Antara kau dan aku

Antara kau dan aku
Biar waktu yang menjawab


__ADS_3

Tak berapa lama setelah Dennis bertemu dengan penjaga keamanan di perumahan, teman-teman Dennis tiba. Mereka pun nongkrong bersama sambil saling bercerita. Dennis pun menceritakan perihal hubungannya dengan Dera dan kepergian Dera ke kampung halamannya.


"Jadi benar Dera sudah pulang kampung?" Tanya Sindi.


"Iya. Tadi pagi jam 10 dia ngasih kabar kalau sudah tiba di kampungnya." Jelas Dennis.


"Jadi kalian LDR donk?" Tanya Ari.


"Entahlah. Aku nggak tahu tentang kejelasan hubungan kami." Dennis berhenti sejenak dan menghela nafas.


"Meskipun Dera mengatakan pulang kampung karena ingin menemani neneknya, tapi kok aku merasa Dera pergi karena ingin menghindari aku ya?" Lanjutnya sambil menatap temannya satu per satu seolah meminta pendapat mereka.


"Sudahlah nggak usah berpikiran yang macam-macam. Barangkali itu cuma perasaanmu saja" Kata Fery berusaha menyangkal pendapat Dennis.


"Iya nggak usah terlalu di pikirkan. Kan memang benar Dera pulang kampung. Kalau yang bilang pulang kampung itu Ari, nah wajar kamu merasa begitu. Kan Ari nggak punya kampung halaman. Mau pulang kemana dia?" Ucap Meta di sambut gelak tawa yang lain.


"Enak aja kamu." Kata Ari sambil mencubit pipi pacarnya itu.


"Sudah yaa nggak usah berpikir kalau Dera menghindar dari kamu lagi yaa. Biarkan Dera menemani neneknya di kampung halamannya. Dan kamu fokus saja dengan kuliah kamu seperti pesan Dera. Jadi nggak usah bahas-bahas lagi soal Dera pulang kampung. Ok??" Kata Sindi.


"Ok setuju" Kata meta, Sindi dan Ari hampir bersamaan. Dennis tersenyum mendengar masukan dari teman-temannya itu.

__ADS_1


Dennis baru saja selesai Sholat Maghrib. Dilihatnya mamanya sedang duduk sambil menonton TV. Dennis menghampiri mamanya.


"Mama gimana keadaan Departement Store?" Tanya Dennis.


"Eh kamu. Alhamdulillah semuanya aman terkendali. Kamu sendiri gimana kuliah? Proposal nggak ada hambatan kan?" Mama Dennis balik bertanya.


"Nggak ma. Semuanya baik-baik saja. Hanya perasaanku yang kurang baik."


"Kurang baik kenapa sayang?" Mama Dennis menatap wajah si anak bungsu kesayangannya itu.


"Dera pulang ke kampung halamannya ma"


"Oh ya? kenapa?"


"Bagus dong. Berarti dia anak yang berbakti"


"Tapi kok waktunya tepat banget ya. Saat mama meminta aku untuk mengakhiri hubungan dengan Dera, terus besoknya Dera tiba-tiba pulang ke kampung halaman. Aneh kan ma?"


"Apanya yang aneh sayang." Tanya mama kurang paham.


"Kok aku merasa seperti ada orang yang meracuni pikiran Dera." Mama Dennis tampak mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Kamu nggak berpikir mama yang melakukannya kan?" Selidik mama.


"Bisa jadi kan." Kata Dennis. "Mama menemui Dera kan kemarin?"


Mama Dennis menarik nafas.


"Mama akui mama memang menemui Dera. Tapi mama nggak meminta Dera untuk pulang kampung."


"Tapi mama minta Dera untuk menjauhi aku kan?" Mama Dennis mengangguk.


"Maa... Haruskah mama melakukan itu semua?"


"Tapi mama sama sekali nggak mengancam Dera atau memberikan uang atau apalah itu seperti yang di drama Televisi nak. Mama meminta tolong sebagai seorang ibu yang ingin anaknya berbakti kepada orang tuanya. Itu saja." Dennis terdiam.


"Sayang pliis jangan marah sama mama. Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu" Mama memegang tangan Dennis.


"Apa Mama ingin menjodohkan aku dengan Stela?" Tanya Dennis.


"Siapapun itu yang penting dia dari kalangan kita nak, yang mengerti dunia kita. Denn, percayalah, mama bukannya melakukan ini tanpa alasan."


Dennis menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Baik ma, aku akan menerima alasan itu. Semoga apa yang mama harapkan berjalan dengan lancar" Kata Dennis berusaha tenang. Bagaimanapun juga, Dennis tak ingin menjadi anak durhaka hanya karena keegoisannya semata. Benar kata papanya, biarkan waktu yang menjawab semuanya.


__ADS_2