
Istana Langit, meskipun memiliki jumlah penghuni dua kali lebih sedikit dari Qingqiu, tidak lantas membuatnya seperti tempat sepi yang terpencil. Orang-orang di sini sangat menarik, terutama mereka – para pelayan dari kaum peri yang bekerja di setiap sudut istana setiap hari. Selalu ada gossip yang tersebar dari mulut ke mulut, membuat orang lain mengetahui informasi yang bahkan belum tersebar secara luas.
Hari ini, mereka membicarakan soal Dongfang Yue yang membawa seorang anak kecil ke Istana Langit setelah tidak pulang beberapa hari. Anak perempuan imut yang suka berpakaian hijau, berpipi bulat dan gembul itu seketika menjadi perbincangan hangat.
Pasalnya, sikap anak kecil itu sangat liar dan nakal. Baru beberapa jam tiba, dia sudah mengacaukan kolam spiritual di Istana Tianhua, kediaman Selir Langit.
Entah bagaimana caranya dia pergi ke sana, ketika pelayan menemukannya, halaman Istana Tianhua sudah digenangi air. Rupanya, air di kolam spiritual itu meluap, membanjiri area lain dan merendamnya sampai mata kaki. A-Rou, pelaku utama, justru bermain dengan riang dan melompat sambil menangkapi ikan-ikan yang ikut keluar dari kolam itu.
Untungnya, Song Zi tiba tepat waktu dan berhasil mencegar banjir meluas ke istana lain. A-Rou dibawa ke dalam Istana Tianwu, dan pakaiannya diganti dengan yang baru.
Karena ia terbiasa memakai pakaian hijau,
saat ia menggunakan warna lain yang lebih lembut, A-Rou sedikit tidak terbiasa. Dia meminta Song Zi untuk menggantinya lagi dengan warna hijau, tapi keinginannya tidak terpenuhi karena tidak ada pakaian lain yang berwarna hijau di sini.
“Apa Istana Langit begitu miskin? Di Qingqiu dan Dunia Arus Bawah, aku bahkan memiliki lebih dari sepuluh pakaian berwarna hijau!”
Pipinya yang bulat mengembung seperti ikan buntal. Song Zi yang terbiasa bersikap serius tidak mampu menahan kegemasannya. Anak ini, sepertinya sangat istimewa. Kaisar Langit sampai membawanya kemari. Tandanya, anak ini bukan anak biasa. Dia punya sesuatu yang tidak dimiliki anak dewa lain.
“Dewi Kecil, Tian Jun memiliki kebiasaan memakai pakaian polos dengan warna yang elegan. Jika kau ingin protes, silakan bicara pada Tian Jun,” ucap Song Zi.
“Apa Kaisar Surga memang seperti itu? Tidak berarti semua orang harus mengikuti seleranya, kan?”
“Ah, itu, saya tidak punya jawabannya.”
“Huh, bicara ya bicara saja! Aku akan menemuinya sekarang juga!”
A-Rou melompat keluar, berlari dengan cepat menuju ruang kerja Dongfang Yue. Song Zi tidak dapat mengejarnya karena sebelumnya Dongfang Yue berpesan agar tidak membatasi ruang gerak A-Rou dan biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan. A-Rou buru-buru membius para penjaga, dan berlari masuk ke dalam ruang kerja.
“Paman! Aku tidak ingin memakai warna ini!” teriak A-Rou.
Saat itu, beberapa menteri dewa sedang melaporkan sesuatu. Mereka terkejut melihat seorang anak kecil, perempuan, menerobos masuk ke dalam ruang belajar tanpa mengetuk pintu. Sejak kapan Istana Tianwu menjadi longgar sampai sembarangan orang bisa masuk?
“Beraninya kau menerobos masuk ruang belajar Tian Jun tanpa izin!” bentak salah seorang menteri dewa.
Ekspresi Dongfang Yue tenggelam dalam kegelapan, matanya menatap tajam menteri dewa yang baru saja bicara dengan suara keras. Dia mengepalkan tangannya, dan seketika menggebrak meja.
“Lancang! Siapa yang memberimu hak untuk membentaknya?!”
Tinta di dalam wadah yang sudah digiling seketika tumpah, meninggalkan noda hitam di lantai. Meja itu bergetar, beberapa kertas dan buku laporan terjatuh. Mereka yang berada di ruangan itu seketika tertegun, seolah-olah jiwa telah meninggalkan tubuh mereka.
