
Setiap hari, Bai Feng Xian akan menjadi penguasa dapur Istana Langit dan memasak banyak makanan untuk disajikan kepada Dongfang Yue. Pelayan peri yang biasanya bekerja semuanya diperintahkan untuk menemani dan membantu, tapi Bai Feng Xian menolaknya dan membiarkan mereka berjaga di luar pintu sampai selesai. Setelah itu, ia biasanya akan membagikan beberapa makanan kepada mereka dan kembali di keesokan harinya.
Hubungannya dengan penghuni Istana Langit bisa dikatakan cukup baik, meski Bai Feng Xian tidak betul-betul berinteraksi dengan mereka. Selain dapur, dia menghabiskan waktunya di taman Istana Tianwu, ditemani beberapa hewan spiritual peliharaan Dongfang Yue.
Rumor kemudian menyebar, bahwa Dewi Agung Qingqiu adalah kandidat Permaisuri Langit berikutnya. Posisi Tian Hou yang sudah ribuan tahun kosong akan segera terisi. Beberapa orang masih memiliki kesetiaan pada Selir Langit yang masih buron, golongan ini mencibir dan dengan tegas mengatakan bahwa itu hanya ketertarikan sesaat.
Selir Langit Yingzhao adalah wanita tercantik di Empat Lautan dan Tiga Daratan, dia bahkan ditolak oleh Kaisar Langit. Bagaimana bisa rubah ekor sembilan yang di mata mereka terlihat biasa saja ini berharga di mata Kaisar Langit?
Lagipula, Kaisar Langit masih mencintai muridnya dan tenggelam dalam masa lalunya. Itu tidak akan pulih hanya dengan kehadiran Bai Feng Xian. Ketika mereka membicarakannya, pelayan peri lain hanya akan menanggapi dan merespon dengan biasa, kemudian menjauhkan diri dan mengakhiri interaksi.
Tapi, sebesar apapun rumor menyebar dan berdengungnya gossip itu di telinga Bai Feng Xian, dia tidak menanggapinya dengan serius. Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya akan menjadi seorang Permaisuri Langit.
Bai Feng Xian tidak suka terikat aturan, sementara Kerajaan Langit memiliki aturan yang sangat ketat. Bagaimana bisa dia melibatkan diri terikat dalam aturan yang jumlahnya melebihi jumlah ikan di Danau Cermin itu?
Selain itu, hal mendasar yang membuatnya tidak menanggapi rumor itu adalah karena ia belum yakin dengan hatinya sendiri. Dongfang Yue akhir-akhir ini menjadi hantu yang datang ke dalam hidupnya, mengganggunya dengan senyumannya dan perkataannya yang terkadang membuat Bai Feng Xian tidak berdaya.
Dongfang Yue terlihat menyukainya, tapi Bai Feng Xian tahu dengan jelas jika ada masa lalu yang belum selesai antara Dongfang Yue dengan seseorang bernama A-Xian. Dalam hal ini, hanya Ming Ye dan Ji Meng yang akan menertawakannya karena ia bodoh dan tidak peka.
Bai Feng Xian tiba-tiba diselimuti penasaran akan sosok A-Xian. Dongfang Yue selalu berkata bahwa dia dan A-Xian sangat mirip.
Meskipun ia telah melihatnya di Cermin Api, tapi itu begitu samar. Bai Feng Xian tidak dapat melihat dengan jelas dan ingatan itu perlahan menjadi kabur.
Siang ini setelah dia menyiapkan makanan untuk Dongfang Yue, dia berjalan ke arah belakang Istana Tianwu. Katanya, sebelum A-Xian meninggal, Dongfang Yue membuatkannya sebuah paviliun di belakang Istana Tianwu.
Tempat itulah yang menjadi tempat tinggal sekaligus tempat pelatihannya, mungkin juga sebagai tempat mereka menjalani hari-hari yang indah selain di Gunung Yanqi.
Jalan masuk menuju paviliun itu diselimuti kabut putih yang sangat tebal. Jarak pandang Bai Feng Xian perlahan memendek ketika ia berjalan menerobos kabut itu.
Untunglah, mutiara malam yang ia bawa bisa menuntunnya menapaki jalan. Ada anak tangga yang harus dipijaki olehnya ketika ia menyusuri jalan itu.
Setelah berjalan beberapa menit, rasanya ia mulai kelelahan. Anak tangga yang satu persatu muncul dan menghilang setelah diinjak seperti tidak ada habisnya. Ia jadi bertanya-tanya, setinggi apakah paviliun yang diciptakan oleh Dongfang Yue untuk muridnya itu?
Anehnya, setelah ia menghitung tangga keseratus yang dipijaki, kabut putih yang tebal itu perlahan menghilang. Itu menyisakan sebuah pemandangan menakjubkan yang baru dilihatnya pertama kali seumur hidupnya. Di depannya, sebuah bangunan mirip sebuah istana berdiri dengan kokoh di atas awan, dengan aura spiritual yang begitu kental.
“Apakah ini adalah paviliun yang dibangun olehnya?”
Sekilas saja dapat terlihat bahwa Dongfang Yue begitu mencintai muridnya. Pavilun ini dibangun di atas awan, dengan anak tangga batu giok yang secara otomatis menjadi jalan menuju tempat itu. Langit di atas bangunannya jernih, sebiru laut. Begitu banyak bunga-bunga indah bermekaran di sana.
Bai Feng Xian menginjakkan kakinya di taman paviliun, pandangannya mengedar mengitari halaman yang luas itu. Di dekat pohon persik yang merekah, terdapat sebuah ayunan kayu dan meja kecil. Mungkin, itu adalah tempat A-Xian bersantai dan memulai pembelajarannya ratusan tahun lalu.
