masih sama seperti kemarin, dia bersandar di kursi sambil memejamkan mata. Bedanya kali ini dia mengenakan headset berwarna putih pudar, mungkin karena sudah lama sehingga warnanya memudar. Dennis terus melihatnya, lebih tepatnya mengamati dengan seksama. Dia ingin mencari tahu kemana tujuan si gadis itu. Barangkali di bajunya ada logo yang bisa di jadikannya petunjuk. Belum selesai Dennis mengamati, angkot sudah melaju meninggalkannya.
Akh tidak ada perkembangan. Masih sama seperti kemarin, Dennis hanya bisa melihat gadis berbaju putih tanpa ada informasi tambahan. Tapi setidaknya Dennis senang karena dia tahu kalau gadis yang dilihatnya kemarin adalah nyata, bukan hanya sekedar angin seperti yang di katakan Ari dan Fery. Dennis pun bergegas menuju Kampus karena tidak ingin ketinggalan pelajaran.
Matahari mulai tenggelam, para mahasiswa satu per satu mulai meninggalkan kampus. Begitu pula Dennis, Fery dan Ari. Mereka bertiga menuju parkiran dan masuk ke mobil Dennis. Rumah mereka memang searah dan rumah Dennis yang paling jauh jadi mereka memutuskan untuk memakai 1 mobil. Selain menghemat biaya, itu juga agar persahabatan mereka semakin kompak.
__ADS_1
"akhirnya akhir pekan datang juga. capek banget minggu ini. Tugas banyak banget dah kayak mau demo. Untunglah semua bisa terselesaikan tepat waktu. Wekkend ini mau kemana guys?" kata Fery sambil melakukan peregangan sekedarnya untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang kaku.
"kalau aku belum ada rencana mau kemana. Meta minggu ini mau ke pesta sepupunya jadi kemungkinan aku cuma di rumah aja weekend" sahut Ari. "kamu sendiri gak jalan sama Sindy?" sambungnya sambil menoleh ke Fery.
"nggak, Sindy mau reunian sama teman sekolahnya. Terus kamu ada rencana gak Den? Dari tadi cuma diem aja" Jawab Fery sambil mengajukan pertannyaan ke Dennis.
Dennis yang sedari tadi melongo langsung menjawab "aku nggak ada rencana sih. Aku cuman masih kepikiran dengan gadis yang kemarin aku ceritain ke kalian"
"Aku tadi sengaja nunggu di tempat kemarin, kali aja aku bisa lihat dia lagi. Dan pucuk dicinta ulam pun tiba, dia lewat di depan aku. masih sama seperti kemarin dengan menggunakan baju seragam warna putih" jelasku panjang lebar.
__ADS_1
"Mengenakan baju putih, naik angkot di jam 12an. Aku berpikiran kalau dia kerja di toko bakery. Gimana menurutmu Ar?" Tanya Fery ke Ari.
"Aku sependapat. Kan mereka kerjanya shift. bisa jadi dia pas shift siang" timpal Ari
"Oke. kalau begitu besok pas weekend kita cek di toko bakery. Kalian bisa kan temenin aku? Tadi katanya nggak ada agenda buat weekend" kata Dennis.
"Yaa emang nggak ada agenda sih. Tapi kamu yakin mau nyari di toko bakery di kota X?" kata Ari dengan wajah ragu-ragu.
"Yakin donk. Ntar aku tanya papa deh dimana aja letak toko bakery. Jadi deal ya besok kita mulai investigasi toko bakery?"
__ADS_1
"Siap boozz" Sahut Fery dan Ari hampir bersamaan. "Pasti akan kita bantu, siapa tahu temen kita satu ini bentar lagi gak bakalan jomblo lagi" Sambung Feri. Mobil pun melaju perlahan menuju kediaman mereka bertiga.