Antara kau dan aku

Antara kau dan aku
Hujan Deras


__ADS_3

"Saya bersedia menjadi pendamping hidup Dennis" Kata Dera.


Seluruh orang di ruangan itu menarik nafas lega.


"Alhamdulillah" Kata papa Dennis. "Baiklah kalau begitu untuk urusan lamaran secara resmi akan kami adakan secepatnya. Pada saat lamaran itu nanti kami akan menghadirkan keluarga terdekat kami, dan bapak juga harus menghadirkan keluarga terdekat Dera." Lanjutnya.


"Kalau soal barang-barang kebutuhan seserahan dan mas kawin, biar Dera dan Dennis saja yang menentukannya sendiri. Kami selaku orang tua akan berusaha mewujudkan pernikahan impian mereka semaksimal mungkin" Kata mama Dennis.


Bapak Dera mengangguk-angguk menyetujui perkataan orang tua Dennis. Sementara Dera nampak sangat bahagia sekali. Senyum selalu menghiasi wajahnya. Dia sangat tidak menyangka bahwa hari ini adalah awal saat bersejarah dalam hidupnya.


"Bapak dan ibu sekalian makan malam di sini saja ya." Tawar bapak Dera "Dera pasti kamu memasak hanya untuk kita berdua kan. Ayo beli makanan tambahan" Lanjutnya sambil menatap Dera.


Dera langsung bangun dari tempat duduknya dan beranjak pergi.


"Dennis nih kunci mobil. Antar Dera tuh" Kata papa Dennis sambil menyerahkan kunci mobil.


"Tidak usah pak. Cuma dekat kok rumahnya. Jalan kaki saja" Tolak Dera dengan halus.


"Ya sudah temani sana jalan kaki" Kata papa Dennis lagi.


Mereka pun segera pergi.

__ADS_1


"Ini pertama kalinya ya kita jalan bareng di kompleks perumahan kamu" Kata Dennis.


"Iya, meskipun baru pertama tapi kamu sudah bisa mulai menghafal jalannya dari sekarang."


"Menghafal jalan? Untuk apa?" Tanya Dennis heran.


"Yaa biar nanti saat aku nyuruh kamu, kamu bisa pergi sendiri tanpa nyasar" Kata Dera.


Dennis terdiam mencoba mencerna kata-kata Dera. Kemudian dia meletakkan tangan di bahu Dera untuk merangkulnya sambil terus berjalan.


"Jadi kamu sudah mulai membayangkan kehidupan kita setelah menikah ya"


"Aku saja belum memikirkan sampai situ loh. Bahkan aku saja belum.." Kata-kata Dennis terhenti dan dia menyentuh bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya.


Sontak wajah Dera jadi merah. Lalu melepas rangkulan Dennis dan mencubit perut Dennis.


"Awas ya kamu. Ayo buruan jalan" Dera pun pergi lebih dulu.


"Mbak Dera mau beli apa?" Tanya sang pemilik rumah makan.


"Saya beli ayam goreng, sayur sama bakwan ya" Jawab Dera sambil menyodorkan sejumlah uang.

__ADS_1


"Iya mbak. Ini siapa mbak?" Katanya sambil menunjuk Dennis.


"Oh ini, dia calon suami saya. Namanya Dennis. Tampan kan pak?"


"Iya mbak tampan banget. Waah mbak Dera ini, nggak pernah jalan sama cowok, sekalinya jalan langsung sama calon suami. Semoga lancar-lancar ya mbak. Jangan lupa undang bapak"


"Siiip pak."


"Ini mbak." Kata pemilik rumah makan sambil menyerahkan bungkusan. "Buruan pulang mbak. Sudah mulai gerimis nih"


"Iya pak makasih. Permisi ya".


Mereka pun segera pulang ke rumah Dera. Benar saja kata bapak pemilik rumah makan tadi, belum lama mereka berjalan hujan deras turun dengan lebatnya.


"Dera kita berhenti dulu yuk" Kata Dennis.


"Nggak usah lah. Nggak enak orang tua kita pada nunggu. Yuk kita lari saja" Ajak Dera. Kemudian mereka berdua pun berlari di tengah hujan yang amat derasnya.


Setibanya di rumah Dera,


"Ya ampun kalian sampai hujan-hujanan kayak gini. Ayo buruan ganti baju biar nggak masuk angin. Dera kamu ambilkan baju bapak ya buat di pake Dennis." Kata bapak Dera. Dan Dera pun segera masuk ke rumah di susul Dennis di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2