Api Cinta Sang Dewi Agung

Api Cinta Sang Dewi Agung
Eps. 39: Tidak Boleh Memaksakan Diri!


__ADS_3

Meskipun Dongfang Yue sangat berharap Bai Feng Xian menemukan kembali ingatan yang dilupakannya lima ratus tahun lalu, tapi melihatnya kesakitan akibat serangan ingatan yang datang tiba-tiba membuatnya tidak tega. Lebih baik Bai Feng Xian tidak mengingatnya daripada ia harus menyaksikan wanita itu kesakitan seperti tadi.


“Tian Jun! Kau tidak boleh membawa wanita lain ke sini! Dia bukan majikan, dia tidak boleh ada di sini!”


Xiao Huan yang dibangunkan secara paksa merajuk dan marah. Bai Feng Xian bukan majikannya, wanita itu tidak boleh menginjakkan kakinya di paviliun ini bahkan jika Dongfang Yue menyukainya. Seumur hidup, Xiao Huan hanya punya satu majikan: A-Xian dan itu tidak akan berubah.


“Dia bukan orang lain,” balas Dongfang Yue.


Saat ini, Bai Feng Xian tengah tertidur di ranjangnya. Dongfang Yue sengaja mengalirkan sihir padanya agar ia bisa beristirahat. Napas Bai Feng Xian sudah kembali tenang, keringat di dahinya sudah berhenti mengalir. Dongfang Yue dengan telaten mengelapnya dengan kain basah dan membersihkan kulit luar tubuhnya.


Xiao Huan mendengus, “Dia bukan majikan!”


“Xiao Huan, buatkan bubur untuknya.”


Xiao Huan mendengus lagi, ingin menolak tapi ia tahu konsekuensi yang akan dihadapinya jika melawan. Mendebat Kaisar Langit saja sudah sebuah pelanggaran. Dongfang Yue sudah bermurah hati tidak mempermasalahkannya karena ia hanya roh bunga dan membiarkannya tetap tinggal di paviliun ini sepanjang waktu. Xiao Huan, walau tidak rela, tetap pergi membuatkan bubur.


“Berhenti… jangan datang lagi….”


“A-Xian, tenanglah.”


“Berhenti… jangan datang lagi…”


Dalam tidurnya, Bai Feng Xian dihantui oleh ingatan itu. Sosok A-Xian, yang kini bisa ia lihat dengan jelas berdiri di depannya. Wajahnya, postur tubuhnya, suaranya, semuanya sama persis dengan dirinya. Hanya saja makhluk abadinya lebih lemah dan sihirnya tidak tinggi. A-Xian, seperti sebuah cermin Bai Feng Xian.


Bai Feng Xian dibawa ke suatu masa ketika A-Xian masih hidup. Paviliun di belakang Istana Tianwu yang ia pijaki berada dalam gambaran.


Kali ini, Bai Feng Xian benar-benar melihat dengan jelas adegan demi adegan itu. Dongfang Yue yang tersenyum saat semua orang ketakutan akibat ekspresi dinginnya, suaranya yang lembut dan penuh kasih setiap kali bicara, semuanya, tergambar dengan jelas.


Mereka, A-Xian dan Dongfang Yue menjalani rutinitasnya, tanpa menyadari kehadiran Bai Feng Xian. Sepertinya, ini adalah ilusi mengenai ingatan yang tersimpan selama ratusan tahun. Alam ini menariknya seperti medan magnet. Bai Feng Xian berdiri dalam diam, menyaksikan mereka dari dekat.

__ADS_1


Dapat dilihat bahwa Dongfang Yue bukanlah orang yang benar-benar kejam, dingin, dan tidak tersentuh seperti yang ada di pikiran orang-orang. Hanya saja, ia menunjukkan sisi lembutnya dan sisi dirinya yang lain di hadapan orang-orang yang dikasihinya. Sikap ini memang sangat sesuai dengan deskripsi seorang Kaisar Langit dari generasi ke generasi.


Kemudian, Bai Feng Xian dibawa ke ilusi pada saat-saat terakhir sebelum A-Xian melompat ke Sumur Pembunuh Dewa. Di Aula Tianfa, dia melihat A-Xian dihukum dengan keras, diserang puluhan guntur langit sampai tubuhnya remuk redam. Darah segar mengalir dari mulut dan luka-lukanya, sementara orang yang membuatnya menanggung kesalahan yang tidak pernah dilakukan itu berdiri dengan senyuman di altar.


Kejadian itu berulang kedua kalinya sejak Bai Feng Xian melihatnya di Cermin Api. Rasa sakitnya ikut menjalar, seolah-olah A-Xian adalah cermin dirinya yang terhubung dengannya. Rasanya begitu berbeda dengan saat itu. Di sini, Bai Feng Xian seperti melihat dirinya sendiri ada dalam posisi itu.


“A-Xian, segala sesuatunya harus impas. Kamu mengambil matanya, maka aku akan mengambil matamu.”


“Guru, aku tidak akan pernah bertanggungjawab atas sesuatu yang tidak pernah kulakukan. Jika menurutmu sesuatu harus dibayar dengan impas, maka biarkan aku, muridmu ini, membayar semua budi baikmu dengan harga yang mahal.”


