
"Bapak gitu deh. Dera kan jadi malu" Kata Dera.
"Looh kan memang benar nak Dennis ini sangat tampan" Kata bapak Dera. "Oh iya kalian sudah makan belum. Ayo kita makan bersama. Bapak sudah siapkan." Sambung beliau sambil mengarah ke ruang makan. Tampak ruang makan yang sangat sederhana. Berbeda jauh dengan kepunyaan Dennis di rumah. Dennis melihat sekitar. Terpajang foto keluarga yang masih ada ibu dan adik Dera.
"Ini pak, tadi kami mampir ke warteg. Kan kita kedatangan tamu jadi beli makanan tambahan" Kata Dera sembari mengatur bungkusan yang mereka bawa.
"Waah kebetulan sekali. Soalnya menu hanya ikan lele goreng sama sayur daun ubi. Takutnya nggak cocok di lidah nak Dennis." Kata bapak Dera sambil tertawa.
"Tidak kok pak. Saya juga biasa makan ikan lele" Kata Dennis. Sementara Dera tampak menyendok nasi di piring, kemudian piring itu di letakkan di depan bapaknya, Dennis kemudian di depannya sendiri.
"Sudah siap. Ayo makan" Katanya.
Mereka pun makan siang bersama.
"Nak Dennis sebentar lagi selesai kuliah yaa?" Tanya bapak Dera di sela- sela makan.
__ADS_1
"Iya pak. Kalau tidak ada halangan awal tahun depan sudah wisuda"
"Waah berarti lagi sibuk-sibuknya yaa sekarang"
"Iya pak. Ini saja masih haru balik lagi ke kampus"
"Makanya itu pak sangat sulit bagi kami untuk saling ketemu meskipun sekedar ngobrol sebentar saja" ungkap Dera manja.
"Bakal lebih sulit lagi ketemunya kalau kamu sudah mulai kerja" Kata bapak Dera lagi. Tampak Dera dan Dennis terdiam sesaat.
"Itu resiko pak. Kami jalani saja. Yaa pintar-pintarnya kami mengatur waktu saja seperti sekarang ini" Kata Dera.
"Insya Allah pak" Kata Dennis mantap. Dera mengangguk.
"Papa hanya bisa mendoakan untuk kebaikan kalian saja. Kalian sama-sama sudah dewasa. Sudah bisa berpikir jernih. Dan juga kalian sudah saling memahami satu sama lain, pastinya kalian bisa menghadapi apapun itu masalahnya." Bapak Dera mengambil suapan besar nasi dan ayam goreng kemudian memasukkan ke mulutnya
__ADS_1
"Apalagi kalau cuma masalah nggak ketemu, kan bisa teleponan tiap hari." Sambung beliau.
"Iya pak. Demi cita-cita kita berdua" Kata Dera penuh semangat. Dennis membalasnya dengan senyum.
"Jadi sekarang Dennis fokus di ujian akhir, Dera di kerja. Begitu kan? Kalian belum berencana menikah dalam waktu dekat kan?"
"Belum lah pak. Sebagaimana aku yang pengen membuat bapak bangga dengan lulus kuliah, begitu juga Dennis ingin membuat kedua orang tuanya bangga dengan menyelesaikan kuliahnya." Jelas Dera.
"Naah gitu dong. Bapak bangga sama kalian. Saling mendukung satu sama lain. Semoga cita-cita kalian terwujud yaa"
"Amiiinn..." Dennis dan Dera menjawab bersamaan. Mereka kembali melanjutkan makan siang dengan obrolan-obrolan ringan pencair suasana.
Selesai makan Dera segera membereskan meja makan. Bapak duduk-duduk di teras menikmati angin yang semilir. Sebenarnya Dennis bisa saja membiarkan Dera beres-beres sendiri, tapi tiba-tiba ide usilnya datang. Dia mendekati Dera yang sedang bersiap mencuci piring. Kemudian tiba-tiba Dennis memeluknya dari belakang. Spontan Dera kaget dan melihat ke belakang.
"Dennis apa-apaan siih. Ntar bapak lihat loh." Kata Dera berusaha melepas tangan Dennis.
__ADS_1
"Sebentar saja. Aku kangen banget. Aku sudah mau balik kampus dan nggak tahu kapan bisa ketemu lagi." Rengek Dennis.
"Manja banget siih." Dera kemudian berbalik menghadap Dennis.