Api Cinta Sang Dewi Agung

Api Cinta Sang Dewi Agung
Eps. 13: Mengantar Pergi


__ADS_3

Dongfang Yue jatuh dalam pemikiran dalamnya lagi dan lagi.


Setelah lima ratus tahun berlalu, baru kali ini ia merasakan pergerakan di Gunung Yanqi. Gunung itu sudah ia lindungi selama lima ratus tahun, ia berharap bisa membangkitkan kembali apa yang telah hilang darinya.


Dalam periode yang singkat itu, Gunung Yanqi hanya menjadi gunung spiritual yang mengumpulkan banyak energi murni tanpa bisa dimasuki.


Dongfang Yue justru merasa heran mengapa pergerakan yang tidak pernah ada malah datang hari ini. Dongfang Yue bahkan membatalkan pengadilan dewa hanya untuk mengetahui makhluk abadi mana yang telah berani masuk tanpa izin ke Gung Yanqi.


Dan saat sampai, ia justru tertegun.


Dia marah, tetapi ada sedikit harapan berpendar di hatinya. Harapan itu sangat-sangat kecil, lemah, lebih lemah daripada kultivasi seekor siluman bunga.


Aliran energi murni pengumpul aura untuk membentuk jiwa A-Xian berputar teratur saat Bai Feng Xian menyentuhnya di atas kolam buatannya.


Aliran energi murni itu membuat tubuh Bai Feng Xian berubah ke wujud aslinya: seekor rubah putih berekor sembilan. Bulunya seputih saju, selembut sutera ketika Dongfang Yue menangkapnya sebelum jatuh ke dalam kolam.


Bobotnya ringan, tak seberat hewan spiritual lain. Di bagian mata rubahnya terdapat sebuah lengkungan garis berwarna merah yang memanjang membentuk sayap runcing.


Dan meskipun dia telah kembali ke wujud aslinya, dia terlihat begitu cantik.


Dongfang Yue sudah memberinya transfer energi murni miliknya dan menstabilkan perputaran energi acak di dalam tubuh Bai Feng Xian akibat hawa murni di Gunung Yanqi. Wujudnya sudah berubah kembali ke bentuk manusia, tapi ia masih belum sadarkan diri.


“Tian Jun,” Suara Song Zi, pelayan dewanya memecah keheningan di dalam kamar Istana Tianwu.


Dongfang Yue mengangkat kepalanya, dalam mode tenang ia lantas memandang Song Zi seperti biasa.


“Yang Mulia Kedua bersikeras tidak ingin pergi. Dia masih berlutut di dalam Aula Penglai dan belum keluar dari sana sedetikpun.”


Yang Mulia Kedua yang dimaksudnya adalah Sang Hui atau Dewa Muda Tianqi. Baru-baru ini dia tanpa sengaja memecahkan artefak peninggalan masa prasejarah, sebuah lentera yang pernah digunakan Dewa Leluhur untuk menerangi semesta saat bencana besar datang.


Karena lentera itu adalah benda suci dan memiliki jejak kekuatan magis Dewa Leluhur, Sang Hui harus menanggung hukuman.


Pengadilan Dewa memutuskan agar ia turun ke Alam Fana untuk menebusnya. Sang Hui harus menjalani serangkaian reinkarnasi dan hidup sebagai manusia selama tujuh kali dan berbuat kebajikan sepanjang hidupnya.

__ADS_1


Sang Hui diharuskan menjadi pengganti lentera itu: sebagai cahaya yang menerangi kegelapan.


Yah, Dewa Muda Tianqi yang bersemangat menolak hukuman dan meminta Dongfang Yue mengubahnya ke hukuman lain. Menurutnya, hukuman menjadi manusia selama tujuh siklus reinkarnasi terlalu berat untuk dewa muda sepertinya.


Tapi, permohonannya tidak dikabulkan karena Dongfang Yue telah memutuskan. Ia bahkan sudah meminta Si Ming untuk segera menuliskan sebuah buku takdir untuknya.


“Karena dia ingin berlutut, maka biarkan saja,” ucap Dongfang Yue. Nada datarnya seperti hamparan balok marmer Istana Langit.


“Tapi, waktu reinkarnasinya akan dimulai tiga jam lagi,” Song Zi tampak cemas.


Bai Feng Xian yang saat itu sudah sadar dan memilih berpura-pura belum sadar dapat mendengar helaan napas yang panjang keluar dari pernapasan Dongfang Yue.


Matanya mengintip sedikit, melihat sosok berjubah putih duduk di kursi gioknya dengan santai. Song Zi, pelayan dewanya, tampak masih berdiri dengan cemas di seberang meja.


Dongfang Yue menghela napas lagi. Setelah menghela napasnya yang kedua, ia bangkit dan berjalan malas menuju gerbang istana.


Sang Hui, bagaimanapun adalah adiknya. Dongfang Yue terlalu memanjakannya hingga adiknya itu berlaku kurang ajar dan nakal.


