Api Cinta Sang Dewi Agung

Api Cinta Sang Dewi Agung
Eps. 12: Gunung Xi dan Gunung Yanqi


__ADS_3

Bai Feng Xian benar-benar pergi sendirian. Sangat tidak menyenangkan melihat wajah penuh emosi Selir Langit Yingzhao terlalu lama.


Setelah memikirkannya lagi, Yingzhao tampaknya benar-benar mencintai Dongfang Yue sepenuh hatinya. Selir congkak itu bahkan menurutinya dan menurunkan harga dirinya dengan datang sendirian.


Sayangnya, dia tidak cukup tulus. Bai Feng Xian tidak menyukai formalitas yang diterapkan di Kerajaan Langit.


Yingzhao tumbuh besar dan berkembang di tempat yang mengekang bentuk kebebasan tersebut sepanjang waktu. Dewa-dewi mungkin menghormatinya, namun bagi Bai Feng Xian, hal seperti itu hanya sesuatu yang sangat merepotkan.


Yingzhao bahkan masih mempertahankan sikapnya seolah-olah ia adalah orang penting. Padahal, dia sama sekali tidak tahu jika sikap semacam itu bukanlah apa-apa saat kakinya menginjak tanah Qingqiu.


Bai Feng Xian jadi bertanya-tanya mengapa wanita itu bisa begitu tahan berada di sisi Dongfang Yue yang dingin seperti Pegunungan Kunlun di utara.


Memilih melepaskan penat akan pemikiran terhadap Yingzhao dan Dongfang Yue, Bai Feng Xian semakin mempercepat waktu terbangnya.


Fang Jue, tunggangannya itu kerap kali melarikan diri dan membuatnya kesusahan. Bai Feng Xian tidak berbohong ketika ia mengatakan dirinya akan pergi mencari tunggangannya.


Awan keberuntungan Bai Feng Xian melintas di atas Danau Cermin milik Ming Ye, lalu bergerak ke utara menuju sebuah tempat yang menjadi destinasi favoritnya sejak usia lima belas ribu tahun: Gunung Xi.


Sudah lima ratus tahun berlalu sejak ia terbangun dari tidur panjang dan ia belum mendatangi tempat itu lagi.


Di Empat Lautan dan Tiga Daratan ini, hanya ada beberapa tempat yang bebas ia datangi. Sejak kecil, Kaisar Bai Yin begitu ketat terhadapnya karena ia adalah putri kesayangannya.


Bai Feng Xian tidak dibiarkan pergi ke tempat yang jauh. Selain Qingqiu dan Danau Cermin milik Ming Ye, Gunung Xi adalah satu dari sedikit tempat yang ia senangi.


Gunung itu dipenuhi pepohonan dedalu dan akasia abadi yang rindang. Ada pula pohon pinus yang tumbuh secara acak, juga pohon yang entah apa namanya. Sisanya adalah rumput dan semak liar yang subur dan selalu hijau.


Di gunung itu, Bai Feng Xian menemukan sebuah gua yang sangat nyaman untuk bersarang. Di sana begitu sepi, dan di sanalah dia menghabiskan sebagian waktunya untuk berlatih.


Awan putih keperakan di puncak Gunung Xi bergerak menyingkir saat merasakan kedatangan Bai Feng Xian. Keagungannya mengundang beberapa burung kecil menari di belakang awan keberuntungannya, mengikutinya menuju tempat favoritnya itu.


Saat kakinya mendarat di depan gua rubah yang sudah lama ia tinggalkan, burung-burung kecil itu pergi menjauh.

__ADS_1


Ada sebuah pohon persik yang sudah tinggi, ia menanamnya saat usianya delapan belas ribu tahun. Sekarang pohon itu sudah berbuah dan daunnya lebat. Bai Feng Xian menghirup aroma khas gua rubahnya. Begitu ia masuk, ia harus batuk beberapa kali. Oh, debu-debunya tebal sekali!


Ada sebuah ruangan yang ia fungsikan sebagai ruang belajar. Bai Feng Xian menaruh cukup banyak buku dan hartanya di sana.


Semuanya masih utuh dan lengkap, walau permukaannya tertutup debu halus. Dulu setiap kali dia mendapatkan sesuatu yang berharga, Bai Feng Xian selalu menumpuknya di sini.


“Cermin Api!”


Bai Feng Xian melonjak kegirangan saat cermin perunggu berbentuk daun maple ia temukan di antara tumpukan hartanya. Cermin Api, adalahh cermin perunggu yang legendaris.


Cermin ini adalah sebuah pusaka dari zaman dewa prasejarah. Dikatakan bahwa cermin ini adalah benda yang digunakan oleh Dewa Leluhur untuk membongkar topeng palsu Dewa Iblis  yang hendak mengacaukan dunia yang diciptakannya.


