
Di sinilah mereka berada sekarang.
Bai Feng Xian, Sang Hui, dan A-Rou berdiri di tengah aula Istana Tianwu dengan kepala tertunduk. Ketiga orang itu sekarang menjadi terdakwa penganiayaan burung Ning Sui. Di depan, Dongfang Yue duduk dengan ekspresi yang sedikit tidak senang, tapi dipenuhi kepasrahan.
“Beritahu aku mengapa A-Rou mencabuti semua bulu burung Ning Sui!”
Bai Feng Xian dan Sang Hui saling pandang. Haruskah mereka memberitahu alasan bahwa A-Rou kesal hanya karena burung itu mengibaskan ekornya padanya?
Dengan sifat Dongfang Yue, meskipun dia mempercayainya, rasanya sangat konyol. Jadi, mereka masih diam setelah beberapa menit perintah itu terlontar dari mulut Dongfang Yue.
“Haish, orang dewasa sangat rumit! Paman Kaisar, aku mencabuti bulunya karena burung itu mengibaskan ekornya padaku! Dia sombong dan aku sangat tidak senang!” ucap A-Rou yang kesal karena Bai Feng Xian dan Sang Hui malah diam seribu bahasa.
Dongfang Yue ingin sekali marah, tapi pelakunya adalah putrinya sendiri. Seekor burung Ning Sui tidak seberharga seorang putri. Burung itu memang kesayangannya, namun A-Rou tidak ternilai. Tidak pantas memarahi anak sendiri hanya karena seekor burung spiritual. Dia menahan emosinya, menghela napas panjang dan kembali menatap Sang Hui dan Bai Feng Xian.
“Aku tahu, orang yang selalu baik di matamu hanyalah A-Xian. Kami dari Qingqiu, hanyalah pendatang yang suka melakukan kesalahan dan berbuat onar,” ucap Bai Feng Xian tiba-tiba. Dia merasa, Dongfang Yue marah padanya karena membiarkan A-Rou menganiaya burung kesayangannya.
Perkataannya membuat Dongfang Yue terkejut. “Apa maksudmu?”
“Tian Jun, A-Rou memang bersalah, tapi aku juga bukannya tidak bertanggungjawab. Bulu burung Ning Sui itu sudah kuganti, hanya saja sihirku tidak bertahan lama di tubuhnya.”
“Aku tidak mempermasalahkannya.”
“Kau tidak mempermasalahkannya, tapi wajahmu sangat tidak enak dilihat. Aku tahu orang yang paling baik di matamu, yang tidak pernah melakukan kesalahan, adalah A-Xian, muridmu itu.”
“Tunggu, apa hubungannya dengan A-Xian?”
Raut wajah Bai Feng Xian berubah tidak senang. Dongfang Yue bodoh atau pura-pura tidak mengerti? Bai Feng Xian tidak suka dengan ekspresi Dongfang Yue yang seakan-akan terpaksa menahan emosinya. Ia tahu, orang yang tidak pernah membuat Dongfang Yue hanya A-Xian. Jauh berbeda dengan dirinya dan A-Rou.
“Tian Jun, aku sangat terganggu! Kau membawaku ke tempat-tempat yang menyimpan kenanganmu dengan A-Xian, itu sangat menyebalkan! Jika kau memang sudah menemukannya, maka segera bawa dia kembali! Saat itu tiba, berhentilah menggangguku!”
Dongfang Yue mengernyit. Ia mencium bau kecemburuan pada diri Bai Feng Xian. Diam-diam hatinya senang, ia tertawa dalam hati karena Bai Feng Xian sepertinya cemburu pada dirinya sendiri. Sedari tadi, wanita itu terus mengungkit nama A-Xian dan nada bicaranya sangat tidak senang.
__ADS_1
“Apa gunanya membicarakan orang yang tidak ada di sini?” tanya Dongfang Yue.
“Tentu saja ada! Bagaimana jika dia muncul tiba-tiba? Siapa yang akan kau pilih?”
Dongfang Yue tidak tahan lagi untuk menggoda Bai Feng Xian. Dia menghampirinya, memegang tangannya, lalu membawanya pergi. A-Rou dan Sang Hui masih berada di dalam aula. Keduanya saling pandang, kemudian menghela napas. Dua orang itu, mengapa tiba-tiba pergi tanpa penyelesaian?
“Paman, apa kita ditinggalkan?”
“Sepertinya begitu.”
“Orang dewasa memang sangat rumit.”
“Aku juga merasa itu benar.”
“Paman, kau jangan menjadi dewasa seperti mereka.”
“Mengapa?”
“Nanti kau akan cepat tua.”
