
Mereka seperti dikejar setan bergerombol. Untungnya, sihir Dongfang Yue bekerja sangat baik sehingga mereka berhasil menghindari pengejaran prajurit Klan Iblis.
Bai Feng Xian bukannya tidak bisa menggunakan sihirnya, tetapi jika ada seseorang yang bersedia memakainya untuk menyelamatkannya, mengapa tidak? Ia harus menghemat energinya dan Dongfang Yue bertanggungjawab sepenuhnya atas keselamatannya.
Menerobos Alam Iblis adalah suatu pelanggaran. Tanpa persetujuan, orang yang memaksa masuk akan langsung ditangkap dan diadili. Sebagai Kaisar Langit, Dongfang Yue telah melanggarnya, ia mempermalukan dirinya sendiri. Itulah yang membuat Bai Feng Xian heran mengapa pria itu sampai berani mempertaruhkan reputasinya sendiri.
Sekarang, mereka tiba di gerbang Istana Langit. Matahari baru akan terbenam dan menyemburkan warna jingga yang menawan di angkasa.
Hangat musim semi menyertai, membaurkan aroma persik yang berasal dari taman Istana Langit. Dua Jenderal Surgawi diam di tempatnya berdiri, sedikit membungkuk saat hembusan angin lewat di depan mereka.
Istana Tianwu tampak sedikit berbeda pada malam hari. Dulu, istana ini dihiasi beragam lampu kristal yang terang benderang, menjadikannya seperti bangunan perak di tengah kegelapan malam.
Tapi, yang didapati Bai Feng Xian hari ini hanyalah sebuah tampilan istana dengan cahaya lampu seadanya, tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap. Itu justru membuatnya tampak lebih menawan.
Dibandingkan dengan segala sesuatu mengenai kemegahan, ia lebih suka tampilan sederhana ini. Bai Feng Xian tidak bisa tidak berkomentar, “Kau mengubahnya?”
Ada sebuah anggukan kecil berasal dari gerakan kepala Dongfang Yue. “Aku tahu kau tidak suka sesuatu yang terlalu terang.”
“Seharusnya kau tidak perlu melakukannya. Kukira, hubungan kita tidak berada pada level yang membuatmu harus mengubah segalanya,” ucap Bai Feng Xian.
Ya, hubungannya dengan Dongfang Yue memang berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Bai Feng Xian sama sekali tidak berpikir jika ia akan terlibat dengan sosok Kaisar Langit, yang di mata orang adalah satu-satunya abadi yang sulit dijangkau. Keagungannya, keanggunannya, kekuatannya, itu cukup untuk membuatnya berdiri di singgasana tertinggi Kerajaan Langit.
Sorot mata Dongfang Yue meredup. Hatinya seperti teriris. Wanita yang berdiri di sampingnya ini adalah wanita yang ia cintai, yang lima ratus tahun lalu pernah menjalin kasih dengannya. Sorot mata Bai Feng Xian sebagai A Xian dulu tidak setenang ini. Ia juga bukan orang yang pandai berkata-kata. Tetapi Bai Feng Xian, telah menjelma menjadi sosok yang sulit ditembus olehnya.
“Siapa yang tahu? Aku mungkin akan mempertimbangkan untuk mengisi posisi Tian Hou suatu saat,” ujar Dongfang Yue. Itu jelas membuat Bai Feng Xian terkejut.
“Jangan bercanda,” Bai Feng Xian tertawa sumbang dalam kecanggungannya.
Mereka duduk di pendopo taman Istana Tianwu. Bai Feng Xian menatap angkasa yang bermandikan bintang dan sinar bulan.
__ADS_1
Rasanya, ia lebih dekat hingga ia bisa menjangkau mereka dengan tangannya. Di Qingqiu, hanya Danau Cermin yang memiliki langit sejernih ini. Itulah mengapa ia suka menghabiskan malamnya dengan bersantai di kediaman Ming Ye.
Dongfang Yue mengeluarkan sesuatu dari tangannya, kemudian memberikannya pada Bai Feng Xian.
“Apa ini?”
“Kelopak Teratai Buddha. Itu bisa membantu melindungi kesadaran spiritual. Berikan pada A-Rou, suatu saat ia mungkin akan menjalani ujiannya menjadi Dewa. Kelopak teratai ini bisa menyimpan kesadaran spiritualnya tetap terjaga.”
“Benda yang berharga ini kau berikan kepadaku begitu saja?”
“Ada banyak benda berharga di Istana Langit. Jika kau ingin, kau bisa membawanya ke Gunung Xi dan menimbunnya di gua rubah,” ucap Dongfang Yue diiringi kekehan tawa kecilnya.
Bai Feng Xian memalingkan wajahnya ke samping. Mengingat kegemarannya menimbun harta karun, ia jadi malu. Dua puluh ribu tahun hidupnya sebagai abadi, ia telah banyak menimbun harta di gua rubah.
