Api Cinta Sang Dewi Agung

Api Cinta Sang Dewi Agung
Eps. 2: Terbangun dari Mimpi


__ADS_3

Tepi Danau Cermin, kediaman Dewa Agung Ming Ye.


Bai Feng Xian merasakan seluruh tubuhnya sakit. Hawa dingin menembus kulitnya yang dipenuhi dengan luka berdarah.


Perlahan dia membuka matanya, melihat angkasa yang gelap dengan bulan menggantung di langit tertinggi. Kilasan memori menyakitkan hati berkelebat dalam ingatannya, membuat seluruh jiwanya tercabik-cabik.


Dia terbangun di tepi Danau Cermin milik Ming Ye. Danau itu memantulkan cahaya bulan, dengan riak air bergelombang dengan pelan. Tubuh Bai Feng Xian terbaring di atas rerumputan hijau yang empuk.


Seorang abadi berjubah biru muda berambut panjang, yang wajahnya selalu tampak lebih muda untuk seseorang seusianya membelalakkan mata begitu melihat dia berbaring di tanah dengan luka di seluruh tubuh.


“Bai Feng Xian! Apa yang terjadi padamu?”


Ming Ye bergegas menghampiri Bai Feng Xian. Dewa Agung itu memiliki ketenangan yang sangat luar biasa, tetapi saat melihat putri sahabatnya terbaring penuh luka, semua ketenangannya menghilang.


Bai Feng Xian mencoba bangkit. Tenggorokannya gatal dan dia memuntahkan batuk darah. Napasnya masih belum teratur dan ekspresinya sangat menyedihkan.


“Bantu aku berdiri,” ucap Bai Feng Xian.


Syukurlah, dia kembali ke Danau Cermin. Jika Bai Feng Xian kembali ke Qingqiu, ayah dan ibunya pasti marah besar.


Setidaknya dengan pertolongan Ming Ye, dia bisa memulihkan diri selama beberapa hari sebelum dia kembali ke tempat asalnya. Rasa sakit di dada dan di dalam hatinya masih begitu mendera, membuat semua luka berdarahnya berubah menjadi nanah.


Ming Ye menatap iba pada wanita itu. Meskipun ia tidak tahu apa yang telah dilalui Bai Feng Xian hingga berakhir seperti ini, tetapi ia juga tidak ingin menanyakannya.


Bai Feng Xian selalu suka mengembara hingga ribuan tahun, sampai-sampai kabar darinya seringkali tidak terdengar. Apa yang dilaluinya kali ini mestilah bukan sesuatu yang baik untuk dibahas kembali.


"Apakah sekarang sudah musim semi?" tanya Bai Feng Xian, mencoba menahan semua kesakitan yang ia terima.


"Tidak. Ini baru awal musim gugur."


Di pondok kayu yang dibangun olehnya, Ming Ye membantu Bai Feng Xian memulihkan tubuhnya. Secangkir anggur ajaib racikannya menggelesar masuk melegakan tenggorokan Bai Feng Xian, dan dalam sekejap tubuhnya mulai pulih.


Luka-luka yang timbul akibat Sumur Pembunuh Dewa masih belum kering, namun rasa sakitnya sudah mulai berkurang.


Ming Ye menatapnya dengan tenang. Sebagai dewa dari generasi tua yang telah menyendiri selama ribuan tahun, dia dengan jelas bisa menyadari bahwa putri dari sahabatnya ini telah melalui ujian langit dan tingkatannya sudah naik menjadi seorang Dewi Agung.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu. Kau tiba-tiba pulang sebagai Dewi Agung dan penuh luka.”


Sudut mata Bai Feng Xian berkedut.


“Dewi Agung?” tanyanya lemah. Ming Ye mengangguk.


Bai Feng Xian merasakan jika aliran spiritual di dalam tubuhnya lebih kuat dari sebelumnya. Jiwa primordialnya menjadi lebih stabil dan sihir yang berputar di dalam dirinya jauh lebih hebat.


Ini menandakan bahwa tubuh abadinya telah mencapai tingkatan tinggi dalam hirarki kedewaan di Empat Lautan dan Tiga Daratan.


Ternyata, suara yang berdengung di telinganya adalah suara dari langit. Bai Feng Xian telah melalui ujian langit berupa ujian cinta dan ujian kehidupan, yang membuatnya naik tingkat menjadi seorang Dewi Agung.


Rupanya, ingatannya yang hilang dan kehidupannya di Surga adalah sebuah ujian untuknya. Dongfang Yue adalah ujian terbesarnya, yang memberikan rasa sakit dan kerelaan yang sangat tidak ada bandingannya di Empat Lautan dan Lima Daratan.


