Api Cinta Sang Dewi Agung

Api Cinta Sang Dewi Agung
Eps. 15: Kepindahan A-Rou


__ADS_3

Sebagai Dewa Perang pertama semesta yang masih hidup, Ming Ye terlalu elegan dan gelar itu tidak begitu cocok untuknya. Ming Ye adalah naga pertama yang lahir setelah semesta terbentuk.


Ia lahir bersama Kaisar Xuan Yi, yang merupakan putra dari Dewa Leluhur. Ming Ye menempa kekuatan spiritualnya bersama Kaisar Xuan Yi di bawah bimbingan langsung Dewa Leluhur.


Ketika terjadi perang besar ratusan ribu tahun lalu, Ming Ye ditunjuk sebagai Dewa Perang dan dipercaya memimpin lebih dari seratus ribu pasukan langit.


Dewa Leluhur yang telah kembali ke kehampaan memberkatinya dengan kekuatan besar, membuat Kerajaan Langit unggul dalam perang dan menjadi pemimpin Empat Lautan dan Lima Daratan.


Dia bisa menikmati kemuliaan sebagai Dewa Perang Prasejarah yang legendaris, hidup dengan kemuliaan di Kerajaan Langit. Namun entah mengapa, seusai perang, ia menyerahkan pasukannya kepada Kaisar Xuan Yi.


Ming Ye berkata dunia tidak lagi memerlukannya. Ia memilih mundur dari urusan kerajaan dan hidup menyendiri di Danau Cermin, yang menjadi tempat penempaan spiritualnya selama ratusan ribu tahun.


Dia satu-satunya Dewa Agung yang menerima ajaran Dewa Leluhur yang masih hidup. Orang kerap mengunjunginya dalam beberapa tahun setelah ia pensiun, kemudian tidak lagi setelah Ming Ye mengusir mereka.


Ia bilang, ia butuh ketenangan dan tidak lagi menaruh minat pada urusan dunia.


Danau Cermin berdekatan dengan Qingqiu, dan Ming Ye mendapatkan seorang teman, Dewa Rubah pertama yang menjadi leluhur keluarga Bai.


Leluhur itu menitipkan keturunannya pada Ming Ye, dan setelah ia berevolusi dan hilang, Ming Ye melanjutkan hubungan baiknya dengan Qingqiu sampai sekarang.


Jika dipikir-pikir, usianya sudah lebih dari lima ratus ribu tahun. Naga tua itu selalu menyendiri, tidak suka urusan duniawi, dia tidak lebih dari Dewa Agung yang menganggur.


Dia tidak punya kekasih, tidak ingin menikah, atau punya anak. Hobinya hanya duduk dan bersenang-senang di Danau Cermin.


Bai Feng Xian menganggapnya sebagai keluarga sendiri, dan itu sebabnya ia lebih suka tinggal di Danau Cermin dibanding Istana Qingyun.


Tidak ada yang istimewa darinya sebenarnya selain penempaan spiritualnya yang tinggi dan kemampuannya memahami cara kerja dunia. Ming Ye bisa mengetahui segala hal di Empat Lautan dan Tiga Daratan, tetapi tidak pernah berniat membicarakannya.


Menurutnya, biar dewa-dewi generasi muda yang menyelesaikannya.


“Dasar pemalas! Gadis kecil Qingqiu, apa kau sudah tidak menginginkannya lagi?”


Ming Ye berkata sambil menggelengkan kepalanya, menatap dengan penuh heran pada Bai Feng Xian yang berbaring di atas ranting pohon.


Air di Danau Cermin beriak, memantulkan cahaya perak yang menembus mata dewa Bai Feng Xian. Bai Feng Xian mengibaskan jubahnya, lalu melompat turun, mendarat di depan meja kecil Ming Ye.


“Burung menyebalkan itu membuatku terperangkap di Gunung Yanqi. Sekarang dia sekarat dan dikirim ke Alam Fana.”

__ADS_1


“Oh? Lalu, apa Dongfang Yue tidak melakukan apapun padamu?”


“Tidak. Kenapa? Apa kalian berharap dia melakukan sesuatu padaku?”


“Kalian?”


“Ji Meng pernah menanyakan hal yang sama padaku beberapa waktu lalu.”


Dia melompat kembali ke atas pohon. Segelas anggur persik yang difermentasi dan ditanam di dalam tanah ribuan tahun menggelesar memanaskan kerongkongan Bai Feng Xian.


Anggur ini sangat manis dan aroma persiknya begitu terasa. Ming Ye mengalihkan sedikit pandangan dengan rasa penyesalan karena telah bertanya.


Dia, sebagai Dewa Agung generasi prasejarah tidak mungkin tidak tahu siapa ayah dari A-Rou. Ming Ye tampak tidak peduli, dan dia berpura-pura tidak tahu apa-apa ketika ia tahu maksud Ji Meng menanyakan itu pada Bai Feng Xian.


Ming Ye tidak berniat mencampuri urusan hati Bai Feng Xian, karena ia tahu itulah yang paling menyakitkan ketika ingatannya kemungkinan bangkit suatu saat.


