
Ketika Bai Feng Xian mencoba mengalirkan sihir untuk membuat A-Rou kembali sadar, aura di sekitar Gunung Xi tiba-tiba berubah. Cahaya keperakan dari bulan yang memantul di puncak gunung tampak seperti lambaian sutera raksasa di angkasa.
Mendapati fenomena seperti ini, dia buru-buru keluar dari gua rubah, kemudian sesosok bayangan yang perlahan kian menjadi jelas mendekat padanya.
“Tian Jun?”
Bai Feng Xian hanya mampu mengucapkan dua kata untuk memanggil sosok itu. Sosoknya yang agung seketika membuat semua entitas di Gunung Xi menunduk dengan hormat.
Dongfang Yue menatap Bai Feng Xian dengan dalam, seolah-olah ia ingin menyelami kedalaman hati dan mata Bai Feng Xian. Seperti ada ribuan kata yang tertahan di tenggorokannya.
“Mengapa kau tidak memberitahuku jika A-Rou sakit?”
Pada akhirnya, ia hanya mampu melontarkan pertanyaan itu. Setiap kali menghadapi Bai Feng Xian, perasaannya campur aduk. Dongfang Yue merasa rindu, cinta, senang, tetapi berselang dengan penyesalan dan rasa bersalah yang besar.
Mata Bai Feng Xian yang jernih mengingatkannya pada sorot mata wanita itu ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Istana Langit sebagai A-Xian.
Oh, apakah Dongfang Yue benar-benar bisa menghadapinya?
Bai Feng Xian mengernyit hingga dua alis hitamnya yang melengkung hampir bertemu. Setahunya, orang yang tahu A-Rou sakit hanya dia dan Ming Ye. Ji Meng bahkan tidak tahu jika muridnya jatuh sakit saat ini. Tapi, kenapa Dongfang Yue justru mengetahuinya?
“Dari mana kau tahu?”
“Ketika kau terhubung dengan seseorang, kau dapat merasakan sesuatu terjadi padanya,” Dongfang Yue menjawabnya dengan ringan setelah ia mengendalikan dirinya.
“Kau berkata seolah-olah kau punya hubungan darah dengannya,” seloroh Bai Feng Xian.
Itu memang benar, Dongfang Yue membatin.
“Tunggu, ini tidak benar. Orang yang tahu A-Rou sakit hanya aku dan Ming Ye. Mengapa kau….” Bai Feng Xian menggantung ucapannya. “Ah, jadi, tamu penting yang membuat Ming Ye mengusirku sebanyak dua kali adalah kau, Tian Jun?”
Ekspresi Dongfang Yue berubah. Dia salah tingkah. Melihat wajahnya berubah menjadi merah dan salah tingkah, Bai Feng Xian tidak bisa menahan tawanya.
__ADS_1
Tawanya meledak seketika, memecah keheningan Gunung Xi yang sunyi. Jika ada manusia fana yang lewat, dia mungkin akan pingsan atau lari terbirit-birit karena takut.
“Tian Jun, wajahmu yang memerah dan salah tingkah seperti anak kucing yang lucu. Itu sangat jarang terlihat!”
“Kalau begitu, kau bisa melihatnya lebih sering jika kau mau,” ucap Dongfang Yue. Serangannya berbalik membuat Bai Feng Xian menghentikan tawa dan menutup mulutnya.
“Aku hanya mengekspresikan perasaanku pada orang-orang yang kuanggap berharga,” ujar Dongfang Yue.
“Apa itu artinya aku berharga juga?”
“Tentu saja. Kau tidak hanya berharga, tapi juga sangat penting.”
Bai Feng Xian mengangguk kecil. Jantungnya berdebar kencang. Meskipun dia menahan perasaan dan ekspresinya, hatinya dipenuhi jutaan bunga yang tiba-tiba mekar malam-malam. Ada apa ini? Mengapa dia tampak seperti seorang gadis remaja fana yang baru berjumpa kekasih hatinya saja?
“Bagaimana kondisinya?” tanya Dongfang Yue setelah masuk ke dalam gua rubah.
Di sana, A-Rou masih berbaring di atas ranjang batu yang alasnya berupa kasur bulu rubah yang hangat dan lembut. Bai Feng Xian menghela napasnya lelah.
“Biar kuperiksa.”
Bai Feng Xian memberikan ruang untuk Dongfang Yue. Dia mundur beberapa langkah. Dongfang Yue segera memeriksa A-Rou dengan sihirnya, mencari akar masalah hingga ke pusat kehidupan dan inti jiwanya. Beberapa kali keningnya mengernyit seakan-akan memang ada yang salah dengan A-Rou.
“Bagaimana?” tanya Bai Feng Xian saat Dongfang Yue selesai memeriksanya.
“Dia meminum anggur Sembilan Elemen. Kekuatannya masih perlu beradaptasi. Itu sebabnya dia tertidur lebih lama,” jawab Dongfang Yue.