Bai Feng Xian tidak mengingat kapan dan dari mana ia mendapat cermin ini. Mungkin benda ini ia dapat saat belajar bersama Su Yu di Lembah Bulan belasan ribu tahun lalu, atau saat dia berkelana sendirian ke Empat Lautan dan Tiga Daratan untuk menempa energi spiritualnya.


Namun, Bai Feng Xian tidak tahu jika cermin yang tampak biasa itu memiliki fungsi lain. Dalam buku kuno dikatakan bahwa cermin ini dapat membangkitkan ingatan seseorang yang sudah lama dilupakan. Karena itulah Cermin Api ini juga disebut sebagai Cermin Ingatan.


Saat dia menyentuh dan menggunakannya, Bai Feng Xian melihat bayangan seorang wanita yang samar-samar tengah berdiri di depan altar Sumur Pembunuh Dewa.


"Siapa wanita ini?"


Wanita itu mengatakan sesuatu yang tidak jelas, terdengar seperti gumaman. Apa itu? Mungkin terdengar seperti kata ‘guru’ yang terputus.


Bai Feng Xian mengernyitkan dahinya, hingga alisnya hampir menyatu saat melihat wanita itu dengan berani melompat ke dalam Sumur Pembunuh Dewa.


Siapa dia? Mengapa dia bisa punya keberanian sangat besar?


Sumur Pembunuh Dewa itu adalah tempat yang sangat mengerikan. Dewa-dewi yang jatuh ke dalam sana tidak akan selamat. Jiwanya bisa tercerai berai, memudar dan menjadi debu. Jika dilihat, wanita itu tidak terlihat memiliki kekuatan abadi yang tinggi. Dia tampak seperti seorang….peri.


“Woah…Keberaniannya begitu besar. Tunggu, Sumur Pembunuh Dewa?”


“A-Xian? Wanita itu adalah A-Xian, murid Dongfang Yue?”

__ADS_1


Sampai sini, Bai Feng Xian tak merasakan apa-apa selain kesan bahwa wanita di dalam Cermin Api adalah seorang peri yang berpendirian teguh.


Melompat ke dalam sumur berbahaya yang menghancurkan jiwa membutuhkan keberanian yang tidak bisa diremehkan. Jadi, wanita samar itu adalah A-Xian?


Meletakkan cermin di atas meja batu, dia lalu berjalan keluar dari gua rubahnya. Suara kepakan sayap yang sudah lama tidak terdengar memecahkan konsentrasinya.


Kepakan sayap itu pasti milik Fang Jue. Bai Feng Xian memanggil kembali awan keberuntungannya dan melompat di atasnya. Waktunya terbuang cukup banyak. Sekarang saatnya mencari Fang Jue, merak betina tunggangannya yang kabur itu.


Mungkin Bai Feng Xian kehilangan konsentrasinya sesaat. Jejak Fang Jue mengarah ke Gunung Yanqi.


Bai Feng Xian mengikutinya, lantas menemukan sebuah medan pelindung yang sangat kuat terpasang di atas gunung tersebut.


Medan pelindung itu ada di atas Gunung Yanqi, menutupinya dari dunia luar. Siluman dan makhluk abadi biasa tidak akan bisa melihatnya walau basis kultivasinya tinggi.


Samar-samar, aura familier milik seorang peri mengalir keluar dari medan pelindung Gunung Yanqi, memutari tubuh Bai Feng Xian.


Aura itu membuat kepalanya pusing. Bai Feng Xian turun perlahan, menembus medan pelindung, mendarat di atas hamparan bebatuan yang menjadi jalan masuk ke lereng utama Gunung Yanqi.


Aura murni dari tempat ini sangat kental. Bai Feng Xian mulai bertanya-tanya siapakah makhluk abadi tidak punya kerjaan yang memasang medan pelindung sekuat ini hanya untuk melindungi sebuah gunung.


Dan meskipun hawa murninya sangat kuat, itu tidak benar-benar mengalir dengan sempurna. Energi murni tersebut berputar di satu titik. Bai Feng Xian untuk sesaat terpana.


Energi itu berputar di atas sebuah kolam jernih, yang di tengahnya terdapat sebuah kristal air mengkilap mengambang di udara. Susunannya tidak teratur, seolah-olah energi itu dikumpulkan dengan paksa dan telah berlangsung beratus-ratus tahun lamanya.


Bai Feng Xian menyentuh kristal air di tengah kolam, perputaran energi murni lebih aktif. Ternyata, energi murni yang berputar acak ini adalah medan magnet untuk mengumpulkan aura seseorang.


Bai Feng Xian penasaran aura siapa yang dikumpulkan ini, mengapa begitu ia datang energinya justru lebih aktif.


Sampai kemudian, suara berat dan dalam seseorang mengejutkannya dari belakang.


“Sedang apa kau di sini?”

__ADS_1


Bai Feng Xian mengenalinya, tapi pandangannya jadi gelap.


__ADS_2