Dongfang Yue tiba-tiba bangkit dan menghampiri A-Rou. Dia berjongkok di depannya dan memegang bahunya. “Kau tidak menginginkan warna ini?”
A-Rou mengangguk. “Aku ingin memakai warna hijau. Itu adalah warna yang selalu kupakai sejak Guru membawaku ke Dunia Arus Bawah.”
“Baiklah.”
Dalam sekejap, pakaian A-Rou sudah berubah warna menjadi hijau. Buntalan lumut itu melompat kegirangan, karena baju yang ia pakai ternyata lebih indah dan lebih bagus daripada yang ia gunakan sehari-hari.
__ADS_1
“Jangan memaksa orang lain mengikuti seleramu. Dunia ini tercipta bukan hanya dengan satu warna saja.”
“Aku tidak pernah memaksa mereka. Pergilah lebih dulu, kita akan berlatih tiga jam lagi.”
A-Rou mengangguk dan dengan cepat berlari keluar. Setelah Dongfang Yue berdiri, para menteri dewa menahan napas mereka. Ekspresi wajah raja mereka berubah lagi dalam sekejap. Dia kembali menjadi dingin, dan suhu ruangan di dalam sana berubah sedingin Pegunungan Utara.
Seorang menteri dewa yang lain memberanikan diri bertanya, “Tian Jun, siapakah anak kecil tadi?”
“Muridku,” Dongfang Yue menjawab singkat, dalam hatinya ia meneruskan: dan juga putriku.
Mereka terkesiap. Bukankah Kaisar Langit tidak menerima murid lain selain A-Xian? Dari mana raja mereka mendapatkan murid baru yang begitu kurang ajar?
“Ah?”
“Pergi. Aku tidak mau melihat wajah kalian.”
Meskipun urusan belum selesai, tapi menyelamatkan diri adalah poin penting saat ini. Mereka sudah membuat Kaisar Langit marah dengan membentak murid barunya. Jika tidak segera pergi, kedewaan mereka akan terancam. Terlebih, sudah lama mereka tidak melihat Kaisar Langit marah karena hal kecil.
“Kalau begitu, kami akan memberikan detail masalahnya kepada Dewa Song Zi. Tian Jun, kami akan pergi sekarang.”
Dongfang Yue mengangguk kecil tanpa berbalik, tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun. Bahkan setelah para menteri dewa keluar, Dongfang Yue masih memunggungi mereka.
***
Bai Feng Xian melengang masuk dengan santai ke dalam Istana Tianwu, mengabaikan pandangan para pelayan peri yang berpapasan dengannya. Para pelayan peri itu masih belum puas bergosip tentangnya. Mereka bahkan berbicara tentang anak perempuan kecil yang dibawa oleh Kaisar Langit, menghubungkannya dengan Bai Feng Xian.
“Kerajaan Langit ini, sampai kapan akan terus berkicau?”
“Kakak ipar, apa kamu sangat merindukan kakaku sampai-sampai tidak memperhatikan jalan?”
Bai Feng Xian menoleh. Sang Hui menyunggingkan senyum tengilnya, kemudian melepaskan Bai Feng Xian. Untung saja gerakan refleksnya cepat, jika tidak, calon kakak iparnya ini akan telungkup di lantai Istana Langit. Bai Feng Xian buru-buru mengendalikan dirinya.
“Omong kosong! Siapa yang merindukan kakakmu?”
“Kalau begitu, kau pasti merindukan dewi kecil itu, kan?”
“Buntalan lumut hijau itu ada di sini?”
Sang Hui mengangguk.
“Dia bahkan hampir membuat Istana Langit banjir dan menerobos masuk ke dalam ruang kerja Tian Jun, merengek ingin mengganti warna bajunya menjadi hijau.”
Astaga, bocah nakal itu! Ke manapun dia pergi, pasti akan berbuat onar!
“Di mana dia sekarang?”
“Mungkin sedang bermain.”
__ADS_1
Song Zi tidak lama kemudian berlari menghampiri mereka dengan wajah panik. Bai Feng Xian dan Sang Hui menatapnya dengan heran. Tidak biasanya Song Zi kehilangan ketenangan dan kendali dirinya. “Yang Mulia Kedua, Dewi, terjadi masalah besar! Dewi Kecil mencabuti bulu burung Ning Sui milik Tian Jun!”
