Antara kau dan aku

Antara kau dan aku
Keputusan


__ADS_3

"Aku belum pernah merasa jatuh cinta, dia adalah cinta pertamaku, dia yang bisa membuat hatiku berdebar-debar bi. Tapi apa yang harus aku lakukan jika kedua orang tuaku menolak bi." Kata Dennis. Dan air mata pun mengalir perlahan dari pipinya. Kesedihan sangat tampak di wajahnya. Bibi dapat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh majikan yang sudah di rawatnya sejak kecil itu.


"Sabar Mas Dennis. Ingat kata orang tua mas Dennis, kalau ini semua demi kebaikan mas dan keturunan mas kelak. Bukannya mbak Dera nggak baik, tapi kurang tepat saja untuk menjadi pendamping mas Dennis."


"Bi, aku baru tahu rasanya jatuh cinta, dan kini aku juga baru tahu rasanya tak di restui." Dennis berhenti sejenak, menyusun kata-kata yang ingin di ungkapkannya. "Aku takut bi, aku takut melukai hati Dera. Aku nggak mau melihat dia sedih bi" Lanjutnya dengan nada terbata-bata.


"Semakin lama mas menahan, akan semakin sakit yang di rasakan mbak Dera. Jadi sebaiknya jangan di tunda-tunda lagi untuk mengatakannya"

__ADS_1


"Bi, apakah mengakhiri hubungan aku dan Dera adalah jalan satu-satunya?" Tanya Dennis, berharap ada jalan lain selain harus putus dengan Dera.


"Itulah yang terbaik mas" Perkataan bi Inda memupuskan harapan Dennis untuk tetap bertahan dengan Dera. Dengan pikiran yang kalut, Dennis berangkat ke kampus. Siapa tahu dengan bertemu teman-temannya dia bisa sejenak melupakan masalahnya.


Perkuliahan Dennis sudah selesai. Dosen yang di jadwalkan hadir berhalangan sehingga perkuliahan di tunda jadwalnya. Syukurlah, batin Dennis. Pikirannya sedang tidak fokus. Ari dan Feri sudah menunggunya di taman kampus. Kedua temannya itu tak kalah sibuknya dengan Dennis. Tapi karena Dennis mengatakan ada hal penting yang ingin di katakannya, mereka pun segera meluangkan waktu sejenak untuk menemui Dennis.


"Waah Denn, kamu tampak kurusan ya" sapa Ari begitu Dennis menghampiri mereka.

__ADS_1


"Sama Denn, semoga kita bisa wisuda sama-sama ya" Kata Feri. "Ngomong-ngomong apa yang pengen kamu bilang ke kita?" Sambungnya.


Dennis pun menceritakan kegundahan hatinya tentang pembicaraan dirinya dengan kedua orang tuanya tadi pagi. Ari dan Feri terlihat diam mendengar dengan seksama setiap perkataan Dennis.


"Aku tahu ini pasti sulit bagi kamu Den." Kata Feri setelah Dennis menyelesaikan ceritanya. "Kamu yang baru pertama kali pacaran harus terhalang restu" Feri kemudian terdiam. "Tapi aku yakin, Dennis yang aku kenal selama ini mempunyai pemikiran yang baik. Aku tahu kamu bisa mengatasi masalah ini dengan baik pula" sambungnya. Dennis pun terdiam mencoba mencerna kata-kata Fery.


"Iya Denn, Meskipun ini pengalaman pertama kamu menghadapi masalah seperti ini, tapi kami yakin kamu bisa melewatinya." Tambah Ari.

__ADS_1


"Ingatlah Den, tidak ada orang tua di dunia ini yang ingin melihat anaknya kecewa dan sedih, percayalah bahwa itu mereka lakukan untuk kebaikan anaknya. Mungkin sekarang kamu merasa hancur, tapi yakinlah bahwa suatu saat kamu akan bersyukur dengan keputusan kedua orang tuamu saat ini" Kata Ari lagi. "Coba ingat, dulu kamu pernah sangat bersemangat ingin mendaki dengan teman-teman di kompleks. Tapi kedua orang tua kamu melarang karena alasan cuaca yang tidak menentu. Kamu sempat sedih karena semua teman-temanmu pergi dan hanya kamu yang tidak. Tapi apa yang terjadi, saat mereka tiba di lokasi, tiba-tiba cuaca tidak bersahabat dan akhirnya pendakian di batalkan. Itu merupakan salah satu bukti bahwa orang tua itu tahu yang terbaik untuk anaknya meskipun terkadang apa yang mereka pikirkan bertentangan dengan keinginan kita." Kata Ari.


"Den, kami yakin kamu bisa memberi keputusan yang terbaik." Kata Feri. "Ayolah Den tetap semangat, kita akan selalu ada untuk kamu" sambungnya sambil menepuk-nepuk pundak Dennis.


__ADS_2