Bai Feng Xian melihat itu, melihat tatapan penuh kecewa disertai rasa sakit yang tidak terhingga. A-Xian, bahkan sampai saat terakhirnya tidak pernah menyerah pada takdir dan memilih menentukan takdirnya sendiri. Ketika sosok A-Xian hendak melompat, Bai Feng Xian seketika berteriak, “Tidak! Jangan melompat!”


Itu sukses menarik Bai Feng Xian kembali dari mimpi. Dia terbangun dengan keringat mengucur di tubuhnya, sementara Dongfang Yue duduk di tepi ranjang dengan panik. Dia memegang erat tangannya, mencoba menenangkannya kembali. Bai Feng Xian menatapnya, ia hampir saja menangis!


“Dia… dia melompat ke dalam sana… Dia, pasti sangat kesakitan, kan?” gumam Bai Feng Xian. Hati Dongfang Yue dipilin, ia merasa ditusuk dengan belati yang sangat tajam.


“Yingzhao, kau harus menghukum Yingzhao, Tian Jun!”


Baru kali ini Bai Feng Xian bersimpati terhadap nasib tragis seseorang. Mungkin karena wajahnya sama, ia memiliki semacam hubungan yang tidak terdefinisikan. Ia ikut merasakan sakit, seolah-olah kejadian itu dialami olehnya sendiri. Dongfang Yue menatapnya dalam-dalam, hatinya berkecamuk.


“Kau tidak menyalahkanku?” tanya Dongfang Yue.


“Jika aku adalah A-Xian, aku bukan hanya akan menyalahkanmu, tapi memutuskan sebuah akhir atas segala macam hubungan itu,” ucap Bai Feng Xian pelan. Entah mengapa, rasanya ada kemarahan ikut membara bersama kejadian itu. “Tapi, itu bukan aku, kan? Ingatan itu datang padaku hanya karena aku memasuki tempat ini tanpa izin.”


Meskipun sinar matanya meredup dan ia sedikit tertekan, Dongfang Yue tetap memaksakan sebuah senyuman dan mempersembahkannya pada Bai Feng Xian. “Kau tidak boleh memaksakan diri untuk mengingat dan menerima semua ingatan itu.”


“Ayo, aku akan membawamu berkeliling.”


Perasaan Bai Feng Xian sudah jauh lebih baik setelah beberapa saat berkeliling di sekitar paviliun. Ternyata, selain yang terlihat, paviliun ini masih memiliki kawasan yang terpisah oleh lapisan dimensi sihir. Melihat bahwa suasana hati Bai Feng Xian berangsur-angsur membaik, dia membawanya duduk di ayunan.

__ADS_1


“Tempat ini adalah Paviliun Qian Meitian. Aku membangunnya tujuh ratus tahun lalu dan menutupnya lima ratus tahun lalu setelah kejadian itu,” ucap Dongfang Yue, sembari mengenang masa lalu.


“Apa kabut tebal itu adalah semacam penghalang?”


“Istana Tianwu pada dasarnya telah dilindungi formasi. Kabut tebal itu hanya sebuah pengalih pandangan, karena mereka tidak akan pernah bisa melihat Paviliun Qian Meitian meskipun mereka menginginkannya.”


“Itu artinya, kau sudah mengosongkan tempat ini selama lima ratus tahun. Kau tidak marah karena aku masuk kemari tanpa seizinmu?”


“Tempat ini adalah milikmu. Kau boleh kemari kapanpun kau mau.”


“Tidak, tidak. Aku tidak akan datang lagi. Aku tidak mau repot menghadapi roh bunga yang pemarah itu.”


Dongfang Yue hanya tertawa. Yah, Xiao Huan memang pemarah, dan dia jadi lebih pemarah setelah kejadian itu. Lima ratus tahun ini, Dongfang Yue juga tidak pernah mengganggunya lagi dan hanya menyuruhnya untuk menjaga tempat ini, membersihkan debu dan merawat semua yang ada di sini sampai waktu yang tidak disebutkan.


“Baiklah. Kau sudah lama tinggal di Istana Langit, apa kau sudah mulai terbiasa?” tanya Dongfang Yue.


“Sama sekali tidak. Orang-orang Kerajaan Langit memang menarik, tapi aku lebih menyukai tempat asalku.”


“Begitu rupanya. Aku akan mengantarmu kembali ke Gunung Xi hari ini, jadi bersiaplah.”


“Tidak perlu bersiap, aku tidak membawa apapun saat datang dan tidak akan membawa apapun juga saat pulang.”


“Baiklah jika itu keinginanmu.”


Dongfang Yue dan Bai Feng Xian segera meninggalkan Paviliun Qian Meitian untuk kembali ke Gunung Xi. Beberapa saat setelah mereka pergi, Xiao Huan datang membawa semangkuk bubur yang masih panas. Melihat bahwa dua orang itu telah pergi, ia seketika mendengus kasar dan menggerutu.


“Dasar Dewa! Kalian selalu datang dan pergi sesuka hati!”


Xiao Huan langsung memakan buburnya dengan emosi.

__ADS_1


__ADS_2