Api Cinta Sang Dewi Agung

Api Cinta Sang Dewi Agung
Eps. 60: Mencari Jalan Lain


__ADS_3

Untung saja Ming Ye datang tepat waktu. Dia berhasil menahan tubuh Sang Hui dan mencegahnya jatuh ke lantai. Kekuatan lemparan Bai Feng Xian menggetarkan Istana Tianwu, membuat pelayan peri dan prajurit teguncang beberapa saat.


"Temperamen gadis kecil itu benar-benar buruk!"


"Ming Ye shangjun, syukurlah kau datang. Aku benar-benar kesulitan menghadapi Dewi Agung dari Qingqiu itu."


"Bukankah kau sebelumnya sangat senang padanya dan memanggilnya calon kakak ipar? Mengapa sekarang kau mengeluh?"


"Itu karena hatinya benar-benar keras seperti batu."


"Kusarankan agar kau tidak memprovokasinya. Jika dia marah, Istana Langit ini bisa porak poranda."


"Aku hanya ingin menyadarkannya saja. Jika tidak, semua yang dilakukan kakakku akan sia-sia."


Ming Ye mengabaikan Sang Hui, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar tidur Dongfang Yue. Di tepi ranjang, Bai Feng Xian duduk dengan lesu, dengan bekas air mata yang mulai mengering. Tatapan matanya kosong seakan tidak ada isinya. Bahkan setelah Ming Ye memanggilnya beberapa kali, dia tidak menjawabnya.


Barulah setelah beberapa saat, Bai Feng Xian menoleh dan menatapnya.


"Bisakah kau mengeluarkan Cakra Phoenix-nya dari dalam tubuhku?" tanya Bai Feng Xian. Ming Ye terdiam sesaat. Ia sekali lagi dikejutkan dengan tindakan Dongfang Yue yang lagi-lagi mengeluarkan kekuatan inti tubuhnya untuk orang yang dicintainya. Jika Xuan Yi tahu, dia mungkin akan sangat murka.


Jika Cakra Phoenix itu dikeluarkan dari dalam tubuh Bai Feng Xian, maka wanita itu harus menanggung akibat dari mantra pelepas jiwa. Itu akan sangat menyakitkan, menyerang organ dan inti energi, lalu membuatnya menjadi gila sebelum membunuhnya. Cakra Phoenix telah menghalau efek dari bahaya mantra pelepas jiwa.


"Kau yakin?" tanya Ming Ye.


"Orang bodoh ini adalah Pemimpin Surga. Jika dia mati, Qingqiu juga tidak akan bertahan."


Perkataan itu sangat berbeda dengan maksud hatinya. Ming Ye hanya terkekeh menertawakan gadis kecilnya yang sangat keras kepala. Sudah seperti ini pun, dia masih saja menampik kalau dia masih mempedulikannya.

__ADS_1


"Baiklah. A-Rou juga akan tiba beberapa saat lagi."


"Apakah buntalan lumut hijau itu akan baik-baik saja jika Kelopak Teratai Buddha dikeluarkan dari dalam tubuhnya?" tanya Bai Feng Xian.


"Ya, selama A-Rou punya cukup kekuatan untuk menahan efek dan kesadaran spiritualnya," jawab Ming Ye.


Tidak lama kemudian, A-Rou datang bersama Fang Jue. Bocah kecil itu langsung berlari menghampiri ibunya, lalu menatap tubuh ayahnya yang terbaring di tempat tidur dengan mata tertutup. Embun-embun yang berubah menjadi es terlihat muncul di alis dan sekitar bulu matanya.


"Apa yang terjadi pada Paman Kaisar?" tanya A-Rou.


"A-Rou, bisakah kau mengeluarkan Kelopak Teratai Buddha itu sebentar?" ucap Bai Feng Xian.


"Benda itu pada awalnya adalah milik Paman Kaisar, jika dia membutuhkannya, maka aku akan mengeluarkannya," ujar A-Rou. Sungguh, dia begitu pengertian dan itu membuat Bai Feng Xian merasa dia adalah ibu paling buruk di dunia.


A-Rou dengan sendirinya mengeluarkan Kelopak Teratai Buddha dari dalam tubuhnya. Basis kultivasinya sudah cukup untuk mengeluarkan benda suci itu, namun itu tidak menjamin A-Rou bisa menahan efeknya sepenuhnya. Setelah Kelopak Teratai Buddha dikeluarkan, tubuh A-Rou limbung karena kelelahan. Bai Feng Xian segera menyuruh Fang Ju untuk membawanya beristirahat di ruangan samping.


