
“Pulanglah malam ini. Ayah dan ibumu baru saja kembali. Mereka berkata bahwa kau harus pergi menemui mereka.”
Kalimat itu terdengar seperti perintah yang terlontar begitu saja. Bai Feng Xian tidak pernah menyangka bahwa dewa tua yang elegan ini bisa mengusirnya begitu saja. Padahal, dia tidak pernah dipaksa kembali ke Qingqiu, setidaknya sejak lima ratus tahun terakhir.
Bai Feng Xian sekarang curiga jika Ming Ye hendak melakukan sesuatu yang buruk.
“Kau mengusirku?” tanyanya.
“Tidak. Hanya saja, kau akan merasa tidak nyaman jika malam ini kau memaksa untuk tinggal.”
Ming Ye menyerahkan keputusan tersebut kepada Bai Feng Xian. Jika dia bersikeras untuk tinggal di Danau Cermin malam itu, maka segala sesuatu yang bisa menyebabkan ia kembali marah bukan menjadi tanggung jawabnya.
Dia melihat bibir Bai Feng Xian mengerucut dan melontarkan beberapa kata ejekan untuknya dengan nada pelan. Di dunia ini, hanya seorang Bai Feng Xian yang mampu dan berani mengejek Dewa Agung prasejarah ini.
Bai Feng Xian malas berdebat. Dia menggendong tubuh kecil A-Rou dan menaiki awan keberuntungannya, bergegas menuju Istana Qingyun di Qingqiu.
Mulutnya komat-kamit melafalkan beberapa kalimat ejekan yang terus keluar bahkan sampai ia mendarat di tanah subur Qingqiu. Malam harinya, Ming Ye menunggu di bawah pohon persik abadinya. Dia memakai jubah berwarna merah muda, semerah bunga persik yang sedang merekah. Warnanya terpantul di bawah cahaya bulan, ditambah dengan kedewaannya yang tinggi, dia tampak begitu anggun, elegan, dan juga agung.
Beberapa saat kemudian, arus perputaran udara di Danau Cermin berubah perlahan. Seorang abadi, dengan pakaian putihnya yang khas dan keagungannya yang tidak tertandingi di Empat Lautan dan Tiga Daratan perlahan mendarat. Kakinya menginjak rerumputan hijau yang menggelap di tepi Danau Cermin, memercikkan sedikit aura spiritual yang suci.
Ming Ye melihatnya dan ia segera menyambutnya.
“Tian Jun,” suaranya memecah keheningan Danau Cermin.
Dongfang Yue membungkuk. Di dunia ini, ia hanya bisa membungkuk kepada dua orang: Kaisar Xuan Yi dan Dewa Agung Ming Ye. Setelah Kaisar Xuan Yi berevolusi dan kembali ke ketiadaan, tersisa satu orang saja yang bisa membuatnya membungkukkan badan setiap kali bertemu. Ming Ye adalah Dewa Agung Prasejarah, Dewa Perang pertama dunia yang masih hidup, dan prestasi itu sangat layak untuk membuat seorang Kaisar Langit tunduk hormat padanya.
__ADS_1
“Bolehkah aku mengetahui alasanmu menemuiku? Song Zi datang padaku dan mengatakan bahwa kau ingin bertemu denganku secara rahasia,” tanya Ming Ye.
“Bukan rahasia. Hanya saja, tidak ingin melibatkan orang lain.”
Ming Ye mempersilakan Dongfang Yue duduk di depannya. Kaisar Langit tampak begitu misterius. Ming Ye sebetulnya menebak tujuannya datang kemari, namun ia kembali berpura-pura polos. Di bawah cahaya bulan, dia menuangkan anggur persiknya ke dalam dua cangkir kecil.
“Sebetulnya, ada yang ingin kutanyakan,” ucap Dongfang Yue setelah meneguk satu cangkir anggur buatan Ming Ye. Rasanya manis dan tenggorokannya terasa hangat.
“Aku akan menjawab jika memang aku bermaksud memberikan jawaban, Tian Jun,” balas Ming Ye.
“Kau adalah orang yang paling dekat dengan Bai Feng Xian setelah Ji Meng dan keluarganya. Baru-baru ini aku merasa jika dia mungkin berkaitan dengan muridku,” ungkap Dongfang Yue.
Ming Ye berhenti menuangkan anggurnya, ia menarik napas dan mengendalikan dirinya untuk tampil setenang mungkin. “Oh? Mengapa kau merasa begitu?” tanyanya.
“Aku melihatnya di Gunung Yanqi. Dia menembus medan pelindung yang kubuat dan membuat energi murni yang kugunakan untuk mengumpulkan jiwa muridku berputar padanya. Jika dia tidak berhubungan dengannya, itu tidak mungkin terjadi,” jelas Dongfang Yue.
Dongfang Yue bukanlah orang yang mudah dibodohi. Ia tidak akan berpura-pura percaya pada Ming Ye seperti terakhir kali. “Apakah benar Bai Feng Xian tertidur selama tiga ratus tahun dalam ujian langitnya?”