Anggur Sembilan Elemen adalah anggur yang biasanya digunakan untuk menerobos tingkatan spiritual dan melompat sebanyak sepuluh ribu tahun. Anggur ini diturunkan oleh Dewa Leluhur jutaan tahun lalu, dan merupakan anggur terbaik dan sangat langka. Bahkan beberapa Dewa Agung hanya bisa mendengar namanya saja.
Rupanya, resep yang diajarkan Ming Ye adalah resep Anggur Sembilan Elemen. Pantas saja rasanya begitu aneh saat Bai Feng Xian meminumnya.
Ming Ye hendak membuat A-Rou menembus kekuatan spiritual di atas batas usianya. Itu sebabnya dia bilang A-Rou akan menjalani ujian lebih cepat dan Kelopak Teratai Buddha dengan cepat menyatu dengan tubuhnya.
__ADS_1
Karena A-Rou baru berusia lima ratus tahun dan kekuatan di dalam dirinya belum dilatih dengan baik, dia membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna dan membuat efek anggurnya bereaksi. Saat dia sadar nanti, penempaan spiritualnya akan setara dengan penempaan spiritual sepuluh ribu lima ratus tahun. Itu hampir menyamai dewa-dewi remaja di Kerajaan Langit.
Bai Feng Xian diam-diam mengumpati Ming Ye yang berbuat tanpa persetujuannya. Dia berencana membuat A-Rou lebih lama menikmati masa kecilnya, bermain dan mengunjungi banyak tempat di Empat Lautan dan Tiga Daratan. Siapa sangka naga tua itu diam-diam merencanakan sesuatu untuk murid tidak langsungnya!
“Tenanglah. Dia akan baik-baik saja,” Dongfang Yue mencoba menenangkan Bai Feng Xian. Seandainya dia tahu bahwa A-Rou adalah putrinya, ia akan lebih khawatir.
“Kau pasti datang terburu-buru. Aku akan membuatkan sedikit makanan untukmu,” ucap Bai Feng Xian.
Dia bergegas menuju bagian lain gua rubah, yang difungsikan sebagai dapur. Hanya saja, tempat itu sudah bobrok dan berdebu. Lebih dari lima ratus tahun Bai Feng Xian tidak menginjakkan kakinya di sini, dan dia tidak pernah memasak lagi sejak ia kehilangan ingatannya saat menjalani ujian langit. Mengetahui dapurnya sangat buruk, Bai Feng Xian mencelos.
Seharusnya dia memeriksa lebih dulu sebelum mengatakan dia akan memasak. Jangankan bahan makanan, bahkan secuil garam pun tidak ada. Bai Feng Xian hendak kembali ke ruangan utama, tapi dia dikejutkan oleh sosok Dongfang Yue yang tiba-tiba ada di belakangnya.
“Ah, aku mungkin harus keluar sebentar. Bahan makanannya sudah habis,” ujar Bai Feng Xian. Dongfang Yue tersenyum manis.
“Baik.”
Dia membiarkan Bai Feng Xian berkeliaran di sekitar Gunung Xi dalam pengawasannya. Matanya tak pernah lepas memandangi setiap gerak-gerik Bai Feng Xian, ia takut wanita itu akan menghilang jika dia melepaskan pandangannya.
Tapi nyatanya, wanita itu tetap ada di hadapannya. Dongfang Yue merasa beruntung karena langit masih memberinya kesempatan untuk bertemu kembali dengan A-Xian dan menebus semua kesalahannya.
Ada sebuah danau yang luasnya tidak seberapa di lereng Gunung Xi. Airnya jernih sampai dasar danau bisa terlihat dari permukaan. Bai Feng Xian tidak tahu apa nama danau itu, ia sering menggunakannya untuk mandi dan membersihkan dirinya. Jadi, dia kembali ke sana, memasang sebuah perangkap untuk menangkap ikan.
Diam-diam Dongfang Yue membantunya dengan memanggil dewa penjaga danau. Dewa penjaga itu kemudian mengerahkan pasukan ikannya untuk berkumpul di dekat perangkap Bai Feng Xian dan masuk ke sana secara bergerombol. Mendapati perangkapnya menangkap banyak ikan, dia kegirangan dan segera mengangkatnya.
“Kau dan A-Rou begitu suka memakan ikan. Buatkan bubur ikan untuknya juga,” kata Dongfang Yue.
“Itu, bisakah kau membuat api? Kau adalah anggota Klan Phoenix Api, seharusnya itu tidak akan menyulitkan, kan?” tanya Bai Feng Xian.
Dongfang Yue tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian, setelah dia menggerakkan jarinya, api menyambar kayu bakar yang sudah ditumpuk di luar gua rubah. Dapur sudah tidak bisa dipakai, jadi hanya bisa memasaknya di luar. Apinya seketika membuat udara di sekitar menjadi hangat.
Bai Feng Xian dan Dongfang Yue membakar ikan dan membuat bubur untuk A-Rou, lalu menjaganya sepanjang malam. Tanpa mereka sadari, mereka telah tertidur di samping ranjang tempat A-Rou berbaring. Sepasang orang tua itu tampak begitu tenang menjaga putri mereka.
__ADS_1