Bai Feng Xian dan Sang Hui membelalak. Burung Ning Sui adalah binatang spiritual suci yang sangat penting bagi Dongfang Yue. Burung itu usianya sudah sepuluh ribu tahun, sebentar lagi akan berubah ke bentuk manusia. Dongfang Yue membawanya dari Laut Miao Yao saat memperbaiki segel Raja Iblis dan menjadikannya hewan peliharaannya.
Di Istana Langit, setelah A-Xian, burung Ning Sui adalah objek kedua yang tidak boleh diganggu. Siapapun itu, jika berani menyentuhnya, akan mendapat hukuman. Bai Feng Xian dan Sang Hui segera pergi ke tempat burung Ning Sui berada, dan mereka dibuat terkejut oleh pemandangan yang ada di sana.
Burung Ning Sui yang berbulu indah berwarna-warni itu, sekarang tidak lebih seperti burung yang siap dipanggang. Semua bulunya sudah rontok dan berserakan di tanah. Tidak jauh darinya, A-Rou sedang berusaha mencabuti bulu kepala Ning Sui sampai botak. Bocah kecil itu melompat-lompat, sesekali menggunakan sihirnya untuk terbang dan jatuh lagi.
Burung Ning Sui meskipun sudah berusia sepuluh ribu tahun, jika dibandingkan dengan kekuatan yang ada di dalam tubuh A-Rou, dia masih kalah jauh. Burung Ning Sui tidak bisa melarikan diri karena kakinya diikat seutas tali dari serat kayu pengikat jiwa. Dia hanya bisa pasrah saat anak kecil keturunan rubah itu mencabuti bulunya sampai rontok dan gundul.
“Bocah nakal, apa yang kau lakukan?” tanya Bai Feng Xian, dengan emosi tertahan.
A-Rou hanya meliriknya sekilas.
“Mencukur seekor burung.”
“Hei, Nak, apa kau tahu burung apa yang kau aniaya itu?” tanya Sang Hui.
“Burung Ning Sui.”
“Lalu mengapa kau masih melakukannya?”
“Karena aku ingin. Burung jelek ini mengibaskan ekornya padaku, dan aku tidak senang.”
Sang Hui terpana. Semakin diperhatikan, temperamen A-Rou memang semakin mirip dengan Dongfang Yue. Bicara hanya beberapa patah kata, begitu singkat, padat, dan jelas. Seakan-akan bicara dengan kata yang lebih banyak hanya akan membuang waktu yang paling berharga.
“Bibi, bagaimana jika kita membakarnya? Dagingnya pasti empuk!”
“A-Rou, hentikan sekarang atau aku akan mengembalikanmu ke Dunia Arus Bawah!”
Mendengar bibi dewi sekaligus guru tidak langsungnya mengancamnya, nyali A-Rou yang tadinya begitu besar menciut. Dia tidak sanggup menghadapi Bai Feng Xian. Entah apa alasannya, tapi A-Rou dengan cepat berlari ke arah Bai Feng Xian dengan wajah cemberut. Dia belum puas bermain. Bulu di kepala burung Ning Sui belum ia cabut semuanya.
“Tian Jun akan marah jika tahu binatang spiritualnya diubah menjadi burung siap panggang seperti ini,” ucap Sang Hui. “Kita harus mengembalikan semua bulu-bulu itu sebelum kakakku datang.”
“Bagaimana caranya?” tanya Bai Feng Xian. “Ning Sui bukan burung yang bisa ditumbuhkan bulunya dengan sihir.”
“Bagaimana kalau kau gunakan bulu rubahmu untuk menutupinya?”
“Memangnya bisa?”
“Kita coba saja!”
Demi menyelamatkan A-Rou dan burung Ning Sui, Bai Feng Xian terpaksa menurut. Dia menggunakan bulu rubahnya yang setara dengan lima ratus tahun penempaan spiritual untuk membuat replika bulu burung Ning Sui. Bulu rubah itu kemudian menyelimuti tubuh Ning Sui, membentuk bulu burung yang serupa dengan aslinya.
Sayangnya, itu tidak bertahan lama. Dongfang Yue tiba-tiba datang ke tempat itu tanpa pemberitahuan. Burung Ning Sui yang merasa dirinya dianiaya meraung keras. Bulu palsu yang menempel di tubuhnya rontok, kembali ke bentuk asli dan jatuh ke tanah.
Dongfang Yue menatap Bai Feng Xian, Sang Hui, dan A-Rou bergantian.
__ADS_1
“Apa yang kalian lakukan pada burung Ning Sui milikku?”
Bai Feng Xian kemudian menjawab, “Jika aku mengatakan bulunya rontok, apa kau akan percaya?”