Sementara itu, Dongfang Yue membawa Bai Feng Xian ke Paviliun Qian Meitian di belakang Istana Tianwu. Kali ini, mereka tidak perlu menaiki anak tangga yang jumlahnya ratusan. Begitu sampai, Dongfang Yue membawa Bai Feng Xian ke halaman dan menyuruhnya duduk di ayunan. Dongfang Yue berjongkok di hadapannya.
“Kau bertanya siapa yang akan kupilih?”
Bai Feng Xian terdiam. Senyum indah Dongfang Yue terbit.
“Tentu saja aku akan memilihmu.”
Setelah mengatakan itu, tangannya meraih wajah Bai Feng Xian, meraih dagunya, dan langsung mencium bibirnya. Memilih A-Xian atau Bai Feng Xian, karena keduanya adalah satu orang yang sama, memilih siapapun tidak akan berbeda. Dongfang Yue menciumnya dengan lembut, memagutkan bibirnya dengan bibir Bai Feng Xian.
Rasanya hangat. Itu seperti sengatan listrik yang membangkitkan jiwa di tubuh Bai Feng Xian. Dia masih belum bereaksi ketika Dongfang Yue melepaskan ciumannya, menciptakan jarak sempit antara wajahnya dan wajah Bai Feng Xian. Senyumnya merekah.
__ADS_1
“Apa kau puas dengan jawabanku?” tanyanya. Bai Feng Xian terkesiap, sebelum ia menjawabnya, Dongfang Yue sudah menciumnya kembali.
Kali ini, ciuman itu lebih dalam. Lembut, tapi tidak terlalu menuntut. Bai Feng Xian sudah dapat bereaksi. Secara alami, dia mengikuti permainan yang dimulai Dongfang Yue dan mulai membalasnya. Mendapat respon yang diharapkan, Dongfang Yue berteriak sangat keras di dalam hatinya karena bahagia.
Dia bahkan memindahkan tubuhnya ke ayunan, ke samping Bai Feng Xian tanpa melepaskan pagutannya. Ia merindukan momen ini. Lima ratus tahun sudah berlalu, kenangan yang tidak pernah terkikis itu akhirnya kembali pada kenyataan yang asli. Semua mimpi buruk yang dialami Dongfang Yue akhirnya berakhir. Kerinduannya pada sosok ini membuncah.
Sudah lima ratus tahun ia menunggu dan mencari. Meskipun Dongfang Yue belum mampu menjelaskan semuanya, meskipun ia belum tahu bagaimana respon Bai Feng Xian nanti, yang ia inginkan saat ini hanyalah momen bahagia ini. Walau hanya sesaat, setidaknya ia bisa menyatukan lagi hatinya dengan A-Xian, yang kini datang padanya dengan identitas Bai Feng Xian, Dewi Agung Qingqiu.
Keduanya hampir kehabisan napas. Bai Feng Xian melepas pagutan di bibirnya, menatap Dongfang Yue dalam-dalam. Hembusan napasnya terdengar memburu, degupan di jantungnya seperti gendang yang ditabuh bertalu-talu. Perlahan, rona wajahnya memerah.
“Apa kau sungguh-sungguh?” tanya Bai Feng Xian. Dongfang Yue tersenyum, lalu memeluknya dengan erat.
“Aku tidak pernah bermain-main dengan perkataanku.”
“Bagaimana jika muridmu benar-benar masih hidup dan datang kemari? Apa kau akan meninggalkanku?”
“Tidak akan.”
“Kau janji?”
“Aku janji.”
“Lalu, mengapa raut wajahmu sangat jelek tadi?”
“Itu karena kau menggunakan bulu rubahmu untuk mengganti bulu Ning Sui. Kau tidak perlu menyia-nyiakan kekuatanmu untuk menggantinya.”
“Tapi itu hanya setara lima ratus tahun penempaan spiritual.”
“Satu hari penempaan spiritual pun, tidak boleh kau gunakan untuk menggantinya!”
Inikah jawaban yang Bai Feng Xian inginkan? Dia pergi jauh-jauh ke Istana Langit, menempuh perjalanan panjang dari Danau Cermin hanya untuk mendengar sebuah jawaban? Ketika Bai Feng Xian mengingatnya lagi, dan mengingat sikap serta perkataannya di aula Istana Tianwu tadi, dia merasa dirinya sangat konyol dan kekanak-kanakan.
__ADS_1
Ternyata ketika berbicara masalah hati, iblis atau dewa, semuanya berada dalam posisi yang sama. Dewa-Dewi Agung atau siluman, manusia fana atau abadi, tidak bisa melepaskan diri dari sesuatu yang bernama cinta. Hanya saja, akhir yang mereka terima bergantung pada pilihan yang mereka ambil.
Dan hari ini, Bai Feng Xian telah memutuskan untuk menyandarkan hatinya pada pelabuhan hati Dongfang Yue, yang sejak delapan ratus tahun lalu telah terikat dengannya.