__ADS_1
“Majikan!”
Dia dikejutkan oleh seruan yang memanggilnya. Dari rumpun bunga peony, seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun dalam hitungan usia manusia melompat keluar. Pakaiannya serba hijau. Selain rambutnya yang dikepang dua dan tas kulit kayunya, tidak ada yang menarik lagi darinya.
“Kau siapa?” tanya Bai Feng Xian.
Gadis itu tampak terkejut.
“Majikan, apa kau melupakanku? Apa kau marah karena aku tidak bisa membantumu saat Tian Jun memaksamu sampai melompat ke Sumur Pembunuh Dewa?”
Bai Feng Xian tidak dapat lagi mengingat dan menghitung ke berapa kalinya orang salah mengira dirinya sebagai A-Xian. Ia memjiat kepalanya, menatap gadis berpakaian serba hijau dari atas ke bawah. Gadis ini, sepertinya adalah roh bunga yang menjaga tempat ini.
“Kau roh bunga penjaga paviliun ini?”
“Namaku Xiao Huan. Majikan, apa kau benar-benar melupakanmu?”
“Aku dapat mengerti perkataanmu, tapi, kau salah paham. Aku bukan majikanmu.”
“Apa maksudmu? Jelas-jelas kau adalah majikanku, A-Xian!”
“Aku adalah Bai Feng Xian, putri Kaisar Bai Yin dari Qingqiu.”
“Bai Feng Xian dari Qingqiu, ternyata memang bukan majikan,” Xiao Huan kecewa. “Mengapa kau bisa datang kemari?”
“Aku tersesat. Kabut tebal itu menuntunku masuk ke tempat ini,” Bai Feng Xian membohonginya. Sekilas ia bisa melihat kalau temperamen roh bunga ini tidak terlalu baik.
“Kalau begitu, cepatlah kembali! Tempat ini hanya boleh dipijaki oleh majikan dan Tian Jun!”
Xiao Huan masih sebuah roh, belum memiliki bentuk manusia yang sempurna. Ia hanya bisa bertahan selama beberapa jam karena Dongfang Yue menyegel sebagian kekuatannya.
Xiao Huan langsung melompat kembali ke rumpun bunga setelah memperingatkan Bai Feng Xian dan tenggelam lagi dalam tidurnya.
“Dasar roh bunga yang aneh!” cibir Bai Feng Xian.
Karena sudah datang, ia mencari kesempatan untuk berkeliling. Ia juga masuk ke dalam paviliun dan melihat sebuah kamar dengan dekorasi sederhana namun elegan.
Kamar ini bisa jadi adalah kamar A-Xian dulu. Meja, kuas, kertas, batang tinta, semuanya tampak bersih dan terawat, tapi seperti tidak pernah digunakan juga.
Samar-samar, ia merasakan sebuah aura yang tidak asing perlahan mendekat dan menariknya. Aura itu masuk ke dalam tubuhnya, membuat kepalanya pusing.
__ADS_1
Bai Feng Xian berpegang pada ujung meja untuk menopang tubuhnya sendiri, sementara kepalanya mulai sakit dan berputar.
“Guru, tolong jelaskan bagian ini! Aku sudah membacanya puluhan kali, tapi sepertinya ada serangga di otakku!”
“Guru, lihat! Sihirku bisa mengubah ranting pohon menjadi sebuah pedang!”
“Guru, aku membuatkanmu teh dengan embun bunga peony. Rasanya harum dan manis, cicipilah!”
Suara-suara berdengung di telinganya disertai bayangan layaknya kilasan memori yang acak di dalam otaknya. Kepala Bai Feng Xian masih sakit akibat perputaran ingatan yang tiba-tiba datang itu.
Suara-suara itu, ingatan itu, semuanya begitu jelas seolah-olah membawanya kembali ke masa yang belum pernah ada dalam hidupnya.
“A-Xian, kau bukan hanya muridku,” Bai Feng Xian melihat Dongfang Yue menatap seorang wanita – A-Xian, menarik tangannya ke dan mencium bibirnya. “Kau adalah wanita pertama dan satu-satunya yang membuatku terjun ke dalam perasaan duniawi.”
Kilasan demi kilasan itu melintas secara singkat, memudar dan berganti dengan kilasan lain. Tapi, suaranya jelas terdengar dan terus berdengung di telinga, membuat Bai Feng Xian semakin sakit kepala. Tubuhnya hampir roboh, tapi ia berpegang kembali pada ujung meja. Sebelah tangannya memijat kepalanya.
“Mengapa…. Mengapa kau terus datang padaku?” ucap Bai Feng Xian terbata-bata. Ingatan ini sangat menyiksa!
“Guru….”
“A-Xian…”
“A-Xian…”
“A-Xian…”
Napas Bai Feng Xian memburu, ia berteriak, “Hentikan! Enyahlah dari ingatanku!” tapi, suara itu terus berdengung.
“A-Xian…”
“A-Xian…”
“Bai Feng Xian!”
Sampai pada titik itu, sebuah tangan mencekal lengannya dengan erat, memaksanya berhenti memegangi kepala dan menghentikan dengungan suara. Bai Feng Xian mendongak, menatap pemilik tangan itu yang telah menariknya kembali dari pusaran ingatan yang menyakitinya. Ia baru sadar saat seseorang meneriakkan nama lengkapnya beberapa saat yang lalu.
“Tian Jun….” lirih Bai Feng Xian.
Dongfang Yue tampak cemas, ia segera menariknya ke dalam pelukan.
__ADS_1