Api Cinta Sang Dewi Agung

Api Cinta Sang Dewi Agung
Eps. 50: Apakah Aku Dibuang?


__ADS_3

A-Rou, sejak kelahiran Phoenix Salju terakhir, telah diabaikan berhari-hari lamanya.


Dia hanya akan berlatih selama beberapa jam di Gunung Yanqi, kemudian kembali ke Istana Langit pada sore hari. Jika bukan Song Zi yang menjemputnya, maka Dongfang Yue akan menyuruh Sang Hui untuk datang. Sementara dia, begitu sibuk mengurus urusan kerajaan yang entah mengapa menjadi banyak akhir-akhir ini.


Dari semua orang, yang paling menjadi beban di hati A-Rou adalah Bai Feng Xian. Sejak kejadian ia yang mencabut habis bulu burung Ning Sui, bibi dewinya itu belum menemuinya lagi. A-Rou berpikir mungkin Bai Feng Xian marah karena dia sangat nakal dan sulit diatur.


“Paman, apakah aku dibuang?”


Sang Hui, meliriknya dengan sudut mata dan meminum satu guci anggur yang ia curi dari kilang anggur kakaknya. Belakangan ini, kesibukannya selain bermalas-malasan dan membuat senjata dewa baru, adalah mengantar dan menjemput anak rubah ini ke Gunung Yanqi. Itu membuatnya kelelahan dan mengeluh. Selain itu, anak rubah ini juga sering mengikutinya ke mana-mana seperti seekor anjing kecil yang kehilangan ibunya.


Dengan basis kultivasi A-Rou, dia bisa pergi ke Gunung Yanqi sendiria. Tapi, anak nakal ini kebanyakan tidak patuh hingga seseorang perlu mengawasinya. Sang Hui pernah mengusulkan untuk mendirikan sebuah paviliun khusus di Istana Langit yang memiliki aura yang sama dengan Gunung Yanqi, tetapi Dongfang Yue menolaknya dan tetap menyuruhnya mengawasinya.


“Guru mengirimku ke Qingqiu, kemudian bibi melemparku pada Kaisar Langit. Sekarang, Paman Kaisar juga sibuk dan mengabaikanku. Aih, kenapa orang dewasa sangat suka mempermainkan anak kecil?”


Sang Hui berdecak, tapi ia tidak benar-benar serius menanggapi ocehan A-Rou.


“Jika ada yang lebih malang darimu, maka itu adalah aku. Lihat, aku, Dewa Muda Tianqi yang tampan dan elegan, bukannya menjadi dewa pujaan, tapi malah menjadi pengantar anak rubah berusia lima ratus tahun sepertimu”


“Itu bagus. Kau tidak perlu menjadi dewasa dan terhormat, cukup menjadi pengantarku saja.”


“Buntalan lumut hijau, mengapa kau begitu pandai bicara?”


“Aku bukan keturunan ayahku jika tidak mewarisi keterampilannya mendebat orang,” celoteh A-Rou.


Celotehannya langsung membuat Sang Hui tersedak. Ia buru-buru menyimpan kendi anggurnya, lalu menatap A-Rou dalam-dalam. Mungkinkah… mungkinkah buntalan lumut hijau ini sudah tahu semuanya?


“Memangnya kau tahu siapa ayahmu?” tanya Sang Hui memastikan. A-Rou mengangguk kecil.


“Siapa?”


“Dongfang Yue.”


Sang Hui kali ini benar-benar membulatkan matanya sampai hampir keluar. Astaga, apa yang sudah terjadi? Anak rubah seperti buntalan lumut hijau ini ternyata benar-benar sudah tahu siapa ayahnya!


“Sejak kapan kau tahu?”


“Beberapa waktu yang lalu.”

__ADS_1


“Lalu, apakah kau tahu siapa ibumu?”


A-Rou menggeleng.


“Paman Kaisar tidak memberitahuku. Dia bilang, dia akan memberitahu jika waktunya sudah tiba.”


Anak ini, benar-benar mewarisi sifat kedua orang itu. Keterampilannya berbicara, kemampuannya memahami, dan kenakalannya yang tidak ada bandingannya itu menurun dari Dongfang Yue.


A-Rou bisa memahami segala sesuatu dengan cepat. Tetapi, ketidakmampuannya dalam menganalisa hati sendiri mungkin menurun dari ibunya. Anak ini, setiap hari berada dekat dengan Bai Feng Xian, tapi malah tidak tahu kalau wanita itu adalah ibunya!


Ini sama seperti halnya Bai Feng Xian yang tidak menyadari jika dirinya adalah A-Xian, wanita yang dicintai oleh Dongfang Yue selama delapan ratus tahun. Ibu dan anak, memang tidak jauh berbeda.


Takdir macam apa yang diberikan oleh langit ini? Sang Hui bahkan mulai meragukan pemikiran dan kepribadian Dongfang Yue dan Bai Feng Xian sekarang.


“Lalu, bagaimana reaksi ayahmu?” tanya Sang Hui lagi.


“Aku berkata bahwa aku akan memanggilnya ayah jika waktunya sudah tepat juga. Dia tidak mengatakan banyak hal setelah itu.”


“Huh, di dunia ini, mungkin hanya kau dan ibumu yang bisa bernegosiasi damai dengan Tian Jun.”


A-Rou baru tahu siapa ayahnya setelah usianya lima ratus tahun, dan ia sama sekali tidak tahu siapa ibunya. Ditambah lagi setelah ia tahu, ia memilih untuk bersikap biasa dan tidak merengek pada Dongfang Yue agar mengakuinya dan menobatkannya sebagai anggota Klan Langit.