“Ya.”
Ekspresi Dongfang Yue yang dingin-siram menyiratkan bahwa ia tidak senang atas jawaban Ming Ye. Ming Ye tahu sang Kaisar Langit meragukan dirinya, tetapi bukankah itu lebih baik?
Bai Feng Xian sudah merelakan hati dan jiwanya dengan meminum anggur Meng Po dan melupakannya serta semua kenangan menyakitkan itu. Bai Feng Xian hanya akan berbuat nekad dan mengambil keputusan ekstrim itu hanya jika hatinya sudah sangat sakit dan kecewa.
Menyadari bahwa Ming Ye tidak berniat memberikan jawaban yang ia inginkan, Dongfang Yue menghela napasnya. Ia tampak lelah. Hatinya lelah. Jiwanya lelah. Lima ratus tahun penuh ia mencari A-Xian dan sisa jiwanya. Harapan dan harapan berpendar, namun tidak sekalipun menjadi kenyataan. Kini ketika ia ingin memastikannya, ia justru kesulitan menerimanya.
__ADS_1
“Kenapa? Apakah Tian Jun tidak puas dengan jawabanku?” tanya Ming Ye.
Dongfang Yue hanya terdiam. Ming Ye meneguk secangkir anggurnya lagi, lalu menatap Dongfang Yue dalam keheningan. Sinar bulan memantulkan cahaya perak, membayang di atas permukaan air Danau Cermin. Musim semi sedang berada di puncak, dan malam ini adalah malam yang paling tenang.
“Jika kau mencari muridmu karena rasa bersalah, sebaiknya kau mencari cara yang tepat dan bersikap untuk menghadapi selir langitmu,” sarannya kepada Dongfang Yue.
Yingzhao, adalah duri di dalam hati Dongfang Yue. Sejak ia menerimanya sebagai selir, rasa tidak suka menjalar di hatinya sepanjang waktu. Delapan ratus tahun terakhir, ketidaksukaan itu berubah menjadi kebencian yang kian mendalam, apalagi setelah dia menipunya dan membuatnya menghukum A-Xian tanpa berkedip. Setelah A-Xian musnah, Dongfang Yue baru sadar jika dirinya melakukan kesalahan. Dia menghukum Yingzhao dengan seratus sambaran petir langit, membuatnya lumpuh selama sepuluh tahun.
Dongfang Yue ingin menghukumnya lebih berat dan mengusirnya dari surga, tetapi ketika ia ingat bahwa Yingzhao adalah pemberian Kaisar Xuan Yi, ia menundanya untuk sementara.
Perkataan Ming Ye memang benar. Dongfang Yue harus mengambil sikap dan bertindak bijak untuk menghadapinya. Dia tidak akan memiliki kata-kata yang pantas diucapkan jika A-Xian benar-benar kembali suatu saat, jika dia belum menghukum Yingzhao atas perbuatannya.
“Tian Jun, aku tidak tertarik mencampuri urusanmu dan Kerajaan Langit. Ada beberapa hal yang tidak akan berakhir baik jika dipaksakan. Jika kau bertanya tentangnya lagi, maka aku tidak punya jawaban yang kau inginkan.”
Ming Ye terlihat tenang, namun di dalam hatinya ia memikirkan banyak hal. Jawaban yang diinginkan Dongfang Yue tidak akan diberikan.
Urusan antara Bai Feng Xian dan Dongfang Yue mungkin lebih rumit dan pelik daripada yang ia duga. Dongfang Yue memiliki utang besar yang harus dibayar kepada Bai Feng Xian ketika gadis itu tidak mengingatnya sama sekali.
Ketika malam semakin larut, Dongfang Yue beranjak dari duduknya. Tidak ada gunanya terus berada di sini karena Ming Ye tidak akan memberikan jawaban yang ia inginkan.
Dongfang Yue tidak bisa memaksanya. Ini mungkin menjadi awal baginya, karena setidaknya sekarang ia bisa memulai kembali pencariannya dan membuktikan bahwa Bai Feng Xian adalah A-Xian.
"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu waktumu lagi. Dewa Agung, kuharap kau tidak menolakku jika suatu saat aku membutuhkan bantuanmu," ucap Dongfang Yue. Ming Ye mengangguk dan menjawab, "Tentu saja."
Dongfang Yue menaiki awan keberuntungannya, dan dalam sekejap, ia telah meninggalkan Danau Cermin yang bersinar keperakan. Ming Ye menatapnya dengan tenang.
__ADS_1
Sebuah gelas anggur kembali masuk ke dalam mulut Ming Ye. Sisa anggur yang masih ada dituangkannya di atas tanah dan rerumputan.
“Aih, ikuti arus takdir saja. Untuk apa memaksakan diri mengetahuinya lebih awal? Generasi abadi waktu sekarang memang sangat tidak sabar."