
Ming Ye membawa Sang Hui ke Laut Miao Yao.
Di tepi lembah yang curam, sekumpulan energi kotor meloloskan diri dari formasi dan melayang di udara, menyerang Ming Ye dan Sang Hui bersamaan. Energi kotor yang jahat itu kemudian musnah dengan kekuatan Ming Ye yang digunakan untuk menangkis.
"Ternyata benar, masalahnya ada di sini," ucap Ming Ye.
"Maksudmu, penyebab Tian Jun terluka parah adalah ini?"
"Ya."
"Tapi, energi kotor seperti itu tidak akan melukai Tian Jun."
"Jika jumlahnya besar, maka abadi manapun tidak akan mampu menahannya. Seseorang telah merusak formasi, mengacaukan arus energi kotor dan merangsangnya untuk menjadi ganas. Kakakmu beberapa kali datang memperbaikinya, namun formasi itu kembali retak berulang kali."
"Siapa yang memiliki keberanian merusak formasi? Apakah dia ingin mati?"
"Menurutmu siapa yang punya keberanian seperti itu?" tanya Ming Ye. Sang Hui tiba-tiba teringat, "Feng Yingzhao! Pasti wanita itu pelakunya!"
"Yingzhao mengkultivasi kekuatan iblis. Laut Miao Yao dipenuhi energi kotor, sangat cocok dengan kekuatan yang dilatihnya. Selain itu, tempat ini juga menyimpan energi Raja Iblis," tutur Ming Ye.
"Pantas saja dia tidak mati saat kakakku menghujaninya dengan anak panah dan guntur. Dia telah mendapatkan kekuatan iblis dengan mengacaukan tempat ini. Dewa Agung Ming Ye, apakah kau bisa memperbaiki formasinya? Setidaknya sampai Tian Jun pulih," pinta Sang Hui.
"Aku pernah berperang melawan kekejaman Dewa Iblis bersama Xuan Yi. Kedamaian Tiga Alam ini, tentu saja masih harus kulindungi," tegas Ming Ye.
Dia kemudian menggunakan kekuatan agungnya untuk menyegel kembali Laut Miao Yao. Dongfang Yue belum menyempurnakan formasinya karena mungkin ia telah jatuh lebih dulu. Retakan demi retakan yang tersembunyi perlahan menyatu kembali, mengurung semua energi kotor di dalam formasi abadi. Dengan begini, setidaknya akan aman sampai beberapa ratus tahun ke depan.
"Sekarang saatnya mengunjungi kakakmu dan gadis kecil itu," ucap Ming Ye. Dia dan Sang Hui lantas pergi meninggalkan Laut Miao Yao.
__ADS_1
***
Saat semua orang sibuk dan tidak memperhatikan situasi di Istana Tianwu, Bai Feng Xian yang merasa tubuhnya agak ringan mulai sadarkan diri. Ia membuka matanya, menatap langit-langit Istana Tianwu yang terbuat dari giok ribuan tahun. Pandangannya juga menyapu wajah Dongfang Yue yang masih menutup matanya.
Setelah dia bangkit, dia memeriksa kondisi Dongfang Yue. Denyut nadi dewanya sudah kembali dan kekuatan intinya sudah pulih. Secara keseluruhan, Dongfang Yue baik-baik saja. Pria ini mungkin akan terbangun beberapa saat lagi.
"Kau sudah pulih. Sudah saatnya aku pergi," gumam Bai Feng Xian. Karena sudah memutuskan berpisah, setelah memastikan pria ini baik-baik saja, dia harus kembali. Pegi, memutuskan segala hubungan lagi. Tapi, itu mungkin tidak akan terjadi.
"Jangan pergi, A-Xian."
Dongfang Yue menggenggam tangan Bai Feng Xian dengan erat. Saat matanya terbuka, ia menatap penuh harap dalam kesakitan dan keputusasaan kepada Bai Feng Xian. Wanita itu terpaku, tidak mampu bergerak sama sekali. Menghadapi Dongfang Yue yang sudah sadar ternyata lebih berat dibandingkan memutuskan hubungan di perbatasan Qingqiu tempo hari.
"Tian Jun, kita sudah sepakat untuk berpisah. Aku juga sudah mengembalikan semua benda suci milikmu."
"Lalu bagaimana dengan hatiku? Apakah kau bisa mengembalikannya padaku dan membuatku melupakanmu?"
"Kelopak Teratai Buddha dan Cakra Phoenix tidak lebih berharga darimu. Lima ratus tahun lalu, aku tidak bisa menyelamatkanmu. Aku tidak akan membiarkan diriku mengulang kesalahan yang sama. A-Xian, meskipun itu hanya ujian langit, tetapi apakah kau mengerti jika Kaisar Langit pada setiap generasi hanya memiliki satu cinta untuk satu wanita?"
