
Hari berikutnya, Istana Langit kacau balau. Dewi Agung Bai Feng Xian dan murid kecilnya, Huirou, menghilang tanpa jejak dari Istana Tianwu. Para prajurit surga mencarinya ke segala penjuru, namun kedua orang itu tidak ditemukan sama sekali.
Dongfang Yue bahkan merasa dia telah putus asa sebelum benar-benar menyerah. Satu hal yang pasti: kepergian Bai Feng Xian dan A-Rou bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah respon atas kejadian di Gunung Yanqi yang hampir merenggut nyawa keduanya.
Mungkin saja, Bai Feng Xian sengaja membawa A-Rou pergi dari Istana Langit tanpa memberitahunya karena wanita itu merasa Dongfang Yue sangat teledor menjaga anak kecil itu, sampai membuatnya berada dalam bahaya. Atau, Bai Feng Xian marah padanya karena datang terlambat, membuatnya terpaksa menggunakan mantra pelepas jiwa untuk mengalahkan Yingzhao.
Atau bisa jadi, ada kemungkinan lain yang lebih parah dari sekadar yang ada di dalam pikiran Dongfang Yue. Ming Ye pernah berkata bahwa suatu saat, Bai Feng Xian mungkin saja akan kembali kepada dirinya sendiri di masa lalu. Mungkinkah, mungkinkah wanita itu sudah mengingat masa lalunya?
Tanpa berpikir panjang, Dongfang Yue langsung bergegas menuju Paviliun Qian Meitian. Namun, paviliun itu kosong seperti tak pernah dijejaki sama sekali. Bahkan Xiao Huan, roh bunga yang biasanya begitu cerewet dan pemarah, tampak tidak merespon kedatangannya. Itu artinya, Bai Feng Xian tidak pernah datang kemari.
Dongfang Yue lantas turun ke Danau Cermin, namun ia hanya mendapati suasana sepi di tempat itu.
"Tian Jun, apa yang membuatmu mendatangi tempat sepiku ini lagi dan lagi?"
Suara Ming Ye yang khas, jenaka namun sedikit menyindir, datang dari arah hutan persik. Sosoknya muncul dalam balutan jubah ungu muda, membuatnya terlihat sedikit lebih feminim. Ditambah dengan wajah tampannya, penampilannya cukup menawan untuk seorang Dewa Agung berusia lebih dari lima ratus ribu tahun.
"Bai Feng Xian dan A-Rou pergi tanpa memberitahuku," jawab Dongfang Yue singkat. Ming Ye mengangguk-ngangguk.
"Apa mereka datang kemari?" tanya Dongfang Yue.
"Tidak."
Dongfang Yue tidak percaya pada jawaban dewa yang satu ini. Selain Qingqiu dan Gunung Xi, satu-satunya tempat yang sangat disenangi Bai Feng Xian adalah Danau Cermin. Jika ia bahkan tidak kemari, lantas ke manakah wanita itu pergi?
__ADS_1
"Tian Jun, kau mungkin akan kehilangan dia lagi jika kau tidak segera menemukannya," ucap Ming Ye. Sebetulnya, dia sengaja membohongi Dongfang Yue karena kesal. Selain itu, semalam ia juga mendengar ucapan Bai Feng Xian yang menyuruhnya untuk tidak memberitahu keberadaannya kepada siapapun, termasuk pada Dongfang Yue.
Dongfang Yue tidak menggubris ucapan Ming Ye, lalu tanpa pamit ia langsung meninggalkan Danau Cermin. Dongfang Yue bergegas menuju Gunung Xi, namun ketika ia sampai, ia hanya melihat Fang Jue tengah tidur di bawah pohon sendirian.
Tidak ingin menyerah, ia pergi ke Gunung Yanqi. Namun, sama seperti sebelumnya, dia juga tidak melihatnya di manapun. Pondok Gunung Yanqi tidak pernah dijejaki siapapun setelah hari itu. Yang tersisa dari tempat itu hanyalah sisa-sisa kekacauan yang belum dibersihkan.
"A-Xian, sebenarnya di mana kau?" racau Dongfang Yue setengah frustasi.
Sementara itu, Bai Feng Xian dan A-Rou telah lama pergi ke Dunia Arus Bawah. Tengah malam setelah ia menghabiskan anggurnya, Bai Feng Xian pergi ke Istana Langit dan mengambil A-Rou, membawanya meninggalkan istana tersebut tanpa diketahui siapapun.
