Api Cinta Sang Dewi Agung

Api Cinta Sang Dewi Agung
Eps. 47: Darah Klan Phoenix Salju


__ADS_3

Hutan Pulau Fengyun, yang menjadi kediaman Klan Phoenix Salju habis terbakar api. Asap membumbung tinggi menembus langit ketiga, udara terbaik yang menjadi sumber energi Klan Phoenix Salju tercemar. Bau darah menguar di mana-mana, disertai bau hangus terbakar dari ribuan pepohonan dan tumbuhan.


Di setiap sudut hutan, kediaman-kediaman anggota Phoenix Salju hancur dilalap api. Tidak hanya itu, bahkan Istana Phoenix Salju juga porak poranda. Setiap prajurit, yang menjaga pintu gerbang dan kedamaian, sekarang menjadi mayat yang hitam. Bahkan, mereka yang telah mencapai tingkatan dewa, perlahan berubah menjadi abu dan menghilang bersama udara.


Berdiri di atas singgasana Raja Phoenix, Yingzhao mengibaskan lengan jubahnya. Jubah biru yang cerah, yang seharusnya cemerlang, sekarang berubah menjadi kehitaman.


Tangan kanannya memegang sebuah pedang salju panjang. Pedang itu mengkilap, dan ujungnya menteskan darah tanpa henti. Tangan, kaki, wajah, semua bagian tubuhnya basah oleh darah. Selain darah, sepertinya tidak ada cairan lain yang bisa mengotorinya.


“Kau… iblis…”


Dua kata terakhir dari mulut Raja Phoenix Salju terucap pelan dan terbata, terputus-putus seiring memendeknya napas yang berhembus dari paru-parunya. Raja Phoenix Salju terkapar di lantai istana, menatap penuh amarah sekaligus kecewa pada sosok Yingzhao. Wanita itu bahkan tidak memperlihatkan belas kasihan.


“Iblis? Bukankah kalian yang memaksaku menjadi seperti ini?”


Yingzhao menatap penuh kebencian pada Raja Phoenix Salju. Dia, Selir Langit yang dulu begitu dipuja karena kecantikannya dan posisinya, sekarang berubah menjadi monster pembunuh yang lebih mengerikan daripada iblis sekalipun. Yingzhao menghunuskan pedangnya pada seluruh anggota Klan Phoenix Salju, dia bahkan tidak mengampuni ayahnya sendiri.


Banjir darah di Pulau Fengyun, telah menjadi sebuah fenomena berdarah yang terjadi sejak kekacauan ribuan tahun lalu. Yingzhao, dengan kekuatan dirinya yang sekarang, telah membantai habis semua klannya tanpa ampun. Amarah, kebencian, dia membawa dan menanggung semuanya sendirian.


“Kau terlalu lama duduk di singgasana ini, ayah. Kau juga sudah terlalu lama menjadi anjing pengikut Dongfang Yue, sehingga kau bahkan memburu putrimu sendiri. Ayah, apakah itu adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang ayah?”


Yingzhao bertanya dengan nada yang sangat tidak enak didengar. Dia menyindir sekaligus menghina, karena ia sudah muak dengan kondisinya sendiri.


Yingzhao telah kehilangan seluruh kasih dari orang-orang terdekatnya. Di saat dia mendatangi klannya sendiri, dia justru malah dicaci dan dibiarkan begitu saja.


Rasa kecewanya atas reaksi klannya, yang membuangnya, sungguh hampir sama dengan perasaan tidak diterima yang ia dapatkan dari Dongfang Yue. Ketika semua sumber rasa sakit hati itu berkumpul menjadi satu, Yingzhao telah kehilangan akal sehatnya dan berubah menjadi monster yang mengerikan.


“Bukankah kalian ingin menangkapku? Aku sudah datang sekarang. Ayah, kau bisa menyerahkanku pada Dongfang Yue.”


Yingzhao mencibir, matanya berubah menjadi merah. Dia tanpa belas kasihan kemudian menusuk kembali dada Raja Phoenix Salju yang sudah robek di sana-sini, menghujamnya dengan hunusan yang sangat dalam sampai pedang itu menembus ke punggungnya. Ketika Yingzhao melepasnya, darah segar mengalir menjadi sungai, membanjiri lantai.


Tidak hanya itu, Yingzhao juga mengambil inti jiwa Raja Phoenix Salju dan menyerap kekuatannya, kemudian menghancurkan kesadaran spiritualnya. Roh Raja Phoenix Salju terpecah, kemudian menyebar, tubuhnya perlahan berubah menjadi abu dan menghilang tanpa jejak. Klan Phoenix Salju telah kehilangan raja mereka, juga kehilangan nyawa mereka.