Namun, sedikitpun raut kesedihan itu tidak terlihat di wajahnya yang kecil dan imut. A-Rou benar-benar menganggap semuanya tidak apa-apa, menganggap semuanya sebagai hal biasa. Jika itu anak dewa yang lain, dia sudah akan menangis di kaki Dongfang Yue sambil bercucuran ingusnya.


Jika itu adalah pilihan yang diambil A-Rou, maka Sang Hui tidak bisa melakukan apa-apa. Dia juga tidak mungkin memaksa A-Rou untuk mengumumkan identitas aslinya. Luka di hati Dongfang Yue masih belum sembuh sepenuhnya, dan meskipun luka di hati Bai Feng Xian tidak terlihat karena wanita itu telah melupakan masa lalunya, bukan berarti keduanya terlihat baik.


Bai Feng Xian baru bisa mempercayai kakaknya akhir-akhir ini. Kepercayaan itu, mungkin suatu saat akan runtuh jika Bai Feng Xian akhirnya mengingat kembali masa lalunya yang hilang selama delapan ratus tahun, dan lukanya akan semakin terasa sakit. Begitu pula dengan Dongfang Yue.


Keputusan A-Rou, adalah keputusan yang cukup bagus. Sang Hui sekarang mulai mengagumi kecerdasan dan tingkat pemahaman keponakannya ini. Dia hanya anak dewa berusia lima ratus tahun, tapi ia sudah bisa merencanakan sesuatu untuk dirinya sendiri. Ini akan menjadi sesuatu yang langka di Empat Lautan dan Tiga Daratan.


“Keponakanku, apakah kau baik-baik saja dengan berpura-pura seperti ini?” tanya Sang Hui lagi.


“Ya. Guru mengajariku untuk selalu bersikap baik pada diri sendiri dan memahami situasi. Aku dibesarkan oleh Ji Meng di Dunia Arus Bawah, terbiasa menyendiri dan terbiasa berpikir sendiri. Lagipula, aku bukan anak kecil yang kekurangan kasih sayang.”


Masuk akal, pikir Sang Hui. Dunia Arus Bawah tersembunyi dan letaknya sangat jauh. Ji Meng mungkin telah mengajari A-Rou untuk berpikir panjang.


Dewa penyendiri yang satu itu, sepertinya juga tahu lebih awal siapa A-Rou, dan tahu lebih awal apa saja yang sudah terjadi pada waktu tersebut. Dia perlahan telah menempa karakter A-Rou, membentuknya menjadi kuat di hadapan orang lain.

__ADS_1


“Karena kau begitu pintar, mengapa kau mengeluh sekarang?”


Pada saat ini, A-Rou langsung melompat dan berdiri di depan Sang Hui. Mata bintang yang diturunkan dari Dongfang Yue menyimbulkan kejernihan pikiran dan kekuatan inti yang murni.


Ini, adalah aura yang jarang ditemui pada tubuh dewa manapun di dunia ini. Untuk beberapa saat, Sang Hui seperti disihir oleh kilauan permata yang silau.


“Setelah Feng Yuan Ying mengalami nirwana, bibi sibuk mendidiknya. Dia melupakanku. Jika aku dibuang, bukankah aku akan menjadi anak rubah yang malang? Kelak, tidak aka nada yang mengajakku pergi ke Alam Fana untuk jalan-jalan lagi.”


“Yo, anak kecil, kau cemburu?”


A-Rou cemberut. Hatinya berteriak ‘ya’, tapi mulutnya digunakan untuk menahan gengsi. Sang Hui tertawa kecil.


“Jika Feng Yuan Ying itu terus menarik perhatian bibi, maka aku akan habis. Guru Ji Meng pasti akan menceburkanku ke Kolam Arus Bawah karena marah.”


“Mengapa dia harus marah?”


“Aku dikirim untuk menerima pengajaran bibi. Jika studiku tidak lancar dan bibi melupakanku, Ji Meng si wajah dingin itu tidak akan melepasku.”


“Bukankah kau masih punya Tian Jun? Kau bisa meminta dia membantumu bicara.”


“Bukankah kau juga melihatnya? Paman Kaisar sudah sibuk sepanjang hari. Tidak tahu dewi atau siluman mana yang sudah berbuat onar dan mencari masalah. Paman Kaisar, tidak memiliki banyak waktu senggang untuk melatihku.”


“Jangan berpikir berlebihan. Tian Jun hanya sibuk sementara waktu.”


Mungkin, sambung Sang Hui dalam hatinya. Ia juga tidak tahu kapan masalah yang menumpuk itu akan berakhir. Sebagian waktu kakaknya dihabiskan di Aula Belajar Istana Tianwu. Sementara itu, Bai Feng Xian, juga sibuk mengajar dan melatih Feng Yuan Ying sepanjang hari.


“Buntalan lumut hijau, bagaimana jika aku membantumu mendapatkan ibu?”


“Ah?”


“Sebetulnya, aku sudah menyiapkan sebuah proposal pernikahan. Aku berencana mengirimnya ke Qingqiu.”


“Paman, kau ingin meminang bibi untuk Paman Kaisar?”


“Ya.”


“Itu bagus, aku setuju! Aku khawatir bibi tidak mendapat suami karena dia sangat tidak peka dan tidak memahami perasaan orang-orang sekitarnya.”

__ADS_1


__ADS_2