
Kali ini, Bai Feng Xian benar-benar kembali ke Qingqiu bersama Ming Ye. Awan keberuntungan yang ia pijak menghilang menjadi kabut tipis yang perlahan terbawa angin dan musnah tanpa jejak.
Padang rumput luas yang menghijau tempat ia berdiri sekarang adalah jalan masuk menuju Qingqiu. Di ujung padang rumput itu terdapat sebuah gua batu yang menjadi pintu masuk utama menuju tempat tinggal Klan Rubah tersebut.
Angin musim semi kala itu berhembus menepuk pelan wajah Bai Feng Xian. Ming Ye segera membawanya masuk dan berjalan menuju Istana Qingyun, tempat ayah dan ibunya duduk. Beberapa dayang istana menyapanya dengan menundukkan kepala ketika berpapasan dengannya.
Lampu-lampu kristal yang dipasang di setiap sudut satu persatu mulai menyala terang. Meskipun Qingqiu tidak seluas dan tidak sebesar Kerajaan Langit, tetapi ia memiliki Istana Qingyun yang kemegahannya tidak kalah jauh dengan istana lain di Empat Lautan dan Lima Daratan.
Hanya saja kemegahan itu hanya dapat dilihat oleh mereka yang hatinya terpaut pada Qingqiu.
Saat pintu Istana Qingyun terbuka, ia melihat kakaknya, Bai Chi tengah duduk di sisi singgasana ayahnya dengan cemas. Semua orang langsung menoleh akan kedatangan dewi mereka setelah tidak pulang beberapa hari.
Ini belum pernah terjadi. Dulu, sebelum Bai Feng Xian tertidur selama tiga ratus tahun, semua orang tidak pernah mempertanyakan ke mana ia pergi dan berapa lama ia akan kembali.
Ayahnya, Bai Yin, pergi ke Padang Rumput Timur untuk menjenguk kakak kedua mereka beberapa jam yang lalu. Semua urusan di Istana Qingyun jatuh pada kakak pertamanya, Bai Chi, yang sampai di usianya yang ke lima puluh ribu tahun belum menikah juga.
Namun, perhatian terbesar yang membuat Bai Chi cemas kala itu bukanlah kehadiran Bai Feng Xian yang terlambat, melainkan apa yang akan terjadi setelah ini. Di tengah aula, seorang wanita berjubah putih gading yang ujungnya disulam dengan benang emas berdiri menghadap singgasana. Punggungnya tegak, kepalanya mendongak dengan congkak.
Suasana hati Bai Feng Xian tiba-tiba berubah buruk. Ia menyesal telah mengikuti Ming Ye dan datang kemari saat ini. Wanita itu – Yingzhao segera membalikkan badan ketika semua pandangan tertuju pada objek di belakangnya. Wajah cantiknya bersinar, namun Bai Feng Xian sama sekali tidak memiliki kesan terhadapnya.
“Untuk apa kau kemari?”
Sungguh, Bai Feng Xian tidak ingin melihat wanita ini lagi. Dia mungkin seorang Dewi Agung, tetapi sifat dan kerendahan hatinya belum terbentuk dengan sempurna karena usia muda.
Bai Feng Xian belum dapat berdamai dengan cara kerja dunia, yang mengharuskan seorang Dewi Agung menjadi lebih penyabar dan murah hati, cenderung tidak mempermasalahkan segala sesuatu dan emosi.
__ADS_1
Melihat Selir Langit Yingzhao datang, dia jadi tidak senang. Permasalahan yang ditimbulkan oleh ketidakcermatan wanita itu ketika jamuan langit meninggalkan bekas yang cukup dalam di hati Bai Feng Xian.
Ia biasanya mengabaikan hal-hal kecil tidak penting ini, tapi entah mengapa rasanya sulit melepaskan kekesalannya kali ini.
Seolah-olah, ada tarikan dendam di kehidupan lampau yang menariknya untuk tidak menyukai sosok Selir Langit. Di matanya, Yingzhao seperti sebuah benalu yang terlalu lama menempel pada inang, hingga ia lupa jati diri dan menganggap dirinya penting. Perasaan itu muncul tiba-tiba.
Yingzhao dengan segala kerendahan hati yang dipaksakan lantas membungkuk memberinya hormat. “Aku datang untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara kita.”
Ming Ye bergerak ke sisinya. Dewa yang tua ini tidak pernah melewatkan kesempatan menyaksikan sebuah drama berlangsung di depan matanya.
Adegan ini akan menjadi adegan panjang yang dicatat dalam sejarah dan menjadi sebuah kisah yang selamanya akan dikenal dalam legenda kedewaan: ketika Selir Langit yang anggun merendahkan diri meminta maaf pada Dewi Agung Qingqiu.
