
Di laut Miao Yao, Dongfang Yue sedang berusaha memperbaiki kembali segel dan pembatas yang rusak.
Seseorang telah mengacaukannya, membuat beberapa retakan dan lubang yang cukup parah. Hampir sebagian besar energi kotor dari tempat ini tersebar ke luar, membuat beberapa tempat dilanda kekacauan. Dongfang Yue berusaha keras sambil mencoba memusnahkan energi kotor yang kabur.
Tiba-tiba, suara Ming Ye mengejutkannya. Sosoknya muncul begitu saja, tanpa suara langkah. Ia hanya datang seperti desiran angin.
"Kau kesulitan, Tian Jun?" tanya Ming Ye.
"Ini tidak sulit. Bantu aku memusnahkan energi kotor yang keluar dan tahan mereka," jawab Dongfang Yue.
Ming Ye dengan sigap membantunya menahan energi kotor yang berusaha keluar dari Laut Miao Yao dan memasukkannya kembali ke dalam segel. Itu cukup mudah, hanya saja Ming Ye sudah terlalu lama menyimpan kekuatannya hingga ia kadangkala lupa cara menggunakannya. Melihat Dongfang Yue berusaha keras, ia jadi berpikir alangkah baiknya jika semua dewa generasi sekarang memiliki semangat seperti Dongfang Yue.
Energi kotor berhasil ditekan, segel Laut Miao Yao sudah diperbaiki dan kembali berfungsi seperti semula. Bulir keringat yang mengucur di dahi Dongfang Yue segera menghilang, disusul dengan sebuah tarikan napas lega yang berhembus dari paru-parunya. Meski bukan pertama kalinya segel Laut Miao Yao rusak, namun kali ini kerusakannya cukup parah.
"Dari mana kau tahu aku di sini?" tanya Dongfang Yue pada Ming Ye.
"Pelayanmu mendatangi Danau Cerminku dan bercerita dengan nada yang mengkhawatirkan," jawab Ming Ye.
Dongfang Yue tersentak. Ia memang menyuruh Song Zi untuk mendatangi Danau Cermin jika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencana. Saat ia hendak menjemput A-Rou, ia merasakan getaran dan mendapati segel ini rusak, lalu menyuruh Sang Hui untuk menggantikannya menjemput A-Rou ke Gunung Yanqi. Jika Song Zi sampai datang ke Danau Cermin, itu artinya ada sesuatu yang tidak beres.
Benar saja, beberapa saat setelah ia berpikir, hatinya bergetar dan ia punya firasat lain. Ming Ye menatapnya, kemudian dengan penasaran bertanya, "Ada apa?"
"Terjadi sesuatu pada Bai Feng Xian!"
Dengan kekuatan secepat kilat, Dongfang Yue langsung menghilang dari Laut Miao Yao. Ming Ye menyusulnya, mereka kemudian pergi ke Gunung Yanqi. Mereka terkejut melihat Song Zi sedang berusaha mengobati Sang Hui. Karena Dongfang Yue sudah punya firasat, ia tak mempedulikan adiknya yang sedang terluka dan langsung pergi menuju puncak Gunung Yanqi.
Guntur yang menggelegar, angin yang bertiup kencang, serta cahaya yang bersinar tanpa arah kian membuatnya khawatir. Saat ia tiba di puncak Gunung Yanqi, matanya silau akibat gumpalan cahaya yang melayang di udara. Di sisi lain, ia melihat A-Rou terkapar di atas tumpukan batu dalam kondisi tak sadarkan diri. Di sudut lainnya, ia melihat Yingzhao berada dalam kondisi menyedihkan dengan tubuh penuh luka, menatap nyalang ke arah gumpalan cahaya yang tengah melayang.
Orang yang berada di dalam gumpalan cahaya itu adalah Bai Feng Xian!
__ADS_1
Saat Yingzhao mencuri kesempatan untuk menyerang, Dongfang Yue segera menghentikannya dengan melemparkan anak panahnya. Yingzhao terkapar lagi, kali ini sungguh sudah tidak sanggup berdiri atau sekadar menggerakkan jari. Serangan bertubi-tubi yang ia terima membuat inti jiwanya sedikit retak, membuat kekuatan iblis yang ia latih menjadi tak terkendali dan menyerang balik kepadanya.
Dongfang Yue segera menarik Bai Feng Xian, kemudian wanita itu tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.
***
"Apa bibiku baik-baik saja?" tanya A-Rou kepada Sang Hui, ketika mereka sudah kembali ke Istana Langit dengan selamat. A-Rou juga sudah pulih, namun ia terkejut melihat bibi dewinya tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama.
"Ayahmu menjaganya. Apa yang kau khawatirkan?"
A-Rou terdiam. Saat ia melihat Bai Feng Xian melawan Yingzhao dengan kekuatannya, A-Rou menyadari jika wanita yang selama ini ia panggil sebagai bibi, tak lain dan tak bukan adalah seseorang yang berkaitan erat dengan kelahirannya di dunia ini. Ia juga sadar, pada saat cahaya itu hampir menelan Bai Feng Xian, wanita itu sedang berusaha melawan sesuatu yang mungkin selama ini telah ia kubur dalam-dalam.
"Paman, aku ingin berlatih lagi. Jika wanita jahat itu datang lagi, aku akan melindunginya," ucap A-Rou dengan mantap. Sang Hui menatapnya heran.