Tidak ada yang berhasil selamat dari peristiwa pembantaian itu. Yingzhao membunuh seluruh Klan Phoenix Salju sendirian, menusuk mereka dengan tangannya sendiri dan menyerap kekuatan mereka. Anggota Klan Phoenix Salju yang belum mencapai tingkatan dewa, tubuhnya tergeletak sebagai mayat yang bersimbah darah. Mengerikan, juga sangat memprihatinkan.

__ADS_1


“Heh, hanya aku Phoenix Salju satu-satunya di dunia ini!”


Setelah dia membunuh seorang pelayan peri saat itu, Yingzhao telah berkelana ke beberapa tempat untuk mengumpulkan kekuatan spiritualnya. Dia juga pergi ke Laut Miao Yao, tetapi usahanya gagal karena sihirnya tidak mampu mengalahkan formasi yang dibuat Dongfang Yue. Kekuatan yang terkumpul di dalam tubuhnya, membuatnya jauh lebih kuat meskipun dia hanya manusia setengah dewi.


Setelah membantai klan sendiri, kekuatan Yingzhao naik berkali-kali lipat. Hanya tinggal satu langkah lagi untuk menyempurnakan kekuatannya. Yingzhao masih membutuhkan satu hal: sumsum dewa. Karena dia telah mengeluarkannya dan menghancurkannya lima ratus tahun lalu, kultivasinya tidak berlangsung lancar. Jika ingin menjadi sempurna, dia harus memiliki sumsum dewa itu kembali.


Tapi, mendapatkan kembali sumsum dewa bukanlah hal yang mudah. Yingzhao sudah mencari tahu, tetapi dia tidak kunjung menemukan jawaban. Meskipun kini dia bukan lagi Yingzhao si Selir Langit yang dibenci, dia tetap belum bisa mengalahkan dewa yang lebih tinggi darinya.


Aroma kematian yang pekat masih terasa ketika Yingzhao kembali naik ke singgasana Raja Phoenix. Pemandangan mengerikan di depannya seolah-olah seperti sebuah padang rumput yang subur, yang memberinya semangat dan energi. Banjir darah seperti air kehidupan yang memberinya kekuatan. Yingzhao telah menjadi gila.


Tepat pada saat itu, sebuah anak panah dengan energi api yang kuat melesat dari udara, kemudian menusuk jantungnya. Yingzhao tidak sempat menghindar, ia seketika terduduk di singgasana dan menatap marah pada sosok mulia yang perlahan turun dari awan keberuntungannya. Matanya semakin merah tatkala darah mengalir keluar dari jantungnya.


“Heh, kau pikir kau bisa membunuhku hanya dengan ini?”


Saat itu pula, Dongfang Yue menginjakkan kakinya di lantai istana yang penuh dengan darah. Ujung pakaian putihnya perlahan berubah menjadi merah.


Dia menatap datar pada Yingzhao, namun siapapun jelas tahu jika emosinya sedang membuncah. Ekspresi Dongfang Yue perlahan berubah tatkala matanya tidak menemukan sosok Raja Phoenix Salju.


Jika dulu Yingzhao sangat tidak ingin mendengar nada sedingin itu, tidak peduli bagaimanapun keadaannya ia akan tetap berusaha baik-baik saja, tapi sekarang ia justru membalasnya dengan seringaian yang meremehkan. Yingzhao mencabut anak panah di dadanya, melemparnya ke lantai dengan sembarang. Dia berdiri dengan tumpuan pedang yang sudah ternoda itu.


“Ah, si tua bangka itu baru saja menghilang beberapa saat yang lalu. Tian Jun, apakah kau terkejut?”


Yingzhao sama sekali tidak terlihat takut. Dia menatap Dongfang Yue dengan berani, dengan tatapan yang tidak pernah ia berikan sejak menikah dengannya ribuan tahun lalu. Mata yang semula penuh dengan cinta dan pengharapan, sekarang berubah menjadi sebuah kebengisan dengan kebencian yang sangat mendalam.


Dongfang Yue mengepalkan tangannya diam-diam. Wanita ini, hanya dalam waktu beberapa minggu, ternyata sudah berubah menjadi monster pembunuh yang sangat bengis dan kejam.


Seluruh Klan Phoenix Salju dimusnahkan, dan wanita itu sama sekali tidak merasa bersalah. Adakah iblis yang benar-benar tidak memiliki hati nurani?


Bahkan Raja Iblis saja masih bisa sedikit tergerak ketika Dongfang Yue membawa salah satu keluarganya ketika kekacauan perang terjadi. Meskipun pada akhirnya Dongfang Yue tidak bisa menyelamatkannya, ia masih sempat melihat Raja Iblis diam-diam memalingkan wajah saat keluarganya itu dibunuh oleh tangan Raja Iblis sendiri. Tapi wanita ini, dia benar-benar tidak memilikinya.