Ujian langit yang datang kepadanya sama sekali tidak terduga. Dia bahkan tidak ingat kapan ujian itu dimulai. Bai Feng Xian lebih tidak memahami takdir, yang menjadikan seorang Kaisar Langit sebagai ujian langitnya.

__ADS_1


Sepertinya, Bai Feng Xian harus kembali berkelana untuk mencari sisa ingatan yang tertinggal sebelum dia menjadi murid Dongfang Yue yang berakhir menyedihkan. Setidaknya, setelah semua lukanya pulih.


“Kau satu-satunya dewi di generasimu yang naik tingkat lebih cepat,” ucap Ming Ye. “Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan bayi di perutmu?”


Meskipun tidak memeriksa nadinya, Ming Ye bisa tahu jika putri sahabatnya ini tengah mengandung. Hanya dengan melihat arus spiritual di dalam tubuh dan pusat inti jiwa, Ming Ye bisa membedakan seseorang yang tengah berbadan dua.


Bai Feng Xian terkejut, pandangan matanya turun dan menjadi kosong.


Tanpa sadar, dia memegang perutnya dengan tangannya yang masih kotor oleh noda darah yang mengering. Bai Feng Xian tidak tahu apakah ini adalah sebuah berkah atau malapetaka untuknya. Anak ini… Adalah anak Dongfang Yue! Bai Feng Xian tidak mungkin salah!


"Mengapa harus seperti ini...." Bai Feng Xian berkata lirih.


Air matanya menetes. Ming Ye sangat mengkhawatirkannya. Dengan kondisinya yang sekarang ini, akan sangat sulit untuk menjaga janin di perutnya tetap stabil dan hidup.


Bai Feng Xian sangat tertekan setelah kembali dari pengembaraannya, dan lukanya yang paling parah ada di dalam hatinya. Ming Ye bisa membaca raut kebingungan di dalam ekspresi Bai Feng Xian.


“Aku punya anggur yang dicampur dengan musk. Jika kau ingin, kau bisa meminumnya.”


Haruskah Bai Feng Xian mempertahankannya? Atau justru menghilangkannya?


“Ming Ye, bisakah kau membantuku mengeluarkan bayi ini?”


Ming Ye tidak mengira Bai Feng Xian akan mengambil pilihan ini. Meskipun masih terluka dan hatinya sangat rapuh, Bai Feng Xian memilih untuk menyelamatkan bayi di dalam perutanya.


Dia sendiri tidak tahu ketepatan mengenai keputusannya. Satu hal yang jelas, Bai Feng Xian sangat ingin memulihkan dirinya.


Berkat bantuan Ming Ye, bayi di dalam perut Bai Feng Xian berhasil keluar dengan selamat. Bayi merah itu tidak menangis, matanya sipit seperti mata Dongfang Yue.


Bahkan setelah berhari-hari berlalu, Bai Feng Xian selalu mengalami mimpi buruk dan terbangun setiap malam. Luka-luka di tubuhnya yang mulai pulih terkadang masih memberikan rasa sakit.


Setiap kali Bai Feng Xian terjaga, bayi kecil di sampingnya akan berceloteh seolah-olah tahu akan penderitaan ibunya.


Ming Ye tidak tahan. Bagaimana mungkin seorang gadis yang dulunya begitu ceria bisa berakhir menyedihkan seperti ini.


Awalnya Ming Ye berpikir Bai Feng Xian bisa segera pulih dan melupakan semua rasa sakitnya. Melihatnya terjaga di malam hari dan termenung seperti orang linglung, hati Ming Ye benar-benar tidak tega.


Hingga suatu malam, dia memanggil Ji Meng, Dewa Penjaga Arus Bawah ke Danau Cermin dan memintanya untuk membantu. Bai Feng Xian kebetulan sedang terjaga.


Kedatangan Ji Meng seketika membuat tekanan di dalam batinnya kembali bergejolak. Setiap kali melihat orang, dia seperti melihat dirinya berada di tepi Sumur Pembunuh Dewa.


"Mengapa dia bisa berakhir sangat menyedihkan?" tanya Ji Meng, yang sangat terkejut melihat kondisi Bai Feng Xian.


"Entahlah. Aku berpikir dia harus segera pulih sebelum kembali ke Qingqiu."


Ji Meng menatapnya dengan pandangan iba. Gadis ceria yang biasa mengganggunya ini lama tak terdengar kabar, namun ketika ia melihatnya lagi, kondisinya begitu menyedihkan. Bagaimana bisa dia berakhir seperti ini?