"Kau ingin melindunginya? Aku rasa meskipun kau adalah murid tidak langsungnya, dia tidak begitu peduli padamu."
Sang Hui membelalak. Apa ia salah dengar?
"Maksudmu?"
"Paman, aku tidak bodoh. Dia ibuku, kan? Jika tidak, mana mungkin Tian Jun begitu memperjuangkannya. Kecuali, dia adalah orang yang sama dengan orang yang dicintainya lima ratus tahun lalu."
Sang Hui kehilangan kata-katanya. A-Rou benar-benar luar biasa! Dia tahu segalanya hanya dalam waktu yang singkat! Mengapa anak ini begitu ajaib? Apakah karena ia adalah keturunan Kaisar Langit dan Dewi Agung? Kecerdasannya itu, sungguh tidak bisa disamakan dengan anak dewa seusianya.
"Astaga, buntalan lumut hijau, kau benar-benar bibit unggul!"
"Aku bukan tanaman."
"Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda. Apa yang ingin kau lakukan selanjutnya? Sepertinya, ibumu sudah mulai mengingat masa lalunya."
__ADS_1
"Apa yang harus aku perbuat? Bibi menginginkanku berlatih dengan giat. Hanya itu yang perlu kulakukan."
"Lalu bagaimana jika ia ingat bahwa kau adalah putrinya?"
"Bertindak sesuai situasi saja. Aku lebih berharap dia sadar lebih cepat."
"Hah, kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Qingqiu mengetahui Dewi Agung mereka terluka sampai seperti ini," ucap Sang Hui pasrah.
"Apa lagi yang akan terjadi? Paman dan kakek serta nenek tentu saja akan membawa bibi pulang ke Qingqiu meskipun harus merebutnya dari Tian Jun."
A-Rou dan Sang Hui mengintip di ambang pintu, melihat Bai Feng Xian yang tengah dijaga Dongfang Yue dari kejauhan. Suara mereka begitu samar hingga tidak terdengar oleh Dongfang Yue. Itu membuat mereka leluasa berbicara apa saja.
Sejak kembali dari Gunung Yanqi, Dongfang Yue telah menjaganya siang dan malam, memberinya obat dan menyalurkan energi kehidupan kepadanya. Namun, Bai Feng Xian belum juga membuka matanya. Luka di tubuhnya cukup parah akibat serangan balik mantra pelepas jiwa, yang membuat Bai Feng Xian harus mengingat segalanya dari awal. Mungkin, tubuh dan hatinya belum bisa menerima kenyataan itu.
"A-Xian, apakah kau membenciku? Bencilah aku sepuas hatimu, tapi kau harus membuka matamu terlebih dahulu untuk bisa melakukannya," ucap Dongfang Yue. Suaranya pelan, terdengar begitu sedih dan putus asa.
Ini seperti pukulan berat untuknya. Ia tidak pernah menyangka, Yingzhao yang sudah ia hukum ternyata belum mati dan malah bersembunyi di dalam tubuh Feng Yuan Ying. Ia juga tidak pernah menduga jika wanita jahat itu akan mengincar putrinya, dan membuat Bai Feng Xian berhadapan langsung dengannya, sampai memaksanya menggunakan mantra pelepas jiwa.
Dongfang Yue seperti melihat Bai Feng Xian lima ratus tahun lalu, ketika wanita ini berdiri di tepi Sumur Pembunuh Dewa dengan luka-luka di seluruh tubuhnya. Saat itu, ia tampak sangat menyedihkan dan begitu malang. Sorot matanya sesekali menyiratkan kesedihan yang mendalam, namun itu berganti dengan tatapan penuh kemarahan dan kebencian yang telah mengakar.
Suaranya bergetar dan begitu menyayat hati ketika Bai Feng Xian mengatakan bahwa ia tidak akan bertanggungjawab atas segala sesuatu yang tidak ia lakukan, dan berkata akan membayar budi Dongfang Yue dengan harga yang sangat mahal sebelum akhirnya memutuskan untuk melompat ke dalam sumur tersebut.
Sampai detik ini pun, Dongfang Yue masih menyesalinya. Ia menyesal telah jatuh dalam jebakan Yingzhao, ia menyesal telah menghukum Bai Feng Xian saat wanita itu tidak memiliki kemampuan untuk melawan sama sekali. Ia menyesal atas tindakannya yang tidak segera mengerti situasi. Seandainya saat itu ia mau menoleh sejenak dan berpikir beberapa detik, menatap Bai Feng Xian, mungkin nasibnya akan berbeda dengan hari ini.
Bai Feng Xian memang kembali kepadanya, namun segala sesuatunya telah berbeda. Dongfang Yue sekarang tidak memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi Bai Feng Xian, karena ia tahu ingatan yang dilupakan itu telah kembali. Segala kenangan yang dikunci dengan segel anggur Meng Po lima ratus tahun lalu telah kembali. Ketika wanita ini sadar nanti, Dongfang Yue tidak yakin apakah ia masih punya muka untuk menghadapinya.
Tapi, memangnya kenapa? Sejak pertemuan awal, ia sudah bertekad untuk bertaruh sekali lagi.
"A-Xian, apakah kau mendengarku? Kau harus bangun jika ingin membenciku seumur hidupmu."
__ADS_1