Api Cinta Sang Dewi Agung

Api Cinta Sang Dewi Agung
Eps. 1: Jati Diri A-Xian


__ADS_3

A-Xian berdiri di tepi Sumur Pembunuh Dewa dengan rapuh. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka dan wajahnya terlihat sangat pucat. Satu-satunya yang mampu ia lakukan hanyalah mendongak, menatap dengan penuh kecewa pada seorang abadi berpenampilan menawan, berbaju putih dan bermahkota perak bertatahkan permata dari Empat Lautan.


Genangan air matanya tidak terbendung lagi dan untuk pertama kalinya, cairan bening itu menetes dan jatuh di atas lantai Aula Tianfa, aula tempat penghukuman dewa-dewi yang bersalah di Surga. Sudut bibir A-Xian berdarah, memberikan rasa ngilu dan perih yang tidak biasa. Kata-katanya tertahan di tenggorokan.


Abadi itu – Dongfang Yue, menatapnya dengan dingin. Angin dari Empat Lautan berhembus, menerbangkan serpihan-serpihan kristal es musim dingin yang beku.


Wajah dingin Dongfang Yue seperti bongkahan es abadi di Pegunungan Utara, dan tidak ada yang lebih dingin lagi daripada itu. Di belakangnya, seorang wanita yang tak kalah menawan berdiri dengan lemah, dengan mata tertutup kain sutera putih seukuran dua jari tangan.


“Guru…”


Dongfang Yue mengangkat alisnya ketika A-Xian memanggilnya. Dia, yang disebut guru oleh wanita itu adalah Kaisar Langit, yang memimpin Empat Lautan dan Tiga Daratan.


A-Xian selalu mengagumi pria dengan keagungan tertinggi di Empat Lautan dan Tiga Daratan sebagai sosok paling murni. Wanita yang berdiri di belakangnya adalah Yingzhao, Selir Langit yang dihadiahkan oleh Kaisar Xuan Yi kepadanya seribu tahun yang lalu.


A-Xian tidak pernah mengira bahwa hidupnya akan berada di ujung tanduk. Dongfang Yue menyelamatkannya dari kejaran Klan Iblis tiga ratus tahun yang lalu, dan menjadikannya muridnya.


Pria itu membiarkannya tinggal di Istana Langit dan melayaninya, sekaligus membiarkannya menjadi satu-satunya muridnya.


Selama tiga ratus tahun ini, A-Xian menganggap Dongfang Yue sebagai satu-satunya pria baik yang menyayanginya di Empat Lautan dan Lima Daratan. A-Xian tidak banyak mengingat dari mana dirinya berasal, ia hanya tahu jika dirinya tinggal di Gunung Yanqi, hidup sebagai peri kecil yang tidak punya kekuatan lebih.


Tiga ratus tahun yang ia habiskan di Surga, ternyata membawa petaka untuknya. Perhatian dan kasih sayang Dongfang Yue kepadanya mengundang kecemburuan yang sangat besar kepada Yingzhao, hingga Selir Langit itu sangat membencinya sepanjang waktu.


Dia memandang hubungan Dongfang Yue dengan A-Xian tidak lagi sebatas guru dan murid, tetapi lebih seperti sepasang kekasih yang memadu asmara.


Semua orang menyadari itu, dan tidak mampu berkomentar karena yang mereka hadapi adalah Kaisar Langit, pemimpin mereka sendiri. Entah apa yang dilakukan oleh Selir Langit itu, tiga tahun lalu Dongfang Yue tiba-tiba berubah menjadi dingin dan kerap mengabaikannya. A-Xian tidak menganggap sebagai masalah, namun takdir sepertinya tengah mempermainkannya.

__ADS_1


Yingzhao menjebaknya dengan mencabut sumsum dewanya dan melukai matanya sendiri, lalu menuduh A-Xian melakukannya karena iri akan status Selir Langit. Hal itu membuat semua orang mulai membicarakannya. Dongfang Yue, yang bahkan biasanya begitu bijaksana, juga terpengaruh dan hendak menghukum A-Xian.


“A-Xian, segala sesuatunya harus impas. Kamu mengambil sumsum dewanya dan matanya, maka aku akan mengambil hal yang sama darimu,” ucap Dongfang Yue dengan nada sedingin es. Ekspresi di wajahnya bukan lagi ekspresi yang dikenal oleh A-Xian.


A-Xian tiba-tiba menjadi marah. Dia menyeringai dan menertawakan dirinya yang menyedihkan. Wanita itu kembali mendongak menatap Dongfang Yue, matanya memerah akibat air mata kekecewaan dan kemarahan yang bercampur menjadi satu. Impas?


Apakah gurunya itu benar-benar tahu makna dari kata impas itu sendiri? Bahkan jika Empat Lautan dan Tiga Daratan ini memusuhinya, tidak seharusnya pria agung itu membencinya.