“Ming Ye, biarkan aku melupakan ingatan menyakitkan itu,” ucap Bai Feng Xian.


Pada akhirnya, dia hanya bisa memilih jalan ini jika ingin dirinya benar-benar pulih.


Betapa menyedihkannya dewi yang satu ini. Bai Feng Xian menjadi Dewi Agung, tetapi harus begitu menderita karena sulit melupakan ingatan akan ujiannya.

__ADS_1


Ming Ye tidak pernah berniat menanyakan siapa orang itu, yang menjadi beban rasa sakit terbesar dan ayah dari bayi ini. Menurutnya, itu hanya akan lebih menyakitinya.


Bai Feng Xian menatap kosong pada buntalan kain yang membungkus bayinya. Bayi ini adalah bayi dewa, bukan bayi manusia biasa.


Bai Feng Xian masih tertekan, karena ujian langit yang baru saja dilaluinya ternyata mengguncang seluruh jiwanya. Mengingat wajah dingin Dongfang Yue ketika ia berdiri di tepi Sumur Pembunuh Dewa, hatinya seperti dicabik-cabik pedang yang tajam.


“Apa kau yakin?” tanya Ming Ye.


“Jika kau melakukannya, semua ingatan yang ingin kau lupakan akan terhapus dan tidak bisa dikembalikan,” Ji Meng menyambung pertanyaan Ming Ye.


Untuk sesaat, Bai Feng Xian bimbang. Ia butuh waktu untuk berpikir. Kepalanya mendongak, menatap sebentar pada bayi mungil yang sedang terlelap di sampingnya.


Kehidupan para dewa-dewi sangat sulit, tidak mudah bertahan hidup di bawah tekanan. Lebih baik jika dia melupakannya, dan melupakan apapun yang ingin dia lupakan.


“Aku yakin.”


Ming Ye dan Ji Meng tidak bertanya lagi. Secangkir anggur Meng Po yang diracik dengan air Danau Cermin dan ekstraksi bunga persik ribuan tahun tertuang, membasahi tenggorokan Bai Feng Xian.


Wanita itu lantas tertidur setelah beberapa saat. Ming Ye menggendong bayi mungil itu, kemudian menyerahkannya kepada Ji Meng.


“Ketika dia bangun, dia tidak akan mengingat kenangan menyakitkannya dan semuanya hanya akan terasa seperti mimpi,” ucap Ming Ye.


Ji Meng menggendong bayi mungil itu dengan hati-hati. Dia mengagumi ketenangan bayi mungil ini yang tetap tidak menangis meski berada di gendongan orang asing.


Pikirnya, bayi ini bukan keturunan dewa-dewi biasa. Ayahnya pasti seseorang dengan kekuatan yang sangat besar. Kemudian sebelum fajar terbit, dia sudah membawa bayi mungil tersebut ke istananya di bawah air.


Keesokan harinya, Bai Feng Xian terbangun dengan rasa sakit yang sama. Anehnya, ia tidak mengingat dari mana asal semua rasa sakit itu.


Ingatannya terhenti saat dirinya sedang berjalan di perbatasan Tiga Daratan, lalu sebuah angin kencang dan petir langit menyambar, mengaburkan pandangannya dan membawanya menuju sebuah sungai yang sangat dingin. Setelahnya, ia tidak ingat lagi.


“Kau sudah sadar?” Ming Ye masuk membawa secangkir rebusan obat.


“Apa yang terjadi?”


Ming Ye merubah ekspresinya dan bersikap seperti biasa, nada bicaranya setenang biasanya.


Sambil menyodorkan cangkir obat, dia menjawab, “Kau baru saja melewati ujian langit dan naik tingkat. Sekarang, kau adalah Dewi Agung Bai Feng Xian.”


“Dewi Agung?”


“Kau tertidur setelah melewati ujian langit. Karena ujian itu, luka-luka di tubuhmu ikut tertidur bersamamu selama tiga ratus tahun.”


Ming Ye tidak mungkin berbohong. Meskipun Bai Feng Xian tidak mengingatnya, dia yakin perkataan Ming Ye memang benar. Dia menyeruput ramuan obat itu sampai tandas.


Matahari saat itu masih bersembunyi, dan Danau Cermin selalu tenang seperti biasa. Ah, Bai Feng Xian tiba-tiba bingung sudah berapa lama dia tidak merasakan aroma pagi di Danau Cermin milik Ming Ye.


“Aku seperti bermimpi sangat panjang,” ujarnya.


Ming Ye tersenyum cerah.


“Pulanglah. Ayah dan Ibumu pasti mengkhawatirkanmu.”

__ADS_1


__ADS_2