“Yo, kalian berdua minum anggur tanpa mengajakku?”


Suara itu berdengung di telinga Bai Feng Xian dan ketika ia menoleh, ia melihat Ji Meng datang menuntun tangan kecil A-Rou.


Oh, aura anak kecil itu begitu istimewa sampai Bai Feng Xian tanpa sadar telah terpikat. Ia turun dari cabang pohon persik, mendarat di atas hamparan kelopak persik yang jatuh di tepian Danau Cermin. A-Rou begitu menggemaskan, ia memiliki pipi yang mengembung dan kulitnya sangat lembut.


Bai Feng Xian menatap penuh curiga pada Ji Meng. Si tua penguasa Arus Dunia Bawah ini mempunyai maksud lain dari kedatangannya.


Qingqiu berada di dekat Danau Cermin, dan jika dia hanya ingin berkunjung, seharusnya Istana Qingyun menjadi tujuan utamanya. Selain itu, Ji Meng tidak pernah mengunjungi Qingqiu dengan sengaja jika bukan ayah dan ibunya yang mengundangnya ke sana.


“Kau ingin menitipkan murid kecilmu padaku?” tanya Bai Feng Xian tiba-tiba.


Mengetahui bahwa maksud hatinya telah diketahui, Ji Meng hanya mengangguk ringan dan wajahnya dipenuhi senyuman licik. Menjijikan!


“Bukankah sudah kukatakan jika aku tidak tertarik mengangkat seorang murid?”


“Qingqiu adalah tempat tinggal Klan Rubah. Seperti katamu, wujud asli A-Rou adalah rubah putih berekor tujuh. Mungkin, ia bisa menjadi dewa lebih cepat jika tinggal di lingkungan yang sesuai dengan keberadaannya.”


Keengganan menerima seorang murid sebetulnya bukan datang dari hatinya. Bai Feng Xian hanya merasa jika dirinya terlalu muda untuk menjadi seorang guru.


A-Rou memiliki kekuatan dewa yang besar, seorang Dewi Agung muda sepertinya tidak akan mampu melatihnya dengan baik. Apalagi, Bai Feng Xian masih suka bepergian jauh seorang diri, bermain dan menjelajah dunia sambil melatih kekuatannya. Ia belum bisa menjadi seseorang yang serius.

__ADS_1


“Bibi, kau tidak mau menerimaku? Guru sudah terlalu tua. Aku perlu seseorang yang masih muda untuk melatihku.”


A-Rou menarik jubah putih Bai Feng Xian, menengadahkan kepala dan menatap sosok itu penuh harapan. Matanya yang berbinar membuat Bai Feng Xian luluh.


Ia paling tidak bisa menolak anak kecil. Apalagi A-Rou begitu menggemaskan. Lumut hijau itu membuat hatinya meleleh.


Tawa kecil terdengar. Bai Feng Xian cukup senang saar A-Rou menyebut kata ‘tua’ kepada Ji Meng, karena memang begitulah kenyataannya.


Selain dia, mungkin hanya murid kecilnya ini yang berani memanggil seorang Dewa Agung penguasa Dunia Arus Bawah sebagai ‘orang yang sudah tua’.


“Haha. Baiklah, kau boleh tinggal di Qingqiu. Tetapi, aku tidak akan menerimamu sebagai murid. Kau cukup berlatih sebanyak yang kau inginkan.”


Binar di mata A-Rou memendar kembali. “Guru, sekarang aku bisa mencari seorang teman!”


Ji Meng menyunggingkan senyum kecilnya. Di Empat Lautan dan Tiga Daratan, hanya sedikit orang yang bisa membuatnya tersenyum. Sekarang, ia akan menyerahkan anak dewa berusia lima ratus tahun ini kepada Bai Feng Xian, dan ia akan segera kembali ke Dunia Arus Bawah untuk meneruskan pelatihannya.


“Bawa dia ke Qingqiu untuk mengenal rumah barunya,” ucap Ming Ye.


Bai Feng Xian menggaet tangan kecil A-Rou, memanggil awan keberuntungannya dan membawanya naik. Kemudian, keduanya melesat meninggalkan Danau Cermin yang tampak keperakan di bawah sinar matahari.


Ming Ye dan Ji Meng menatap kepergian mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan.


“Kau pasti sudah lama tahu, bukan?” tanya Ji Meng.


“Maksudmu?”


“Perihal siapa yang telah memberi A-Rou setengah kekuatan langit.”


“Ah, tidak juga. Aku mengetahuinya setelah aku membantu Bai Feng Xian melahirkannya.”


Ji Meng menatap tak percaya. Dia mendecih kecil.


“Tidak heran dia memanggilmu naga tua yang picik!”


“Aku hanya tidak ingin membangkitkan kembali ingatan lamanya.”


“Maksudmu, suatu saat ingatannya bisa bangkit?”

__ADS_1


“Tidak ada yang tidak mungkin.”


Dua Dewa Agung tua itu, hanya saling menghela napasnya.


__ADS_2