Api Cinta Sang Dewi Agung

Api Cinta Sang Dewi Agung
Eps. 37: Sandiwara Sepenuh Jiwa


__ADS_3

Dari generasi ke generasi, hal yang paling jarang ditemui pada para Kaisar Langit adalah menunjukkan kelemahan mereka. Mereka cenderung menutupi luka saat mengalami cedera, dan selalu bersikap layaknya pemimpin yang tidak takut apapun. Mereka selalu bisa berdiri tegap dengan wajah tegas dan mempesona, menipu semua orang, membuat yang lain berpikir dia baik-baik saja.


Dongfang Yue tidak masuk dalam pengecualian. Melihat Bai Feng Xian ada di hadapannya, ia segera mengendalikan emosi dan hatinya, bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Di belakangnya, Ming Ye yang tengah membantunya menormalkan arus perputaran energi langsung menatap Bai Feng Xian dengan penuh selidik.


Tidak, itu terlihat seperti ejekan.


“Yo, gadis kecil, cepat sekali kau datang.”


Perlahan tapi pasti, Bai Feng Xian mulai mengerti satu hal. Beberapa hari ini, Ming Ye sering meninggalkan Danau Cermin dan menghilang tanpa kabar.


Ternyata, naga tua yang menyebalkan ini pergi ke Istana Langit, membantu kultivasi tertutup Dongfang Yue. Pantas saja Bai Feng Xian tidak menemukannya di manapun!


Tapi, yang membuatnya terganggu adalah kondisi Dongfang Yue saat ini. Pria agung itu, yang biasanya tersenyum padanya dan begitu berseri-seri, tampak seperti orang yang sakit. Wajah tampannya sedikit pucat, ia seperti tidak bertenaga. Dongfang Yue seperti telah tersiksa oleh sesuatu.


“Tian Jun, jawab pertanyaanku!” nada suaranya sedikit meninggi, dan Dongfang Yue hanya menanggapinya dengan senyuman.


“Aku baik-baik saja. Hanya saja energiku sedikit bermasalah. Ming Ye sudah membantuku memperbaikinya.”


“Benarkah?”


Dongfang Yue mengangguk. Tatapan Bai Feng Xian melembut dan ia berlari padanya, menyentuh keningnya dengan telapak tangan untuk memastikan sesuatu.


Suhu tubuhnya memang lebih panas beberapa derajat dibanding suhu tubuh Bai Feng Xian. Perputaran energi yang tidak normal di dalam tubuh seringkali membuat abadi mengalami sakit, tapi itu akan hilang setelah beberapa hari.


Jadi, selama lima belas hari ini, dia menahan sakitnya dengan alasan kultivasi tertutup? Pantas saja Song Zi menolak Bai Feng Xian untuk masuk dan menyuruhnya menunggu. Dongfang Yue mungkin tidak ingin Bai Feng Xian melihat dirinya yang seperti ini, tampak sakit dan tidak bertenaga.


“Aku akan membuatkan sup untukmu,” ucap Bai Feng Xian.


Dia tidak tahan melihat Dongfang Yue yang sakit seperti ini. Ia terbiasa melihatnya tersenyum penuh arti, menatapnya dengan penuh seolah-olah mereka telah lama saling mengenal.


“Song Zi, bantu dia.”


Melihat interaksi mereka, Ming Ye menggelengkan kepalanya. Kekhawatirannya timbul lagi karena Dongfang Yue dan Bai Feng Xian ternyata belum memiliki sikap terbuka satu sama lain. Ia pikir hubungan mereka sudah melaju dengan cepat, tapi ternyata tak lebih dari jalan di tempat.

__ADS_1


“Mengapa kau tidak memberitahunya?”


“Aku tidak ingin membuatnya lebih khawatir. Bai Feng Xian sudah banyak menderita saat bersamaku di masa lalu.”


“Kelopak Teratai Buddha yang kau berikan padanya untuk A-Rou, sebetulnya bukan sebuah warisan, kan? Itu berasal dari Nirwanamu, dan itu adalah sebagian besar kesadaran spiritualmu. Kau pikir, dia akan menerimanya jika ia tahu?” tanya Ming Ye.


“Itu sebabnya aku menyembunyikannya. Biarkan A-Xian berpikir Kelopak Teratai Buddha itu warisan dari Kaisar Xuan Yi.”


“Jika Xuan Yi tahu putra sekaligus muridnya mencabut kesadaran spiritualnya sendiri, dia akan marah.”


“Tidak ada gunanya, Kaisar Xuan Yi sudah lama mati. Lagipula, aku melakukannya untuk menyelamatkan cucunya.”


“Kalian… benar-benar keras kepala,” keluh Ming Ye.


Dongfang Yue hanya tertawa getir mendengar kalimat itu diucapkan dari mulut seorang Dewa Agung Prasejarah. Ming Ye mungkin telah mencecap asam dan garam di dunia dalam hidupnya yang panjang, tapi ia belum tentu merasakan berada dalam posisi Dongfang Yue. Ming Ye tidak akan mengerti seperti apa perasaan Dongfang Yue pada Bai Feng Xian, karena Ming Ye belum pernah jatuh cinta.