Itu semua berasal dari hadiah, temuan, dan juga hasil rampasan. Ketika kekuatan spiritualnya belum stabil dan ia kerap berubah ke wujud aslinya, ia sering pulang membawa harta itu dengan wujud rubahnya.
Dongfang Yue mengangkat kepalanya dan menatap Bai Feng Xian. “Tentang apa?”
“Tentang muridmu. Aku pernah melihatnya di Cermin Api beberapa waktu lalu saat aku tiba-tiba tersesat di Gunung Yanqi.”
Sudut mata Dongfang Yue berkedut. Apakah dia melihat dirinya sendiri?
“Apa yang kau lihat?”
“Aku melihat wanita itu berdiri di tepi Sumur Pembunuh Dewa dalam keadaan menyedihkan. Ada kebencian dan rasa tidak percaya di matanya. Entah mengapa, aku seperti merasakan rasa sakit yang sama seperti yang ia rasakan. Apakah kau bersedia memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi saat itu?”
Hati Dongfang Yue seperti diremas dan jantungnya dipilin dengan tali. Menyakitkan ketika harus mengingat kembali momen itu. Tapi, ia juga harus memberikan penjelasan pada Bai Feng Xian, meski saat ini wanita itu tidak mengingatnya sama sekali.
Barangkali setelah mendengar penjelasan ini, Bai Feng Xian dapat mengerti seandainya ingatannya bangkit suatu saat.
__ADS_1
“Satu-satunya kesalahan yang pernah kusesali adalah menerima Yingzhao sebagai Selir Langitku. Kondisiku sedang tidak baik saat itu. Orang bilang, aku adalah Dewa Agung yang kuat, tetapi tidak ada yang tahu bahwa aku juga bisa gelap mata sesaat. Yingzhao menemukan kelemahanku dan memanfaatkannya, hingga aku memaksa muridku sendiri untuk bunuh diri.”
“Apakah pada saat itu, kesadaran spiritualmu sedang tidak stabil?” tanya Bai Feng Xian.
“Tidak bisa dikatakan tidak stabil, tetapi kondisiku memang sedang tidak baik saat itu. A-Xian belum berhasil mencapai level tertinggi dalam kultivasi yang kuajarkan. Dia… tidak bisa melindungi dirinya sendiri.”
“Jadi, bisa dikatakan kau terpengaruh dan terjebak saat kondisimu sedang tidak baik-baik saja?”
Dongfang Yue mengangguk tidak yakin. Entahlah, ingatannya tentang bagaimana mulanya ia terperdaya begitu samar. Yingzhao seperti telah menerapkan sebuah mantra sihir padanya sehingga ia kehilangan kendali dan ketenangan dirinya. Segala sesuatunya terjadi begitu cepat. Itu yang membuat Dongfang Yue memendam penyesalan panjang dalam hidupnya.
“A-Xian sungguh tidak bersalah. Tapi, aku bahkan tidak mampu menyelamatkannya meskipun aku memiliki kekuatan untuk melakukan itu. Bukankah aku sungguh pengecut?”
Mendengarnya secara langsung dari Dongfang Yue, hati Bai Feng Xian ikut terpilin. Dongfang Yue juga pasti menderita setelah kepergiannya. Sosok agungnya menjadi sedingin es, seperti tebing Gunung Kunlun yang selamanya ditutupi salju abadi. Siapa yang menyangka jika Kaisar Langit memiliki luka hati yang besar.
Sejak zaman Dewa Kuno, kaum abadi biasanya hanya jatuh cinta satu kali. Cinta pertama dewa-dewi adalah cinta terakhir mereka. Itu juga berlaku untuk Dongfang Yue, meskipun dia bukan bagian dari dewa-dewi prasejarah. Ia mendapat ajaran langsung Kaisar Xuan Yi, yang menjadi ayah sekaligus gurunya. Segala sesuatunya tidak akan jauh berbeda.
“Lalu, apa kau akan terus menunggunya?” tanya Bai Feng Xian lagi. Ia ingin tahu sikap seperti apa yang akan diambil oleh Dongfang Yue, apakah ia akan tetap berpegang teguh pada pendiriannya atau mencoba membuka hatinya untuk yang lain.
“Aku sudah menemukannya.”
“Kau sudah menemukannya? Di mana?”
“Suatu saat jika kau sudah mengingatnya, kau akan tahu.”
Pada bagian ini, Bai Feng Xian tidak mengerti. Sikap Dongfang Yue padanya berbeda dari sikapnya terhadap orang lain.
Ia bilang ia sangat mencintai muridnya, tapi mengapa ia memperlakukan Bai Feng Xian seperti ini? Mungkinkah Dongfang Yue sudah mulai goyah? Lalu, apa maksud perkataannya itu?
Sepertinya, Bai Feng Xian harus bertanya pada Ming Ye.
__ADS_1