“Bukankah kau bilang kau ingin dia datang sendiri? Lihat, orangnya sudah datang. Seharusnya kau merasa senang,” bisiknya di sisi telinga kanan Bai Feng Xian.
Kata-kata itu tidak lebih dari sebuah pecutan untuk memprovokasinya. Ming Ye menyalakan api pertunjukkan di depan matanya.
“Aku tidak akan terprovokasi olehmu.”
Kemudian, Bai Feng Xian menatap Yingzhao dengan tajam. Yingzhao masih bersikap tenang dan angkuh, seolah-olah dewi di hadapannya ini hanyalah seorang dewi kecil yang sedang naik daun saja.
Di Istana Langit, siapa yang berani menentang dan menandinginya? Dia adalah Selir Langit, yang dihormati Empat Lautan dan Tiga Daratan. Atas dasar apa ia harus membungkuk dan merendahkan dirinya di depan dewi rubah liar dari Qingqiu ini?
Jika bukan karena Kaisar Langit yang memarahinya dan menegurnya, ia tidak akan sudi datang kemari. Kesalahan itu tidak sepenuhnya salahnya.
Dua bawahan Raja Laut Timur itu telah membuatnya menanggung malu di hari jamuan ulang tahunnya, bahkan mengharuskannya datang sendiri kemari untuk menyampaikan permohonan maaf. Sampai titik ini, derajatnya sudah cukup diturunkan.
__ADS_1
“Jika Selir Langit benar-benar datang untuk meminta maaf, mengapa nada bicaramu seperti itu? Mungkin orang mengira kau datang untuk berkelahi denganku.”
“Kalau begitu, mohon pencerahanmu, Dewi Agung.”
Dia mengatakannya dengan suara yang cukup jelas dan volume yang cukup. Tapi, Bai Feng Xian dapat melihat rahang wanita itu mengeras sampai tulang pipinya terlihat menyusut dan giginya sedikit bergemeretak. Selain itu, tangannya juga terkepal, sementara matanya dipenuhi emosi yang tertahan.
“Kau membiarkan dua bawahan tamumu memprovokasi dan memfitnahku. Aku, Bai Feng Xian, bukan orang yang murah hati. Sebagai Selir Langit yang dimuliakan, tindakanmu sangat tidak mencerminkan akal dan moral seorang panutan. Aku tidak peduli apa yang telah dikatakan Kaisar Langit sampai kau benar-benar datang, yang jelas, permintaan maafmu belum dapat kuterima karena kau belum cukup tulus.”
Ming Ye terkekeh mendengar perkataan gadis nakal ini. Bai Feng Xian lain di mulut lain di hati. Tadi dia bilang tidak akan termakan omongan provokatif Ming Ye, tetapi pada akhirnya mengambil umpannya juga.
Ming Ye jadi bertanya-tanya mungkinkah Bai Feng Xian pernah berselisih dengan Yingzhao sebelumnya?
Wajah Yingzhao yang dipenuhi oleh riasan menghijau.
“Lantas, ketulusan apa yang kau inginkan dariku, Dewi Agung?”
“Biar kupikirkan dulu. Ah, Ming Ye, apa Fang Jue melarikan diri lagi?”
Bai Feng Xian melihat Ming Ye mengangguk. Fang Jue adalah siluman merak tunggangan Bai Feng Xian yang ia dapat dari kakak keduanya delapan ratus tahun lalu.
Sebelum ia tertidur dan kehilangan ingatannya selama tiga ratus tahun, ia sering menungganginya untuk pergi ke berbagai tempat di Empat Lautan dan Tiga Daratan.
Hanya saja Fang Jue ini tidak selalu patuh. Setiap kali Bai Feng Xian tidak memanggilnya dalam beberapa hari, dia akan melarikan diri sampai Bai Feng Xian harus mencarinya. Kebiasaan burung itu tidak berubah bahkan sampai Bai Feng Xian menjadi Dewi Agung.
“Kau dengar itu? Tungganganku melarikan diri lagi dan aku harus mencarinya. Kuberitahukan padamu ketulusan apa yang kuinginkan setelah aku kembali nanti.”
__ADS_1
Dan Bai Feng Xian, Dewi Agung Qingqiu yang selalu bebas ini tidak lagi menghiraukan keberadaan Yingzhao dan tujuannya datang kemari.
Istana Qingyun menjadi sangat suram ketika Bai Feng Xian melengang keluar melalui pintu gerbang, lalu menaiki awan keberuntungan dan pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.