“Guru, aku tidak akan pernah bertanggungjawab atas sesuatu yang tidak pernah kulakukan. Jika menurutmu sesuatu harus dibayar dengan impas, maka biarkan aku, muridmu ini, membayar semua budi baikmu dengan harga yang mahal,” nada suara A-Xian begitu frustasi.


Andai dia bisa kembali ke masa lalu, dia tidak akan mengikuti Dongfang Yue dan menanggung semua fitnah ini sendirian.


Yingzhao yang berpura-pura lemah perlahan menyunggingkan senyumnya. Di Empat Lautan dan Lima Daratan, tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisinya sebagai Selir Langit.


Senyuman di bibir kecil Yingzhao membuat A-Xian seperti tersayat. Bagaimana bisa, wanita yang terlihat lemah itu menyunggingkan senyumnya seperti itu?


Hati liciknya sedang bersorak menertawakan A-Xian yang telah kehilangan seluruh kepercayaan gurunya. A-Xian menghela napas dengan kecewa, lalu menatap Dongfang Yue untuk terakhir kalinya.


“Guru, dalam kehidupan ini, kita tidak saling berhutang. Lepaskan aku, dan aku akan melepaskanmu,” ucapnya parau.


Angin berdesir kembali. Tanpa pikir panjang, A-Xian melompat ke dalam Sumur Pembunuh Dewa. Mata Dongfang Yue membelalak dan tangannya refleks meraih tubuh muridnya. Akan tetapi, usahanya sia-sia. Ia hanya mampu menangkap sehelai kain putih yang biasanya terikat di atas sanggul rambut A-Xian.


“A-Xian!”


Melihat muridnya menjatuhkan diri ke dalam Sumur Pembunuh Dewa, hati Dongfang Yue seperti ditusuk ribuan jarum. Tatapan matanya menjadi kosong. Dia tidak menyangka jika muridnya memiliki keberanian sebesar itu. Dongfang Yue berjongkok di tepi Sumur Pembunuh Dewa, meratapi kejatuhan muridnya.

__ADS_1


Dongfang Yue hendak melompat. Dengan basis kutivasinya yang tinggi, setidaknya ia bisa mencari muridnya selama beberapa menit dan menariknya kembali ke Surga. Meskipun terluka, itu tidak apa-apa.


Tetapi, Yingzhao tiba-tiba berlutut dan memohon agar Dongfang Yue tidak melakukan itu hanya demi seorang murid peri kecil.


“Tian Jun, tidak pantas bagimu untuk melukai diri hanya untuk menyelamatkan seorang peri kecil,” ucap Yingzhao. Dongfang Yue lalu menatap Yingzhao. Matanya dipenuhi kemarahan.


“Bukankah matamu sudah buta?"


Yingzhao berpura-pura lemah kembali. Akan tetapi, tatapan dan aura dingin Dongfang Yue jauh lebih mematikan dibandingkan kekuatan spiritual yang ada di dalam Sumur Pembunuh Dewa ini.


Di dalam sumur, arus kekuatan spiritual yang sangat kuat berputar tanpa henti, menyerang tubuh A-Xian bertubi-tubi. Legenda mengatakan jika dewa atau dewi masuk ke dalam sini, tubuh mereka akan hancur dan jiwanya akan tercerai berai.


Jika manusia yang melompat, maka tubuhnya akan hancur dan jiwanya akan kembali ke Sungai Wangchuan, menyebrangi Jembatan Naihe dan bereinkarnasi ke dunia fana selama tujuh kehidupan.


Rasa sakit yang menderanya tidak lebih parah daripada sakit di dalam hatinya. A-Xian menahan semua serangan itu sambil memejamkan mata.


Lagipula, tidak ada gunanya memohon. Takdir selalu menipu. A-Xian setidaknya masih bisa bereinkarnasi jika jati dirinya seorang manusia, atau seorang peri kecil.


Ketika pusaran kekuatan spiritual berwarna-warni menyerang tubuhnya, sebuah suara misterius berdengung di telinganya.


Suara itu berkata, “Bai Feng Xian, tidak ada kepedihan yang tidak berujung. Tubuhmu adalah milik makhluk abadi, terlahir sebagai seorang abadi yang sejati. Kembalilah dan lupakan semua hal yang telah menyakitimu.”


Suara itu memberitahukan identitas dan jati dirinya. Dia, A-Xian, adalah seorang abadi yang sejati sejak lahir. Entah apa yang dialaminya selama ini sampai ia melupakan banyak hal dan justru menjadi seorang peri kecil di Gunung Yanqi.


Cahaya biru melahap tubuhnya sebelum A-Xian menyadari semuanya, lalu dia merasa sangat sakit dan mengantuk. Tubuhnya tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


__ADS_2