“Yingzhao, Hukuman Langit tidak memiliki belas kasihan,” ucap Dongfang Yue.


Suara petir menyambar dari langit ketujuh, bergemuruh di atas Pulau Fengyun yang hangus. Sembilan puluh anak panah berisi energi api dari darah Dongfang Yue menusuk tubuh Yingzhao, memakunya di singgasana.

__ADS_1


Sembilan puluh sambaran petir menyambar tubuh Yingzhao sesaat setelah panah itu merobek habis medan pelindung yang dibuat Yingzhao, menghancurkannya hingga berkeping-keping.


Pada saat itu, Yingzhao tidak sempat melarikan diri. Sambaran petir dan tusukan anak panah yang totalnya seratus delapan puluh buah, yang kekuatannya dua kali lipat lebih kuat dari kekuatan hukuman di Aula Tianfa, menghujamnya bertubi-tubi.


Seluruh tubuh Yingzhao berdarah, robekan kulitnya terlihat di sana-sini. Tampilannya tidak lebih mengerikan dengan tampilan A-Xian lima ratus tahun lalu.


“Akan kukembalikan rasa sakit yang diterima A-Xian berkali-kali lipat kepadamu!” ucap Dongfang Yue.


Pada saat dia mengucapkan itu, mata merah yang menahan kebencian dan rasa sakit Yingzhao berkilat. Yingzhao baru menyadari jika A-Xian yang ia singkirkan lima ratus tahun lalu ternyata masih hidup dan Dongfang Yue berhasil menemukannya.


Pantas saja saat itu Yingzhao merasa curiga. Yingzhao menggeram menahan rasa sakit yang berkali lipat daripada saat Dongfang Yue melemparnya beberapa kali.


Dongfang Yue kemudian menambahkan dua puluh satu anak panah lagi, dan kali ini tubuh Yingzhao langsung mengeluarkan cahaya kebiruan. Kemudian, sebuah ledakan cahaya pecah, sinarnya memancar seperti kepingan salju ke segala penjuru. Darah merah di seluruh Pulau Fengyun, seketika berubah warna menjadi putih, menjadi butiran salju yang dingin.


Yingzhao menghilang. Mungkin, dia sudah seharusnya hancur.


Dongfang Yue menghela napas pelan sambil memejamkan matanya. Seharusnya, ia melakukan itu lima ratus tahun lalu. Dia baru bisa melakukannya hari ini, tepat ketika seluruh Klan Phoenix Salju musnah.


Di Empat Lautan dan Tiga Daratan, Klan Phoenix Salju sudah menghilang, karena Yingzhao telah membantai mereka semua, termasuk anak-anak dan mereka yang masih berada dalam telur dan belum mengalami nirwana.


Apakah kepunahan ini adalah salahnya? Dongfang Yue terlalu lama menunda waktu, sampai dia harus kehilangan salah satu klan yang memiliki garis keturunan sama dengannya. Sebagai Kaisar Langit, dia telah lalai. Jika Kaisar Xuan Yi masih hidup, Dongfang Yue tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.


Namun, saat Dongfang Yue berdiri di sana dengan rasa bersalahnya, sebuah cahaya biru melesat dan tiba di depannya dari bagian dalam Istana Phoenix Salju. Cahaya itu perlahan berubah menjadi roh gadis remaja berbaju biru, yang menatap Dongfang Yue tanpa henti. Seketika, ekspresi Dongfang Yue berubah dan ia mulai merasa masih ada harapan.


Roh itu, ternyata roh dari telur Phoenix Salju terakhir yang masih selamat. Raja Phoenix Salju sepertinya berhasil menyembunyikannya dengan baik sehingga Yingzhao tidak berhasil membunuhnya. Roh itu tersenyum pada Dongfang Yue, kemudian membungkuk memberi hormat.


“Tian Jun, kemusnahan Klan Phoenix Salju bukan salahmu. Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar memahami kehendak langit,” ucap roh gadis tersebut.


“Apakah kau bersedia ikut bersamaku ke Istana Langit?” tanya Dongfang Yue. Roh gadis itu mengangguk.


“Nirwanaku akan tiba beberapa hari lagi. Istana Langit memiliki energi yang baik. Jika Tian Jun bisa membantuku lahir dengan selamat, generasi Klan Phoenix Salju masih memiliki harapan.”


Roh gadis itu kemudian terbang lagi menjadi cahaya. Ketika Dongfang Yue menemukannya, telur Phoenix Salju-nya tersimpan di dalam sebuah kotak kayu yang dilindungi medan pelindung dari sayap Raja Phoenix Salju. Kondisinya sangat baik dan aura spiritualnya stabil. Segera saja Dongfang Yue mengambilnya, kemudian membawanya kembali ke Istana Langit.

__ADS_1


__ADS_2