Bai Feng Xian tidak bisa pura-pura lagi. Sekarang matanya sudah benar-benar terbuka, menatap canggung pada Dongfang Yue. “Ah, mengapa aku ada di sini?”


“Dewi Agung, Kaisar sedang terburu-buru. Kau bisa meminta penjelasannya nanti.”


Decihan di mulut Bai Feng Xian terdengar oleh telinga Dongfang Yue. Kaisar Langit masih berdiri di ambang pintu, dan tanpa menoleh ia berkata, “Siluman merak yang kau cari jatuh di puncak Gunung Yanqi dan sekarat. Jika kau masih menginginkannya, kau bisa melihatnya turun ke dunia fana sebagai manusia.”


Fang Jue, si merak nakal tunggangannya itu sekarat?


Bai Feng Xian buru-buru turun dari ranjang, lantas mengikuti Dongfang Yue. Di dalam Aula Penglai, dia melihat Sang Hui masih berlutut. Tatapannya berubah menjadi pasrah kala Dongfang Yue datang.


Mata cerah yang berbinar seperti kejora yang merecoki Bai Feng Xian beberapa hari lalu redup. Ia yakin, Sang Hui si dewa berisik ini pasti sudah kehilangan kesempatan untuk memohon.


“Tian Jun….” lirih Sang Hui.


“Kau harus bertanggungjawab atas perbuatanmu sendiri. Si Ming sudah mengatur rencana kehidupan manusiamu. Pergilah.”

__ADS_1


Pada akhirnya, sinar itu benar-benar hilang dari matanya. Sang Hui berjalan gontai keluar dari Aula Penglai, pergi ke Sungai Wangchuan.


Tempat ini adalah tempat para roh berkumpul, menunggu giliran reinkarnasi sesuai dengan karma dan darma masing-masing. Area ini terlarang untuk kaum abadi, tetapi Dongfang Yue membuat pengecualian untuk Bai Feng Xian.


Di tepi sungai, Bai Feng Xian melihat roh Fang Jue sedang memasuki Jembatan Naihe, bersiap meminum sup Meng Po, sup pelupa ingatan.


Rupanya benar, merak tunggangannya itu akan bereinkarnasi. Dongfang Yue menyelamatkan jiwanya dan menurunkannya ke Alam Fana, mencegahnya musnah.


Lazimnya, roh siluman burung spiritual bisa musnah jika sekarat dan mati. Fang Jue adalah roh burung, tetapi hidupnya bisa diselamatkan berkat bantuan Dongfang Yue.


Dia akan bereinkarnasi, dan jika beruntung, dia bisa kembali ke tubuh aslinya. Bai Feng Xian membayangkan jika suatu saat merak nakalnya itu benar-benar bisa kembali dan wujudnya bisa menjadi manusia.


Sosok Sang Hui juga berada di barisan itu. Meskipun Sang Hui berisik dan memiliki semangat dewa-dewi muda, Bai Feng Xian tidak membencinya.


Tiba-tiba saja rasa ibanya tertuju pada sosok itu, yang kini memasuki gerbang reinkarnasi. Terlihat keputusasaan di wajahnya yang biasanya cemerlang.


Hukum Kerajaan Langit benar-benar ketat dan tanpa ampun. Meskipun Qingqiu berada jauh dari Istana Langit, tetapi kabar mengenai tempat itu selalu berputar seperti angin.


Bai Feng Xian sering mendengar kisah dewa-dewi di Kerajaan Langit dari para tetua dan pengembara yang lewat. Mereka bilang Kaisar Langit berhati dingin. Di Empat Lautan dan Tiga Daratan, sosok ini menjadi satu-satunya dewa paling terkenal setelah Kaisar Tua Xuan Yi.


Menjalani reinkarnasi selama tujuh masa kehidupan adalah sebuah siklus yang cukup panjang. Waktu di Alam Langit dan Alam Fana mungkin saja berbeda.


Sang Hui bisa saja pergi selama satu sampai tiga tahun tergantung keberuntungannya. Namun, selama masa itu, ia akan menjalani kehidupan seorang manusia, tanpa sihir, tanpa tubuh abadi.


Tapi, mengapa Kaisar Langit, Dongfang Yue ini begitu longgar pada Selir Langit Yingzhao?


Selir itu memang tidak menghancurkan benda pusaka Kerajaan Langit, tetapi dengan semua perbuatannya, bukankah seharusnya ada hukuman? Terlebih, rumornya Selir Langit itu bahkan menipu Dongfang Yue dan membuatnya kehilangan murid kesayangannya.


Bagian ini, dia lebih tidak memahaminya.


Dongfang Yue setelah melihat adiknya memasuki gerbang reinkarnasi, langsung membalikkan tubuhnya. Tanpa ekspresi. Dingin, tetapi memiliki daya tarik yang begitu kuat.


Seolah-olah, wajah dinginnya adalah cerminan dunia. Bai Feng Xian juga ikut berbalik setelah memastikan Fang Jue memasuki gerbang reinkarnasinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2