Antara kau dan aku

Antara kau dan aku
Episode Tambahan 4


__ADS_3

Dera sedang mengemasi pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas. Sementara Dennis tengah duduk sambil asik main game di ponselnya.


"Kamu nggak papa kalau langsung jalan jauh? Kalau kamu mau, kita bisa nginap disini lebih lama." Kata Dennis.


"Nggak papa kok, kan kita cuma mau ke rumah liat bapak. Lagian kan aku duduk di mobil".


"Aku khawatir aja sih. Takut kamu kurang nyaman."


"Nggak. Kamu sendiri apa nggak kurang nyaman?"


"Kalau aku sih kurang pelukan." Kata Dennis sambil merentangkan tangannya.


"Udah deh, kan udah dapat jatah tadi abis sarapan. Ayo bapak nungguin nih. Kita mampir beli lauk ya"


"Siaapp"


.


.


.


.


Dera duduk di kursi ruang keluarga sambil menonton TV di temani Dennis dan juga bapaknya. Suasana rumah sunyi karena kerabat Dera sudah pulang tadi pagi setelah sarapan.


"Kalian mau kemana hari ini?"

__ADS_1


"Belum tahu pak. Mungkin bakalan nginep disini." Kata Dera.


"Loh nggak mau jalan-jalan kemana gitu. Mumpung kalian masih cuti kan?"


"Terus bapak bakal sendirian dong" Kata Dera lagi dengan wajah memelas.


"Ya ampuunn jadi kamu mikirin bapak?" Kata bapak Dera sambil tersenyum.


Dera mengangguk dan berkata.


"Aku kepikiran kalau harus ninggalin bapak sendirian di rumah"


"Oh iya bapak belum sempat cerita sama kamu saking sibuknya nyiapin pernikahan kamu. Jadi gini, sepupu kamu Agus anaknya bibi Jeni. Kamu masih ingat kan??"


"Iya pak, yang kecil gendut itu kan?"


"Eh jangan salah, sekarang dia sudah tumbuh jadi pemuda tampan. Dan bulan depan dia mau kuliah di universitas tempat kamu kuliah. Rencananya mau tinggal disini"


"Iya serius? Bibi Jeni juga nggak sempat bilang ke kamu karena bibi lihat kamu sibuk banget. Makanya kita sepakat untuk ngasih tahu kamu setelah pesta pernikahan".


"Alhamdulillah bapak ada yang nemenin. Aku kepikiran banget kalau harus meninggalkan bapak sendirian di rumah" Kata Dera.


"Jadi nggak usah kepikiran lagi ya. Kamu jalan-jalan aja dulu sama suamimu. Nikmati masa-masa pengantin baru"


"Terima kasih ya pak. Ehmm.. Bapak nggak papa kan kalau aku tinggal sama Dennis di rumahnya? Aku janji bakal sering mengunjungi bapak di sini".


"Tentu saja nggak papa dong nak. Dennis itu suamimu, sudah selayaknya kamu menuruti suamimu. Justru bapak yang berdosa jika melarang kamu untuk pergi bersamanya" Jelas bapak Dera. "Rumah Dennis rumahmu juga, begitupun sebaliknya rumah ini rumah Dennis juga jadi jangan segan-segan untuk datang dan menginap disini." Sambungnya.

__ADS_1


"Bapak memang terbaik deh. Aku akan mengirim bapak lauk tiap hari, biar bapak nggak usah sibuk masak. Kan bapak sudah capek dari kerja" Kata Dera.


"Nggak usah repot-repot. Bapak bisa beli lauk di warteg kan".


"Bapak, Dera pasti bakal kangen banget sama bapak" Kata Dera sambil memeluk bapaknya.


"Kamu nih ya. Sudah menikah tapi manjanya nggak ilang-ilang" Bapak Dera membelai rambut Dera.


.


.


.


.


Mentari mulai tenggelam. Dennis dan Dera tengah di perjalanan menuju ke kediaman Dennis.


"Besok terakhir aku cuti, soalnya lusa sudah masuk kerja lagi." Kata Dera.


"Apa nggak sebaiknya kamu berhenti kerja dan di rumah saja? Biar aku yang kerja". Kata Dennis.


"Terus aku ngapain di rumah? Kamu enak tiap hari bisa ketemu orang banyak. Sementara aku di rumah saja menunggu kamu pulang kerja"


"Kan weekend kita bisa jalan bareng"


"Aku bakal bosan Den, pliiis ijinin aku kerja dong. Kalau sudah punya anak kan enak ada yang nemenin di rumah. Tapi untuk sementara aku kerja dulu ya. Boleh kan?" Rengek Dera.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi janji ya nggak boleh capek-capek"


"Iya sayang" Kata Dera sambil tersenyum bahagia.


__ADS_2