Antara kau dan aku

Antara kau dan aku
Gadis Berambut Pendek


__ADS_3

Setelah wisuda, Dennis pun mulai bekerja mengurus Departement Store milik keluarganya. Meskipun belum sepenuhnya kedua orang tuanya lepas tangan. Namun Dennis tetap belajar dengan sungguh-sungguh dalam mengelola bisnis.


Dengan kesibukan barunya itu mampu sedikit demi sedikit menghibur hati Dennis yang hingga saat ini belum juga mendapat kabar tentang keberadaan Dera. Bahkan Meta dan Sindi juga tidak dapat informasi dari Dera.


Memang sulit, tapi perlahan Dennis mulai bangkit menjalani hari-harinya tanpa bayang-bayang Dera.


Pagi itu Dennis dan keluarganya tengah menikmati sarapan bersama.


"Gimana kesan kamu setelah terjun di dunia kerja?" Tanya papa mengawali pembicaraan.


"Bagus pa. Rekan-rekan kerja sangat welcome ke aku. Dan mereka juga dengan sabar mengajari aku" Jawab Dennis antusias.


"Waah bagus dong. Papa jadi seneng mendengarnya. Papa sempat khawatir kalau-kalau kamu tidak betah mengurus bisnis ini"


"Betah dong pa. Bisnis ini yang membuat keluarga kita hidup. Jadi harus di lanjutkan sampai keturunan-keturunan kita nanti". Papa dan mama tampak puas mendengar perkataan Dennis.


"Tapi kamu tetap jaga kesehatan ya. Tuh suara kamu sudah mulai serak" Kata papa.


"Iya pa. Aku sudah pesan sama bibi untuk membuatkan aku wedang jahe." Kata Dennis sambil memegang segelas wedang jahe.

__ADS_1


Tiba-tiba mama bertanya,


"Apa kamu sudah dapat kabar mengenai Dera?"


Dennis tampak terkejut dengan pertanyaan mama yang mendadak itu.


"Belum ma. Kemarin ku ke rumahnya tapi tidak mendapatkan hasil yang kuinginkan." Jawab Dennis. Raut wajahnya berubah kusam.


"Maafkan mama karena waktu itu meminta Dera untuk menjauhimu"


"Tidak ma. Ini bukan salah mama." Kata Dennis berusaha menenangkan mamanya.


"Kamu jangan putus asa ya. Do'a mama dan papa akan selalu menyertaimu" Dennis mengangguk dan kemudian melanjutkan sarapannya.


"Maaf mbak tapi kami tidak bisa menerima keluhan mbak." Kata karyawan itu.


"Ya ampun mas tolonglah. Mas ingat saya kan. Saya baru saja beli kemeja ini kemarin sore." Kata pengunjung sambil memegang sebuah kemeja.


"Iya mbak tapi kami tidak bisa melakukan penukaran jika mbak tidak menyertakan struk belanjanya."

__ADS_1


"Mas tolonglah. Ini hadiah untuk ayah saya dan ini kekecilan. Kalau kebesaran saya masih bisa menerima karena masih bisa di kecilkan. Tapi kalau kekecilan gimana dong. Ini nggak bisa di pakai" Jelas pengunjung setengah memohon.


"Maaf mbak tapi itu prosedur dari Departement Store ini. Saya hanya menjalankannya."


"Saya juga salah karena langsung membuang struk belanja itu karena saya pikir kemeja ini akan pas untuk ayah saya." Pengunjung itu kemudian diam berusaha mengatur nafas agar tidak terpancing emosi.


"Tapi mas tolonglah. Mas juga bisa lihat di CCTV bahwa saya benar-benar belanja disini kemarin." Pengunjung itu tampak bersikeras agar bisa menukar kemeja yang di belinya.


Perdebatan kedua orang itu tampak menarik perhatian Dennis. Dan Dennis pun segera menghampirinya.


"Ada masalah apa ini?" tanyanya kepada karyawan. Dan karyawan itu tampak terkejut melihat kedatangan Dennis tapi kemudian dapat segera mengendalikan dirinya.


"Ini pak, mbak ini ingin menukar kemeja yang di belinya kemarin, tapi mbak ini tidak menyertakan struk belanjanya. Dan prosedur dari Departement Store jika ingin menukar barang harus ada struknya."Jelas sang karyawan.


"Ini Mbak, Owner (Pemilik) Departement Store ini" Kata sang karyawan. Kemudian pengunjung yang sedari tadi membelakangi Dennis membalikkan badannya dan menghadap Dennis.


Dennis terkejut. Pengunjung itu adalah Dera. Dia menggunting rambutnya menjadi pendek sehingga Dennis tidak mengenalinya dari belakang.


Dera pun tak kalah terkejutnya. Dia tidak mengenali suara Dennis karena Dennis sedang batuk dan suaranya sedikit serak.

__ADS_1


Saking terkejutnya Mereka pun saling bertatapan tanpa bisa berkata-kata.



__ADS_2