Suara Dongfang Yue terdengar parau namun penuh ketulusan. Cinta ini, Bai Feng Xian sangat jelas merasakannya. Ingatan akan kisah indah saat keduanya bercumbu mesra sambil berkultivasi membayang kembali. Dulu, Dongfang Yue selalu menatapnya penuh cinta sebelum tragedi itu terjadi.
Apa yang sebenarnya tidak bisa Bai Feng Xian lepaskan? Apakah cinta, sakit hati, marah, atau rasa benci? Jika dia bisa merelakannya, maka dia tidak perlu menyiksa dirinya sendiri. Dongfang Yue selalu memperlakukannya dengan tulus, mengapa ia tidak dapat melihatnya dan menghargainya?
Dengan gerakan secepat kilat, Dongfang Yue menarik Bai Feng Xian ke dalam pelukannya. Tubuh Bai Feng Xian jatuh di atas tubuh Dongfang Yue yang masih berbaring, pinggangnya dipeluk dengan erat oleh tangan Dongfang Yue. Secara otomatis, kepalanya bersandar di dada bidang yang terhalang jubah putih itu.
"A-Xian, mari saling memaafkan diri sendiri. Jangan lagi saling menyakiti."
Air mata Bai Feng Xian seketika tumpah dan dia menyusupkan kepalanya ke dalam pelukan Dongfang Yue. Semua kesakitan lima ratus tahun lalu membayang lagi, tetapi jika dibandingkan dengan pengorbanan Dongfang Yue, rasanya tidak sepadan. Dongfang Yue hampir mati karena dirinya, sangat tidak masuk akal jika Bai Feng Xian tetap bersikap egois.
__ADS_1
"Berikan aku satu kesempatan lagi, A-Xian," ucap Dongfang Yue.
"Jika kau mempertaruhkan nyawa lagi untukku, aku tidak akan memaafkanmu lagi," ujar Bai Feng Xian. Dongfang Yue tersenyum tanpa Bai Feng Xian sadari.
Saat itu, air mata Dongfang Yue juga menetes. Ia mengeratkan pelukannya, tidak ingin lagi melepaskan Bai Feng Xian dari sisinya. Dongfang Yue mencium kepala Bai Feng Xian dengan lembut, tidak membiarkan wanita itu melawan. Atmosfer ruang tidur Istana Tianwu terasa hangat. Ada kesan haru yang tiba-tiba muncul.
Tiba-tiba Dongfang Yue membalikkan posisi mereka dan menekan Bai Feng Xian di bawah tubuhnya. Bai Feng Xian yang terkejut tidak sempat bereaksi, menatap dengan kedipan beberapa kali. Entah mengapa jantungnya bergedup lebih kencang dari biasanya. Wajahnya mulai memerah tatkala Dongfang Yue mendekat.
"Apa yang mau kau lakukan?"
"Bukankah kita harus merayakan ini? Aku harus memberimu tanda bahwa kau adalah milikku," bisik Dongfang Yue di telinga Bai Feng Xian. Seketika bulu kuduk wanita itu merinding.
"A-Rou masih belum sadar, aku harus menemaninya."
"Bukankah sudah ada Fang Jue yang menjaganya untukmu?"
Dongfang Yue menyasar bagian leher Bai Feng Xian, membuat wanita itu kegelian. Pria ini, tidak mungkin akan melakukan itu kan? Dia baru saja selamat dari bahaya, seharusnya mereka memikirkan hal penting lain yang harus dilakukan. Tapi, Dongfang Yue terus bermain-main di lehernya.
"Tu-Tubuhku lemah setelah Cakra Phoenix itu dikeluarkan," ucap Bai Feng Xian dengan harapan Dongfang Yue membatalkan niatnya malam ini. Bagaimanapun, itu sudah lima ratus tahun lalu, dan membayangkan mereka melakukan 'itu' dengan identitas asli membuatnya merinding.
"Tidak apa. Energi dari Cakra Phoenix yang kusalurkan dari tubuhku akan membuatmu pulih."
Dongfang Yue mengangkat wajahnya, lalu mencium Bai Feng Xian. Wanita itu tak kuasa melawan, seakan semua kekuatannya telah hilang dan ia telah menjadi manusia biasa. Dongfang Yue memberinya kenyamanan yang tidak terdefinisikan, menciptakan sensasi dari rasa sakit dan kebahagiaan yang bercampur menjadi satu.
Kabut Istana Tianwu mengembang, menutupi istana itu dari pandangan para abadi, menipu penglihatan prajurit surga. Angin di penghujung musim semi berhembus, menggetarkan Sembilan Langit, sedang Bai Feng Xian dan Dongfang Yue telah tenggelam sangat dalam di lautan asmara. Keduanya bertarung dengan ombak yang bergelora, sampan kecil mereka telah terbalik. Air kehidupan menetes melepaskan dahaga yang tertahan selama lima ratus tahun, menumbuhkan bunga yang indah dan subur.
Di bawah cahaya bulan, dua insan telah menyatukan cinta mereka di peraduan yang agung.
__ADS_1