Ia pikir, terus tinggal di istana yang memberikan mimpi buruk padanya bukanlah pilihan terbaik. Apalagi setelah ia mengingat kalau A-Rou adalah putrinya, ia lebih tidak ingin menginjakkan kaki lagi di tempat itu. Jika bisa, ia ingin memutuskan segala hubungan dengan Istana Langit, melepaskan semuanya dan mengakhiri mimpi buruk yang datang padanya akhir-akhir ini.
Pada kenyataannya, meskipun ia tahu malapetaka lima ratus tahun lalu adalah bagian dari ujian langit, hatinya tetap tidak rela. Rasa sakit hatinya masih sangat membekas dan ingatan tentang bagaimana Dongfang Yue mencambuk dan menghukumnya dengan petir langit tanpa berkedip, menyiksanya terus menerus.
Masih jelas terbayang dalam ingatannya bagaimana pria itu menatapnya dengan dingin tanpa ekspresi, sementara di sisinya ada Yingzhao yang tersenyum penuh kemenangan. Mengingat ini, kemarahan dan kebenciannya tiba-tiba mencuat.
"Apa yang kau pikirkan, bibi?"
"Tidak ada," ucap Bai Feng Xian.
"Jelas-jelas kau sedang memikirkan sesuatu. Jangan terus menerus dipendam, kau bisa menceritakannya kepadaku."
Saat ini, mereka tengah berada di belakang Istana Arus Bawah. Ji Meng membiarkan mereka tanpa bertanya, karena ia tahu situasi saat ini. Ji Meng hanya mengatakan bahwa dia tidak akan memberitahu siapapun perihal keberadaan Bai Feng Xian dan A-Rou di istana ini.
__ADS_1
"A-Rou, jika kau tahu alasan ibumu meninggalkanmu, apa kau akan memahaminya?"
"Tentu saja. Kau meninggalkanku karena tahu bahwa aku tidak akan tumbuh dengan baik jika berada di sisimu yang sedang tidak stabil. Untuk itulah Ming Ye menyerahkanku pada Guru," ucap A-Rou.
Bai Feng Xian terkesiap. "Kau.... mengetahuinya?"
A-Rou mengangguk kecil. "Aku bahkan tahu kalau Kaisar Langit adalah ayahku."
"Lalu, apa kau menginginkannya?"
"Jika dia menyakitimu, lebih baik aku tidak mengenalnya. Seandainya dia bisa mengendalikan perasaan dan mau membuka mata hatinya lima ratus tahun lalu, mungkin akan ada akhir yang berbeda untuk kita bertiga."
Bai Feng Xian memeluk A-Rou. Sungguh tidak disangka, murid kecil yang begitu menyebalkan ini adalah darah dagingnya sendiri. Lima ratus tahun lalu, ia menyerahkan bayi merah ini kepada Ji Meng dan Ming Ye, kemudian melupakan segalanya. Bayi merah itu sekarang sudah tumbuh menjadi seorang anak yang sangat pengertian dan memahami situasi, tidak merengek seperti anak kecil lainnya.
Bai Feng Xian memiliki penyesalan di hatinya. Seandainya ia tidak putus asa akibat kesedihan dan memilih melupakan segalanya, nasib A-Rou mungkin tidak akan seperti ini. Dia tidak akan berada di situasi yang membuatnya harus memilih, karena Bai Feng Xian akan mendidiknya sendirian dan tidak akan memberitahunya siapa ayahnya.
Bisakah waktu diputar kembali? Ia mungkin akan memilih tidak pernah bertemu dengan Dongfang Yue dan jatuh cinta sebanyak dua kali kepadanya.
"Ibu, kau bukan lelucon. Takdirlah yang telah membuat hidup kita dipermainkan di Tiga Alam," ujar A-Rou, memberikan sedikit ketenangan pada Bai Feng Xian. Ia khawatir ibunya akan melakukan hal yang sama dengan lima ratus tahun lalu.
"Akan lebih baik bagimu untuk menyelesaikan urusan budi dan dendam lima ratus tahun ini dengan kepala dingin. Mungkin itu bisa memberikan akhir yang baru untuk kita bertiga."
"Kau ingin aku menyelesaikan situasi ini dengan ayahmu?"
__ADS_1
A-Rou mengangguk. Bagaimanapun, urusan ini intinya terletak pada mereka berdua. Merekalah yang harus menyelesaikannya dan memutuskan langkah apa yang akan ditempuh untuk mengakhiri kebencian dan segala kemarahan ini. Jika tidak, itu hanya akan lebih menyakitkan.
"Aku dengar dia mencarimu ke mana-mana. Ibu, selesaikan dulu urusan perasaanmu, lalu setelah itu kita bisa pergi dengan tenang."