
Ji Meng tidak bisa menghentikan pertemuan itu. Jika memang itu adalah takdir, maka akan sia-sia menghalanginya.
Sekarang sudah terlambat untuk meminta bantuan. Dongfang Yue dan Bai Feng Xian sudah saling bertegur sapa, menyisakan A-Rou yang masih asyik membakar ikannya.
“Kita bertemu lagi, Dewi Agung.”
Bai Feng Xian sungguh tidak beruntung. Ia hanya ingin singgah dan pergi dengan damai.
Tanpa gangguan dewa-dewi dari Kerajaan Langit, terutama dari Dongfang Yue. Kejadian terakhir kali sudah cukup mengusiknya dan ia tidak ingin mengalaminya lagi.
“Untuk apa kau kemari? Apa kau juga ingin membakar ikan-ikan ini? Jika memang benar, sebaiknya kau kembali dan bakar ikanmu sendiri bersama adikmu itu.”
Sampai saat ini, Bai Feng Xian masih tidak senang akan gangguan yang ditimbulkan oleh Sang Hui. Kakak beradik itu kompak membuatnya menjadi pusat perhatian di gerbang Istana Tianwu.
Hidup Bai Feng Xian yang didominasi kesendirian dan kesepian membuatnya sulit menerima perlakuan dari beberapa orang, terutama orang luar. Singkatnya, dia benci menjadi pusat perhatian.
Dongfang Yue dapat membaca suasana hati wanita itu. Ia melambai dengan lembut, membalikkan tangan dan sebuah kotak putih dari giok muncul.
“Sang Hui telah menyinggungmu. Aku mewakilinya untuk meminta maaf padamu.”
Apa Bai Feng Xian sedang bermimpi? Kaisar Langit yang terhormat meminta maaf pada seorang dewi dari Qingqiu atas perbuatan adiknya?
Ini sulit dipercaya. Bai Feng Xian dengar, Kaisar Langit Dongfang Yue adalah orang yang paling sulit mengucapkan dua kata: maaf dan terima kasih.
Dia berdiri di atas takhta Empat Lautan dan Tiga Daratan selama ribuan tahun, membuat semua orang memandang tinggi dan penuh hormat padanya.
Jika hal ini tersebar hingga ke Empat Lautan dan Tiga Daratan, bukankah Qingqiu berada dalam masalah?
Orang itu, Selir Langit Yingzhao, tidak akan terima jika tahu kabar ini. Wanita yang tinggi hati dan merasa diri paling dihormati itu tidak akan diam melihat suami kesayangannya membungkukkan badan dan meminta maaf pada seorang dewi, meskipun dewi itu adalah Dewi Agung.
"Aku tidak berani menerima hadiah permintaan maaf dari seseorang seperti Kaisar Langit. Mohon Tian Jun menyimpannya kembali."
Bai Feng Xian melambaikan tangannya menolak hadiah itu. Dia bilang Qingqiu tidak sanggup menerima anugerah berupa permintaan maaf dari Kaisar Langit.
Dongfang Yue yang biasanya berwajah dingin menyunggingkan seulas senyum tipis. Kotak hadiah itu ia simpan lagi.
__ADS_1
“Karena kau tidak berani menerimanya, aku akan pergi meminta maaf secara langsung pada Kaisar Bai Yin. Kebetulan, Kerajaan Langit juga harus menjelaskan mengenai fitnah yang kau terima dari Selir Langit.”
Sejak kecil, Bai Feng Xian diajarkan untuk tidak menerima penghormatan berlebihan dari orang lain. Ayahnya, Kaisar Bai Yin sangat ketat terhadapnya.
Bai Feng Xian diberikan pengajaran bahwa meskipun ia adalah Dewi Agung dan putri dari Qingqiu, dia tidak boleh memandang dirinya terlalu tinggi.
Dongfang Yue adalah Kaisar Langit, penguasa Empat Lautan dan Tiga Daratan. Meskipun anggota keluarganya bersalah kepadanya, bukan kewajibannya untuk mewakili mereka meminta maaf.
Dongfang Yue membuatnya berada dalam kesulitan dan dilema yang panjang.
“Tidak. Aku akan menerimanya. Kau tidak perlu repot pergi ke Qingqiu.”
Dongfang Yue cukup pandai menjebak. Putri dari Kaisar Bai Yin ini sebetulnya cukup menarik. Dia tidak suka menjadi objek perhatian, sedikit perhitungan namun tidak sadar jika dirinya jatuh ke dalam jebakan.
Dongfang Yue sengaja menarik ulur dan mempermainkannya, mencoba melihat apakah wanita ini bisa bertahan dengan keanggunan dan kearogannanya atau tidak.
Dia mengagumi pengajaran Kaisar Bai Yin pada Bai Feng Xian. Sekarang, Dongfang Yue dapat melihat jelas jika Bai Feng Xian sebetulnya murah hati, hanya saja cara berperilakunya tidak dapat disepadankan dengan sifat aslinya.