Fang Jue takut terjadi sesuatu yang buruk pada majikannya. Setelah tahu majikannya menggunakan mantra pelepas jiwa, dia sangat takut. Itu akan memusnahkan jiwa setiap abadi secara perlahan, tetapi karena keberadaan Cakra Phoenix Kaisar Langit, dewinya tidak harus menanggungnya.


Ming Ye mengedikkan bahu, "Itu tergantung pada keberuntungannya."


Ming Ye lantas membantu Bai Feng Xian melepaskan Cakra Phoenix yang ditanam Dongfang Yue di dalam tubuhnya. Setelah berhasil dikeluarkan, tubuh Bai Feng Xian lemas namun masih dapat ia tahan. Ia kemudian menggunakan sisa kekuatannya untuk membantu Ming Ye menyatukan Cakra Phoenix dan Kelopak Teratai Buddha, mengembalikan dua benda suci itu ke pemilik aslinya.


"Seharusnya dia akan segera terbangun. Ming Ye, bawa aku pulang..."


Bai Feng Xian belum sempat menyelesaikan perkataannya karena dia langsung tidak sadarkan diri. Ming Ye menghela napas, menahannya agar tidak jatuh dan membaringkannya di sisi Dongfang Yue. Sepasang pria dan wanita surgawi ini sekarang berbaring telentang di ranjang yang sama.


***

__ADS_1


Di luar Istana Tianwu, abadi-abadi berkeliaran mencari informasi. Hari ini, Kaisar Langit tidak menghadiri pengadilan dewa dan Dewa Muda Tianqi juga tidak memberitahu apa-apa. Mereka hanya bisa kembali dengan menerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi.


Sejak beberapa hari yang lalu, wajah Kaisar Langit yang mereka jumpai tidak sebaik biasanya. Dia seperti memendam kesedihan yang mendalam, sama seperti lima ratus tahun lalu saat dia kehilangan murid tercintanya. Spekulasi pun muncul di otak masing-masing, mengira jika Kaisar Langit mungkin telah berpisah dengan cinta barunya.


Padahal, mereka semua sungguh tidak tahu apa-apa. Sang Hui yang mendengar pembicaraan ini memperingati mereka dengan keras, membuat abadi-abadi itu tidak lagi berkeinginan untuk bicara. Walau Dewa Muda Tianqi ini tidak mencampuri usuran pengadilan dewa, namun jika sesuatu terjadi pada Kaisar Langit, maka dialah satu-satunya orang yang dapat menggantikannya.


"Tidak perlu dipikirkan. Mereka hanya burung yang bisa berkicau saja," ucap Ming Ye ketika Sang Hui menekuk wajahnya di taman Istana Tianwu.


"Aku tahu, tapi tetap saja menyebalkan. Mereka bertingkah seolah tahu segalanya, padahal tidak tahu apapun."


"Kau masih tidak memahami cara kerja dunia. Sejak zaman kuno berakhir, berapa banyak pasangan dewa-dewi di Kerajaan Langit ini yang punya akhir bahagia?"


"Meskipun kakakku dan Dewi Agung Bai Feng Xian tidak akan berakhir bahagia, setidaknya mereka harus tetap memiliki hubungan yang baik. Jika tidak, nasib A-Rou sungguh akan dipertaruhkan."


"Bagaimana jika aku membawanya kembali ke Danau Cermin dan mengajarinya?" tawar Ming Ye, disertai candaan yang sesungguhnya tidak lucu sama sekali.


"Kau ingin memutus akses kami kepada A-Rou? Tidak bisa! Dia memiliki darah Kerajaan Langit, dia adalah keturunan kakakku. Bagaimanapun, dia memiliki hak di sini."


Ming Ye memecahkan tawanya. Yah, Huirou adalah keturunan dua abadi yang mewakili dua kerajaan. Marganya masih belum ditentukan. Apakah ia akan mengikuti marga Feng atau Dongfang seperti ayahnya, atau mengambil marga Bai milik ibunya, itu tergantung pada keputusannya. Bai Feng Xian dan Dongfang Yue sebelumnya sudah sepakat untuk membiarkan A-Rou memilih sendiri.


Bocah malang itu masih tertidur seperti ayah dan ibunya sampai sekarang. Karena sebelumnya dia sangat nakal dan pemalas, dia tidak bisa mengendalikan diri dengan baik. Fang Jue sudah berjaga di sana, merawatnya sambil menunggunya bangun. Sementara itu, Dongfang Yue dan Bai Feng Xian dibiarkan terlelap di kamar tidur Istana Tianwu.


"Apakah kau tertarik untuk menyelidiki sesuatu?" tanya Ming Ye pada Sang Hui setelah keduanya terdiam beberapa saat.


"Apa?"


"Ikut denganku!"

__ADS_1


Ming Ye kemudian menarik tangan Sang Hui dan membawanya pergi dari Istana Langit.


__ADS_2