Ya, mereka memang keras kepala. Dongfang Yue bersikeras memainkan sandiwara bahwa ia baik-baik saja. Bai Feng Xian bersikeras menjadi wanita yang seoalah-olah tidak menyadari perasaannya sendiri.


“Setidaknya, aku bisa menahannya di sini beberapa hari. Mainkan sandiwara ini sepenuh jiwa, jangan biarkan A-Xian tahu.”


Tidak tahu bagaimana harus menanggapinya, Ming Ye menggelengkan kepalanya. Ia turun dari tempat tidur, mengibaskan jubahnya dan melengang keluar dari kamar tidur Dongfang Yue. Ming Ye menyeduh tehnya di taman Istana Tianwu, sembari menunggu beberapa saat.


Dia melihat Bai Feng Xian berjalan memasuki aula Istana Tianwu dengan sebuah nampan berisi mangkuk sup satu jam kemudian. Sepanjang hidupnya, Ming Ye belum pernah melihat Bai Feng Xian begitu peduli pada seseorang.


Hidupnya sudah terbiasa bebas dan dimanja, dia hanya peduli pada dirinya sendiri. Hari ini, Ming Ye bisa melihat gadis yang dibesarkannya bersikap peduli pada orang lain.


“Dua hati terhubung, tapi sebuah jurang sangat besar menenggelamkan mereka. Gadis kecil itu, sudah mulai dewasa.”


Setelah memastikannya, ia segera kembali ke Danau Cermin.


Bai Feng Xian tidak tahu kapan Ming Ye pergi, karena saat ia masuk ke kamar tidur Dongfang Yue, hanya ada pria itu sendirian. Senyumnya yang irit mengembang, membangunkan Dongfang Yue dari tidur singkatnya. Sup panas mengepul dari mangkuk, aromanya harum.


“Habiskan supnya,” ucap Bai Feng Xian. Dongfang Yue menggunakan kesempatan yang datang padanya sebaik mungkin. Dia berpura-pura lemah, menyuruh Bai Feng Xian untuk menyuapinya.

__ADS_1


“Apa kau kehilangan semua tenagamu sampai tidak bisa mengangkat tangan untuk mengambil sendok makan dan minum sup?” cibir Bai Feng Xian.


“Jika ada orang yang bersedia melakukannya untukku, itu akan sangat bagus,” ucap Dongfang Yue.


Tidak ada pilihan lain. Lagipula, ini pertama kalinya Dongfang Yue menyuruhnya melakukan sesuatu yang sepele. Menyuapi tidak akan membuat bencana besar, jadi dia melakukannya secara perlahan sampai sup itu habis. Selagi disuapi, tatapan Dongfang Yue tidak pernah lepas darinya.


“Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya Bai Feng Xian. Dongfang Yue menggeleng.


“Aku hanya melihat bahwa di Empat Lautan dan Tiga Daratan, Dewi Agung Qingqiu adalah abadi tercantik yang pernah kutemui.”


Wajah Bai Feng Xian seketika memanas seperti ada api yang dihembuskan dari dalam, memberikan rona merah yang menjalar hingga ke telinganya. Astaga, apa Dongfang Yue begitu pandai berkata-kata?


Bagaimanapun, Bai Feng Xian adalah wanita. Pujian itu mau tak mau membuatnya salah tingkah, dan ia memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan Dongfang Yue. Sayangnya, mata bintang itu terus memerangkapnya sepanjang waktu.


“Lalu apakah A-Xian, muridmu itu, lebih cantik dariku?” tanya Bai Feng Xian. Senyum di wajah Dongfang Yue tetap mengembang, seperti ia tidak terganggu dengan pertanyaan itu.


“Apa aku harus menjawabnya?”


“Tentu saja! Karena kau mencintainya dan yang di hadapanmu sekarang adalah aku, kau harus membedakan siapa yang lebih cantik!”


“Jika aku bilang dia adalah kau dan kau adalah dia, apa kau akan percaya?”


“Omong kosong! Dari mana pemikiran picikmu itu berasal?”


“Benar juga. A-Xian tidak sehebat Bai Feng Xian dari Qingqiu.”


Candaan itu berakhir begitu saja. Suasana di dalam kamar tidur Dongfang Yue hening selama beberapa saat. Sepanjang sejarah, mungkin hanya Bai Feng Xian dari Qingqiu yang bisa keluar masuk ke dalam kamar tidur Kaisar Langit Dongfang Yue sesuka hati. Itu bukan tanpa alasan.


Bai Feng Xian adalah A-Xian, murid dan wanita yang dicintai Dongfang Yue. Tidak peduli dengan identitas apa dia memasukinya, hasilnya akan tetap sama.


Dongfang Yue menatap Bai Feng Xian dengan sungguh-sungguh. Kali ini, dia juga memegang tangan lembutnya dengan erat. “Menetaplah di sini selama beberapa hari. Aku akan menyuruh Song Zi untuk mengawasi A-Rou.”


Bai Feng Xian tidak kuasa menolak, ia menganggukkan kepalanya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2