Dongfang Yue mengeluarkan kembali kotak hadiahnya dan itu diterima dengan terpaksa oleh Bai Feng Xian.
Mereka bicara cukup lama hanya untuk masalah hadiah permintaan maaf.
Jadi, dia menarik pakaian Bai Feng Xian dan berkata padanya dengan suara yang kecil: “Bibi Dewi, ikanku sudah hampir busuk. Apa kau masih ingin membantuku membakarnya?”
“Paman Kaisar, apa kau juga ingin membantuku? Guru bilang, abadi harus bermurah hati dan baik hati.”
“A-Rou, tidak boleh tidak sopan!” tegur Ji Meng.
Betapa menyedihkannya itu. Ketiga orang itu: Bai Feng Xian, Dongfang Yue, Huirou, terhubung oleh takdir.
Lima ratus tahun lalu sebuah kisah menyedihkan terjalin di antara Bai Feng Xian dan Dongfang Yue, hingga kisah itu harus berakhir tragis dan menyisakan seorang anak dewa yang terpaksa disembunyikan.
Dongfang Yue dan Bai Feng Xian bahkan tidak tahu bahwa anak dewa yang berada di hadapan mereka adalah putra mereka sendiri.
A-Rou sedikit mengerucutkan bibir dan melepaskan genggamannya dari rok Bai Feng Xian. Dia kembali mengipasi tungku api yang sebetulnya sudah menyala dengan bara yang panas.
__ADS_1
Api di Alam Langit berbeda dengan api di dunia fana. Bara yang terlihat kecil ini mungkin bisa saja membakar habis sebuah gunung jika serpihannya jatuh ke bumi.
“Baiklah. Kalau begitu, Guru, bakarkan ikan untukku!”
Ji Meng kini mulai bertanya-tanya sebenarnya mengapa saat itu dia menerima permintaan Ming Ye untuk membantu Bai Feng Xian terbebas dari penderitaannya?
Ji Meng sudah membesarkan A-Rou selama lima ratus tahun, usianya setara dengan anak manusia berusia lima tahun. Selama lima ratus tahun itu, Ji Meng sekalipun tidak pernah tidak disusahkan olehnya.
Sifat A-Rou lebih mirip seperti sifat Bai Feng Xian ketika kecil. Karena Ji Meng dan Ming Ye adalah Dewa Agung prasejarah yang masih hidup, mereka menyaksikan sendiri bagaimana wanita ini berkembang dari bayi rubah menjadi seorang wanita dewasa yang cantik.
Kekuatan sihirnya tidak terkalahkan, namun sifatnya justru berkebalikan dengan sifat wanita lain.
Bai Feng Xian ceria dan periang, tampak penurut di
permukaan namun sebetulnya ia adalah pembuat masalah. Hanya karena ia berada dalam lindungan Ming Ye dan Qingqiu, wanita ini tumbuh jadi gadis yang nakal.
Saat usianya lima belas ribu tahun, Bai Feng Xian pernah membuat dewa penguasa gunung sebelah murka karena ikan-ikan di danaunya habis dijaring Bai Feng Xian.
Sifat itu menurun pada A-Rou, meski mereka dibesarkan dengan status dan cara yang berbeda. A-Rou memiliki kekuatan dewa Kaisar Langit dan Dewi Agung, tapi sifatnya sulit diatur.
Saat tidak ada orang, ia cenderung menjadi anak yang pembangkang. Pengajarannya bagus, tapi sulit untuk diatur.
Ji Meng menggendong A-Rou dan mengangkatnya, menjauh dari tungku api.
Dongfang Yue memperhatikan anak itu dengan mata langitnya, ia menangkap sebuah aura yang familiar. Aura ini… Mengapa terasa seperti miliknya?
Mata A-Rou sipit seperti biji almond. Dia tidak memiliki warna hitam di matanya, melainkan sebuah warna yang mewakili Kerajaan Langit: biru.
Raja-raja di Empat Lautan diturunkan dari Kerajaan Langit, dan hanya keturunan mereka yang dapat memiliki mata semurni dan sebening kristal tersebut.
Anehnya, Dongfang Yue tidak dapat mengenali bentuk tubuh asli dari anak kecil ini dalam sekejap. Apakah ia seekor burung phoenix, naga, bunga, atau rubah, sulit mengidentifikasinya.
Itu seperti sebuah tabir gaib membatasinya, menghalangi pandangan Dongfang Yue meski ia menggunakan mata langitnya.
“Aku akan membawa muridku untuk diajari. Kalian bisa melanjutkan pembicaraan kalian.”
__ADS_1
Pada saat Ji Meng hendak membawa A-Rou menjauh dari halaman belakang, Dongfang Yue tiba-tiba menghentikannya dengan pertanyaan yang membuat Ji Meng seketika dilanda kecemasan.
“Dari mana anak kecil ini berasal?”